Michael masih tidak mengalihkan pandangannya. Semakin ia melihatnya lebih dalam dan fokus, semakin terlihat jelas ada sesuatu dari monitor tersebut.
"Tunggu, aku lihat sesuatu di monitor itu. Kecil dan warnanya berubah-ubah secara sengaja. Dan kelihatannya itu..." Michael terbelalak. "...itu timer penghitung mundur."
Dari pantulan monitor itu, Michael dapat melihat dengan jelas sebuah cahaya dan transparansi yang tipis menunjukkan angka 19:23:57. Hitungannya terus menerus mundur.
Michael langsung bergegas dengan tergesa-gesa mengambil sarung tangannya yang menggantung. Pandangan mata Raden tak lepas mengikuti langkah kaki Michael. Dirinya terbelalak dengan mulut yang menganga.
"Michael, memangnya ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba jadi panik begitu?"
Sambil mengenakan sarung tangan latex-nya, Michael berkata, "Aku harus segera pergi. Kalau tidak..."
Raden mengerutkan keningnya.
"Kalau tidak, kenapa?"
"Gedung ini akan meledak."
Raden menggigit jemari dia begitu mendengarnya. Michael keluar dari pintu kerja ruangan Mora. Pintu tersebut tertutup otomatis.
Michael berlari menuju lift gedung. Setelah memasuki lift, dia cepat-cepat menekan tombol liftnya ke lantai tiga. Sesampainya di lantai tiga, tepat ketika pintu lift terbuka, ia berlari ke pintu kamar Mora.
Michael menggedor-gedor pintu tersebut hingga bunyinya yang lantang terdengar oleh Mora dari dalam kamar.
"Mora, Mora! Timernya terus berjalan, kita harus gerak cepet!"
"Bodo amat! Kalau gedung ini meledak, ya sudah meledak aja!" sahut Mora dari balik pintu kamarnya.
Tangan Michael berhenti menggedor-gedor pintu kamar Mora. Ia menyenderkan kepalanya ke pintu tersebut. Giginya bergetar. Ia menelan ludahnya.
"Aku mengaku aku salah karena gak beritahu kamu soal hubunganku dengan April. Maaf... aku cuman-"
"Cuman?! Kau suka April aja itu sudah salah! Aku gak setuju kalau nantinya kau pacaran dengan April. Aku gak mau ada hubungan romantis antara sahabat dan keluargaku. Kau tahu 'kan kalau sudah rumit begini perbaikinya susah lagi?"
Untuk beberapa menit, Michael tertegun diam tanpa sepatah kata.
"Memangnya salah ya, punya perasaan dengan orang yang benar-benar tulus dengan kita?" kata Michael dengan pelan.
Mora termenganga mendengarnya. Ia tertegun dan termenung tanpa ada satu buah kata yang keluar lagi dari mulutnya.
Suasana tiba-tiba hening untuk beberapa saat. Michael membalikkan tubuhnya. Ia duduk terdiam sambil melihat burung-burung yang menghiasi langit sore. Mereka berkicau seperti ingin membawa suatu kabar yang ingin disampaikan kepada Michael. Udara angin di sore hari menembus pakaian mereka berdua. Arahnya menggelebuk, hingga membuat bulukuduk dari tubuh mereka terangkat setengah. Sorot terik senja dari arah timur membuat sebagian tubuh mereka termakan oleh sinar oranye yang siap bertransisi menjadi hitam pekat di langit Spectre City.
Michael berdiri tegak.
"Aku bakalan tetap pergi kesana. Entah apa yang terjadi nanti padaku, biarkan aku yang menanggung semua resikonya. Maaf kalau perasaanku tidak sesuai ekspektasimu, adikku."
Michael berjalan meninggalkan pintu kamar Mora. Ia memasuki lift, lalu pergi ke lantai paling bawah. Dirinya berjalan sendirian keluar dari gedung markas Indi(e)go.
Michael berjalan di trotoar dengan perasaan hati yang masih terguncang. Dirinya menghela napas dengan berat. Sambil berjalan, dirinya menatap kanan kiri di setiap sisi kota. Lampu-lampu neon biru menyoroti seperempat kepalanya ketika berjalan. Toko-toko mulai mengunci pintu masuknya dengan rapat-rapat. Sedikit sekali orang-orang yang ia temukan berjalan kaki di trotoar kota ini.
Yang ia lihat hanyalah mobil-mobil yang berlalu lalang dengan cepat, serta motor-motor tanpa roda yang melesat hingga membuat rambutnya terkibas ke atas untuk beberapa detik.
Michael mengambil sebatang rokok dari saku kanan bajunya. Kemudian, Michael mendekat kepada seorang pria tua bertubuh kecil, berkulit hitam, sedang duduk di sebuah kursi kayu disertai meja kecil di hadapannya. Tangan kanannya memegang batang rokok dengan rileks sambil melihat langit malam.
"Kau punya korek gas, pak?"
Tanpa keluar sepetah kata, pria tua itu langsung menyodorkan sebuah korek gas pada Michael melalui mejanya. Michael menganbil korek gas tersebut, kemudian ia langsung menyulut rokok yang dipegangnya. Selesai menyulut rokok tersebut, Michael menyodorkan kembali rokok gas tersebut pada si pria tua.
"Kenapa anak muda? Kau tampak seperti manusia yang tidak punya gairah hidup. Ada apa?" tanya si pria tua selesai menyebat rokoknya.
Michael menghembuskan napasnya yang dipenuhi asap rokok.