"Itu privasi. Tapi yang pasti, pria punya sel-"
Sebuah dentuman ledakan dari lantai atas tiba-tiba terdengar sangat keras hingga membuat seisi ruangan terguncang-guncang. Orang-orang yang berada di dalam ruangan panik berlarian mencari pintu evakuasi. Mereka semua saling berebut posisi untuk segera masuk ke pintu evakuasi.
Michael masuk ke dalam kerumunan itu. Ia sempat terhimpit oleh beberapa orang, namun dengan tenang ia berhasil keluar dari kerumunan tersebut, hingga masuk ke pintu evakuasi.
Gedung Pink House terguncang lagi, bahkan kini lebih parah. Orang-orang kini saling sikut dan anarkis. Dari dalam ruang evakuasi, terdengar suara 2 tembakan revolver oleh telinga Michael. Mereka yang berhasil masuk pintu evakuasi satu-persatu langsung berlari-lari menyelamatkan dirinya dengan raut wajah penuh panik.
Michael ikut berlarian bersama mereka di ruang evakuasi. Ia menoleh pada salah satu pria.
"Apa yang sebetulnya terjadi di kerumunan itu?" tanya Michael. Langkah kakinya masih berjalan ketika menoleh pada pria disampingnya.
Pria itu menoleh pada Michael.
"Para mafia itu ingin menang sendiri. Mereka mulai menembaki wanita-wanita dan pria yang tak bersalah yang menghalangi jalan mereka," balas pria di samping Michael disertai nafas yang terengah-engah. Keringat mulai membasahi kening dan lehernya.
Michael dan pria di sampingnya terus berlari mengikuti setiap lorong.
Namun... ketika pria di samping Michael mencoba menoleh pada Michael, dadanya tiba-tiba bolong berlumuran darah. Suara tembakan daru revolver terdengar keras oleh telinga Michael. Tubuh pria itu seketika tumbang, sementara Michael terus berlari menyusuri ruangan.
Ia menoleh ke belakangnya. Matanya langsung melotot ketika melihat seorang pria berkacamata hitam sedang berlarian sambil menodongnya dengan sebuah revolver.
Ketika sampai di ruangan yang sedikit lega, Michael mencoba mengecoh pergerakan dari pria berkacamata hitam itu dengan berlari ke arah zig zag melewati setiap pilar yang berdiri tegak.
Tembakan itu terjadi 3 kali, hingga membuat pilar yang ditembaki pria berkacamata hitam itu mulai runtuh dengan cepat hingga menimpa seluruh tubuhnya, disusul oleh reruntuhan atap yang mulai ambruk ke bawah.
Kaca-kaca dari jendela gedung retak dan berhamburan mengisi hampir seisi ruangan. Serpihan-serpihan kecil kaca-kaca itu tertancap pada jari-jari Michael, hingga membuat meringis kesakitan. Darah dari jari-jari itu mengalir pelan-pelan, dan Michael langsung menekan luka tersebut sambil berlari.
Dari luar ruangan, sebuah Xeon Car berhenti tepat sebelum gedung itu ambruk sepenuhnya. Jendela kanan dari Xeon Car itu terbuka kebawah secara otomatis. Dari dalam jendela, ada Mora yang menatap Michael sambil melambai-lambaikan tanganya ke dalam mobil pada Michael.
"CEPAT KESINI!"
Michael semakin mengencangkan tenaganya ketika berlari. Reruntuhan gedung di belakangnya hampir menyusul Michael.
Melihat pintu keluar semakin dekat di hadapannya, Michael melompat ke arah depan, lalu memeluk sisi Xeon Car hingga bebannya sedikit terguncang.
Gedung Pink House kini sepenuhnya runtuh disertai api yang mulai menjalar lebih besar dari dalam.
Mora mulai menyalakan mesinnya pelan-pelan. Michael membalikan badannya, dan melihat sesuatu tergeletak di tengah jalan.
"Tunggu, jangan dulu dinyalakan mesinnya."
Mora menghentikan mesinnya kembali. Kepalanya keluar dari jendela Xeon Car.
"Kenapa? Ada apa lagi?"
Michael turun dari Xeon Car tanpa menjawab pertanyaan dari Mora. Ia berjalan ke tengah jalanan mendekati sesuatu.
Di hadapan Michael, ia melihat tubuh setengah dari kepala Rossie hilang—hingga otak bagian dalamnya terlihat jelas sisa setengah lagi. Lengan kiri Rossie tampak sedang memegang erat buket bunga layu dengan bunga lavender di dalamnya terbakar pelan-pelan. Sementara tangan kanannya memegang sebuah detonator yang kini tampak sudah rusak sepenuhnya. Mulut bagian kanannya tampak seperti masih tersenyum tipis memandangi sesuatu.
Michael berlutut di hadapan mayat Rossie. Kepalanya menunduk begitu rendah.
Ia memeluk erat mayat Rossie yang sudah tidak utuh lagi. Suara sirine polisi samar-samar mulai terdengar dari kejauhan. Orang-orang di sekitaran kota melihat Michael sambil berbisik-bisik pada orang-orang disampingnya.