Raden mengangkat flashdisk itu, lalu membalikkan flashdisk tersebut. Matanya melihat tulisan spidol permanen yang mulai tampak kabur.
Mata Raden menyipit. Dirinya bergumam, "Rekaman penghancur hidupku?"
Raden melangkah menuju komputer yang terletak di sudut ruangan kamarnya. Ia duduk, kemudian segera menyalakan komputer di hadapannya. Begitu komputer menyala dengan sempurna, Raden mencolokkan flashdisk yang ia pegang, lalu ia melihat ada sebuah file video pada penyimpanan flashdisk tersebut. Ia mengetuknya melalui mouse. Sebuah loading mulai berputar-putar beberapa detik.
Begitu terputar, video tersebut menampilkan dua pria setinggi 178 cm berpakaian serba putih yang sedang saling menatap tajam dari jauh dengan ekspresi penuh api membara. Penonton di luar arena bertarung bersorak-sorai menyemangati kedua petarung yang berada di dalam arenanya. Para petarung itu mulai memasang kuda-kuda. Beberapa orang memasangkan mereka sebuah helm pengaman dengan penuh hati-hati.
Seorang pria memegangi kepala salah satu petarung dengan ekspresi yang serius.
"Ingat, dia ahli cengkraman. Jangan sampai salah satu anggota tubuhmu dicengkram oleh dia. Sekali kau dicengkram, bisa-bisa patah tubuhmu. Paham?" kata pria tersebut pada petarungnya.
Petarung tersebut mengangguk-anggukan kepalanya pada si pria. Pria tersebut melepaskan tangannya pada si petarung. Petarung tersebut menatap tajam kembali wajah lawannya. Seorang announcer berjalan ke tengah-tengah arena sembari menggenggam mic wireless di tangan kanannya. Begitu mic tersebut dengungnya menggema, perlahan-lahan gemuruh penonton di luar arena mulai senyap.
"Dan... sudah waktunya kita mulai, pertandingan final antara Halim Sukma Wijaya, The Grim Reaper melawan Ezza Angelo, The God Hand! Are you ready?!!" seru announcer tersebut sembari mengangkat mic-nya ke arah penonton. Sorak-sorai suara penonton semakin meriah begitu announcer mengangkat mic-nya.
Raden terbelalak melihatnya. "Ayah?!" Pandangannya kini mencoba lebih fokus kembali pada video yang tampil di monitor komputer di hadapannya.
Para tim teknis pencahayaan, penata suara, dan kameramen di luar arena pertarungan bergegas dengan cepat menyiapkan peralatan mereka dengan tergesa-gesa. Salah satu tim direksi teknis mengacungkan jempolnya pada tim teknis lain. Begitu pun tim teknis lainnya mengacungkan jempol pada teknisi di sebrangnya hingga sampai pada announcer yang berada di tengah arena. Wasit pertarungan tersebut mulai bergegas masuk ke arena pertarungan.
"Alright everybody, saatnya kita saksikan, The Grim Reaper vs The God Hand! Semuanya bertepuk tangan lebih meriah terlebih dahulu sebelum bel dibunyikan!" seru announcer tersebut sembari mengangkat mic-nya tinggi-tinggi. Dirinya berjalan keluar dari arena. Suara utama dari speaker di sekitar arena dialihkan kepada dua komentator yang berada di studio tertutup.
Di sebelah kedua komentator tersebut ada seorang analis profesional membawa beberapa lembaran kertas yang terhimpit pada papan dada yang ia pegang. Kedua komentator tersebut menatap kamera dengan penuh senyuman, lalu mempersiapkan dirinya untuk berbicara pada kamera dengan penuh semangat.
"Ya! Kembali lagi bersama saya, Daniel dan rekan saya di sebelah, Donnie di acara Great World Martial Art Championship (GWMAC). Kali ini di sebelah kami ada bapak analis yang sudah sangat-sangat fenomenal di internet, mari kita sambut, bapak Castello."
Pak Castello melambaikan tangannya ke arah kamera disertai senyum lebar.
"Hai, halo semuanya netizen yang berbudiman, terimakasih sudah mengundang saya ke acara yang sangat bergengsi ini."
"Melihat bapak Castello berada disini, saya jadi penasaran dengan perasaan bapak. Menurut bapak, kira-kira bapak bakal menyangka tidak kalau The Grim Reaper dan The God Hand ini bakalan sampai ke final?" tanya Donnie. Kepalanya menoleh pada Pak Castello.
Pak Castello tertawa tipis, kemudian ia berkata, "Saya betul-betul tidak menyangka. Ini benar-benar di luar prediksi saya. The God Hand memang luar biasa mengerikan di turnamen ini. Tapi tetap, kemungkinan besar The Grim Reaper terlalu unggul jauh daripada The God Hand berdasarkan analisis saya beberapa minggu kebelakang."
"Ini menarik sekali. Melihat ramainya kolom komentar yang membludak di live chat, bahkan acara ini menjadi trending topik panas di platform Palltube selama beberapa pekan terakhir, khususnya ketika The Grim Reaper maupun The God Hand bertarung melawan petarung lain, apakah menurut anda dua petarung ini punya ciri khas bertarung yang mengesankan?" tanya Daniel.
Pak Castello melihat kertas yang dipegangnya sejenak, lalu menatap wajah Daniel.
"Ya, berdasarkan pola bertarung dan keahlian mereka, jelas dua petarung ini memiliki ciri khas cara bertarung yang sangat mengesankan, bahkan bagi saya mereka adalah kedua kutub yang berbeda yang kini malah bertemu di final."
Donnie mengangguk. Ia kemudian membuka pertanyaan kembali, "Saya setuju. Mereka memang kedua kutub yang berbeda yang berujung bertemu di final ini. Tapi sejauh saya cermati, The Grim Reaper hanya punya dua aliran beladiri—yakni Silat dan Taekwondo. Ini memang berbeda dengan The God Hand yang memiliki satu aliran beladiri—yakni Jiu-Jitsu. Tapi bukankah ini hal yang umum menurut anda? Melihat petarung-petarung lainnya juga memiliki 2 atau 3 aliran beladiri yang berbeda-beda."
Pak Castello tertawa tipis pada Donnie.
"Memang betul bahwa sejauh ini The Grim Reaper hanya mengeluarkan Silat untuk blocking dan hantaman yang variatif. Sementara Taekwondo untuk tendangan bebas, keras, dan sedikit stylish. Ini mungkin bakal mengejutkan sebagian orang. Tapi, sangatlah keliru kalau dia hanya punya 2 aliran bertarung saja. The Grim Reaper juga lumayan menguasai aliran Boxing, Kickboxing, Muay Thai, sedikit Jiu-Jitsu, bahkan Capoeira. Bisa dikatakan... pertarungan ini adalah tentang si generalis versus si ahli fokus."
Donnie dan Daniel terbelalak.