Fracture

Cornelius Zii
Chapter #16

Bab 16: Sisi Gelap

Raden menurunkan alisnya. Mulutnya mengembang dengan penuh percaya diri.


"Ya, kurasa aku sudah siap untuk misi pertamaku."


Mora memutar jam tangan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya searah jarum jam. Sebuah lemari terbuka secara otomatis disertai suara desis mesin, menggeser keluar satu set pakaian penuh yang menggantung rapih ke sisi Mora dengan gesit.


Mora menarik kait hanger pakaian tersebut, lalu menyerahkannya kepada Raden.


"Ini pakaian yang wajib kau pakai saat bertugas nanti."


Raden mengambil pakaian yang diserahkan Mora. Matanya berbinar-binar begitu melihat pakaian yang dipegangnya. Sementara mulutnya menganga bahagia. Beberapa detik setelahnya, ia menatap Mora sambil mengangkat satu alisnya.


"Ini keren! Tapi, harus juga kah pakai rompi anti peluru?"


Mora tersenyum. "Ya... itu sih gimana kau saja. Kalau kau mau perutmu tiba-tiba bolong ditembak seseorang di jalanan, silahkan," ujarnya disertai tawa tipis.


Raden tertawa gugup.


"Begitu, ya. Ah, baiklah, aku pakai aja."


Raden pun membalikkan badannya. Ia hendak beranjak pergi. Namun baru saja ia melangkah satu kaki, Mora memanggil namanya. Langkah Raden terhenti, ia pun membalikkan badannya kembali menghadap ke arah tubuh Mora yang masih duduk di kursi dengan santai.


Mora mengetuk-ngetuk jam tangannya.


"Ingat, jam 9 malam kau harus sudah siap. Michael benci orang yang ngaret."


Raden mengangguk-angguk kepalanya dengan cepat.


"Baiklah, kuusahakan tepat waktu."


"Wajib tepat!"


"Yaa! Oke-oke! Pasti aku siap tepat waktu."


Mora tertawa tipis. "Bagus."


Raden membalikkan badannya, lalu melangkah keluar dari ruang kerja. Ia berjalan ke arah kamarnya. Begitu sampai, ia segera menggantungkan pakaian yang diberikan Mora ke dalam lemari.


Sebelum hendak keluar lagi, Raden tersenyum lebar ketika menatap tropi dan medali penghargaan milik ayahnya terpajang rapih berjejer di meja. Setelah itu, ia melanjutkan langkahnya untuk keluar kamar.


Raden berjalan ke arah lift. Ia mengarahkan lift untuk pergi ke lantai empat.


Sesampainya di sana, Raden duduk tenang di sebuah kursi lebar sambil menatap langit biru muda disertai awan-awan putih di musim semi yang tampak begitu cerah. Terlebih, sinar mataharinya terpantul pada tubuh Raden hingga menimbulkan bayangan gelap tipis tubuh Raden tepat di lantai yang dipijak oleh Raden.


Tangan Raden melentang pada sisisisi kursi lebar yang ia duduki. Ia menghirup udara segar dari angin sepoi-sepoi di pagi hari sambil menikmati lajunya yang lembut menembus setiap lubang hidung dia, yang siap menyambut udara segar lain berdatangan keluar masuk dari setiap napasnya.


"Kau tahu bagian yang kusuka dari komik fiksi yang kubaca? Yaitu momen ketika suasana sekitar begitu menenangkan hatiku dengan lembut," gumam Raden.


Aku juga sangat menyukai momen tersebut. Apalagi menikmatinya dengan teh hangat di pagi hari, berkumpul bersama keluarga sambil menikmati terik cerah matahari mulai memanas, berjalan mendaki bukit gunung sambil membawa sekeranjang nasi dan telur yang sudah panas, sahut Oni.


Raden memiringkan kepalanya ketika bersandar pada sisi kursi.


"Kedengarannya seru. Tapi itu tampak kaya momen yang sangat-sangat jauh dari kota ini."


Kepala Raden bangkit sedikit. Ia menoleh pada kanan-kirinya.


"Aku juga tak lihat gunung di sekitaran sini. Tapi kalau ada, aku jadi pengen merasakan suasananya," lanjut Raden. Ia bersandar lagi pada sisi kursi.


Ya, kau tak perlu aneh. Aku sendiri sempat kaget melihat dunia sudah berubah begitu drastis, kata Oni.


"Iyakah? Aku justru kaget saat kau bilang kaget melihat dunia ini. Maksudku, memangnya kau datang dari dunia mana?"


Dari yang sempat kau lihat, seperti apa kira-kira duniaku?


Raden mengusap-usap dagunya.

Lihat selengkapnya