Fracture

Cornelius Zii
Chapter #17

Bab 17: Hadapi Ketakutanmu

"Ini lebih mengejutkan lagi. Ternyata scammer pemilik domain itu... target kita malam ini," kata Mora.

Michael terbelalak, sementara Raden menelan ludahnya sendiri. Michael menatap layar monitor di hadapannya dengan begitu serius. Dari monitor, tampil biodata lengkap nama 'J Zega Irtyas a.k.a Kai', tanggal lahirnya, beserta beberapa detail dan kebiasaan dirinya sehari-hari. Disamping biodata tersebut ada dua foto wajah pria botak di bagian tengah rambutnya. Dia juga memiliki janggut tebal dengan bentuk wajah bulat. Satu foto menghadap ke depan, sementara satu foto lainnya menghadap samping.

Mora mengambil sebuah tablet yang memiliki ukuran sedikit compact. Begitu memegang dengan kedua tangannya, dia menyeret jari telunjuknya ke arah atas. Sebuah UI hologram berukuran kecil muncul tepat di hadapan Mora. Mora menekan tombol bulat di bagian pojok kiri hologram tersebut. Dalam beberapa detik kemudian, sebuah progress bar kosong terisi penuh dengan sangat cepat di monitor besar.

Begitu selesai, layar monitor besar tersebut menampilkan sebuah tabel berisi histori pengeluaran-pemasukan milik Kai dalam setahun terakhir, serta jumlah hutang yang belum dibayar senilai: 473k EC. Tepat di bagian samping tabel ada indikator bulat berwarna merah dan di bagian bawah bulatan mereah tersebut ada sebuah tulisan: 'Redflag. Pay or die tonight.'

Mora melepaskan jarinya dari keyboard, kemudian berkata, "Dialah orangnya. Dia target kita malam ini."

Raden melipat kedua tangannya. Lalu, tangan kanan dia memegang dagu seraya menatap monitor.

"Hum... darimana kamu dapat data selengkap ini, Mora?"

Mora menoleh pada Raden.

"Oh, aku dapat datanya dari Razor."

"Lalu, Razor dapat data itu darimana?"

Mora mengangkat bahu dia.

"Entah, aku juga gak peduli. Daripada kau overthinking hal itu, sebaiknya kau ikut aku dulu. Ada yang mau kutunjukkan padamu," ucap Mora sembari berdiri dari kursinya. Kemudian, ia merangkul Raden, lalu melangkah maju menyeret Raden.

Mereka berdua maju beberapa langkah keluar dari ruangan kerja hingga sampai pada pintu yang sudah terbuka otomatis. Mora menengok ke belakang.

"Oh iya Michael, kalau kau mau main ular tangga atau tebak-tebakan receh ala bapak-bapak di tabletku, pakai saja. Biarkan komputer besar itu seperti itu, jangan dimatikan. Masih ada kerjaan yang belum aku bereskan."

Setelahnya, mulut Mora komat-kamit ketika berjalan sambil merangkul leher Raden. Raden tersenyum canggung pada Mora. Michael menoleh, lalu menatap mereka berdua. Ia terkekeh sambil mengusap-usap jidatnya.

Mora dan Raden berjalan hingga masuk ke lift. Mora menekan tombol liftnya ke lantai dua. Begitu pintu lift tertutup, Raden meminta Mora untuk melepaskan lehernya karena terasa sesak. Mora pun melepaskan rangkulannya dari leher Raden. Mora sedikit menjauh dari Raden.

"Maaf, aku berlebihan, kah?"

Raden mengusap-usap lehernya sambil menghela napas.

"Ya, itu sedikit berlebihan. Aku sesak."

"A-ahaha, maaf deh maaf, ya."

Begitu pintu lift terbuka, Mora berjalan keluar lebih dulu, diikuti oleh Raden di belakangnya. Mereka berjalan hingga tiba di depan pintu besi yang tertutup rapat. Gagang pintu tersebut terdapat sebuah tempat kartu akses yang harus digesek. Mora menggesekkan kartu miliknya. Lampu indikator pintu tersebut menjadi berwarna hijau, kemudian perlahan-lahan pintu tersebut terbuka secara otomatis.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, mata Raden terbuka dengan lebar. Ia melihat ada samsak tinju yang menggantung dan beberapa peralatan fitness tertata dengan sangat rapih. Kaca jendel besar terletak pada ujung ruangan tersebut. Cahaya matahari yang masuk dari jendela tersebut membias ke dalam ruangan membuat siapapun yang masuk ke dalamnya menjadi hangat.

Mora mengajak Raden melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka berdua melangkah masuk. Langkah mereka sedikit bergema ketika mereka berjalan di dalam ruangan. Mora menoleh ke arah kanan, lalu menunjuk.

"Disana, ada kamar mandi. Ya... siapa tahu kau kebelet kencing kan setelah berolahraga?" Ia terkikik. Kepalanya menoleh ke arah kiri, lalu menunjuk. "Kalau yang disana, ada mp3 player. Keliatan agak jadul karena ukurannya yang besar, tapi percayalah kualitasnya bukan kaleng-kaleng. Biar kau tidak bosan saja, sih."

Mora membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Raden. Ia meletakkan kedua lengannya diantara sisi-sisi pinggul.

Dengan penuh senyum percaya diri, ia berkata, "Jadi gimana? Apa kau suka ruangan fitness ini?"

Lihat selengkapnya