Begitu sampai ke bagian perut Michael, handheld metal detector itu tiba-tiba berbunyi dengan keras. Kedua pria berotot itu langsung menatap tajam pada wajah Michael.
Michael terbelalak melihat kedua pria berotot itu menatapi wajahnya dengan tatapa tajam. Ia mengangkat sedikit bajunya ke atas.
"Maaf, sepertinya ini gara-gara sabuk yang kupakai," ucap Michael.
Pria berotot itu pun menggeser bola matanya dari arah sabuk Michael ke arah kana secara berkali-kali. Michael pun melepaskan sabuk yang dikenakannya pelan-pelan. Setelah itu, salah satu pria berotot mengambil kartu yang dipegang Michael di tangan kanannya.
Pria berotot itu menilik-nilik setiap sis dari kartu itu ke berbagai arah cahaya. Begitu selesai, ia menyerahkan kartu itu kembali ke tangan kanan Michael.
"Sejauh ini kau aman. Naiklah ke lantai 3 segera, sepertinya kau sedang ditunggu seseorang."
Michael membetulkan pakaiannya kembali. Ia kemudian berkata, "Terimakasih."
Michael berjalan mencari-cari pintu lift. Matanya memindai setiap sudut area di sekitar. Telinganya tersamarkan oleh suara musik EDMdengan volume yang keras. Beberapa wanita berpakaian minim sempat menawarinya segelas alkohol, namun ia menolaknya. 3 orang wanita secara bergiliran menawarkan dia ke "ruang pribadi," namun Michael lagi-lagi menolaknya. Lampu merah, biru, ungu, dan pink bersinar menerangi setiap sisi ruangan yang begitu gelap. Asap-asap rokok tercium begitu pekat di beberapa sisinya.
Begitu sampai di salah satu sudut, ia akhirnya menemukan pintu lift. Ia pun menekan tombol bersimbol anak panah atas hingga menyala. Begitu pintu lift terbuka lebar, ia pun melangkah masuk ke dalam, kemudian menekan tombol angka 3 hingga menyala.
Pintu lift hampir tertutup, namun seorang wanita dan seorang pria yang berpakaian formal segera menghadang pintu lift tersebut hingga terbuka kembali. Mereka pun masuk ke dalam lift tersebut, lalu Michael pun menekan tombol yang membuat pintu liftnya tertutup dengan rapat.
Di lift, seorang wanita dan pria tersebut berposisi di bagian sudut, tepatnya membelakangi posisi Michael yang sedang berdiri tegak di depan pintu lift dengan wajah lelah. Pria dan wanita itu membuat suara yang gaduh—bahkan terdengar suara eskrim yang sedang dijilat oleh telinga Michael dengan sangat jelas.
Michael tidak merespons apapun, ia tetap fokus menunggu pintu lift terbuka kembali sambil sesekali melihat arloji yang dikenakannya.
Begitu pintu lift terbuka, ia pun melangkah keluar meninggalkan pria dan wanita itu yang masih sibuk di dalam lift.
Michael berjalan menyusuri ruangan satu arah. Ia berjalan lurus melihat tembok-tembok berwarna putih yang sedikit gelap diterangi oleh lampu merah bercahaya oranye di atapnya.
Michael menemukan satu pintu. Ia pun membukanya pelan-pelan. Baru sedikit pintu terbuka, Michael sudah melihat Rossie yang sedang duduk dengan pakaian dinasnya sedang mengusap-usap figur yang mirip dengan Michael sambil bernyanyi-nyanyi pelan.
Begitu pintu terbuka lebar, Rossie membalikan badannya. Wajah mulus selayaknya model terkenal, rambut yang tampak tersemir halus, serta wangi parfum tercium oleh Michael. Rossie tidak mengenakan topengnya. Ia langsung berdiri mendekati Michael yang masih berdiri tegak di balik pintu kamarnya.
"April, aku sudah dat-"
Rossie langsung menutup bibir Michael dengan jari telunjuk sebelum Michael sempat melanjutkan omongannya. Ia memegangi kepala Michael, kemudian menciumnya pelan-pelan. Michael membalas ciuman Rossie dengan lembut sambil membanting pintu kamar. Dari balik tembok kamar Rossie, terdengar suara gebrakan dari kasur dengan cukup keras.
---
Mata Raden pelan-pelan berubah menjadi merah menyala. Nafasnya kini menjadi uap asap yang beterbangan. Kuku-kukunya mulai tumbuh dengan tajam. Urat-urat dari lengannya mulai timbul hingga mengeras. Tangannya mengepal dengan kuat.
Raden mencoba bangkit pelan-pelan dari kursi. Namun, selang beberapa menit, dirinya langsung terjatuh ke tanah hingga menimbulkan suara hentakan yang sangat kencang.
Dari kamar, Mora mendengar suara hentakan itu. Matanya langsung melotot. Ia bergegas keluar dari kamarnya dengan buru-buru.
Sesampainya di halaman depan, ia melihat Raden tersungkur kaku dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Mora berlari ke arah Raden. Ia langsung mengangkat, kemudian menggendong tubuh Raden seperti anak kecil yang sedang digendong dipunggung oleh ayahnya.
Nafas Raden sangat terengah-engah. Tangannya begitu lemas letoy mengeplak seperti ikan yang tak berdaya ketika muncul ke permukaan. Sementara kepalanya menempel pada bahu Mora.
"Ma... ka... sih, Mora," ucap Raden.
Mora memutar bola matanya.
"Kau ini bego banget, ya. Sudah tahu kakimu masih belum sembuh, malah jalan-jalan. Kau ini kayak kakek-kakek yang maksa jalan padahal udah tua, tahu gak?"
Raden mencoba mengembangkan senyumnya meski ia begitu sulit melebarkan pipi dia.