Fracture

Cornelius Zii
Chapter #19

Bab 19: Zombie

Rekaman video tersebut pun berhenti dengan layar glitch di beberapa detik terakhir. Mulut Raden menganga lebar. Matanya melotot lebar-lebar.


"Ayah... apa yang sebenarnya terjadi?"


Terdengar sengatan listrik kecil dari arah flashdisk yang tertancap pada komputer Raden. Bau asap gosong mulai tercium oleh hidung Raden. Asap-asap tipis beterbangan dari arah flashdisk yang tertancap. Dengan sigap, Raden mencabut flashdisk tersebut. Jempol dan jari telunjuk Raden terasa sangat panas, hingga Raden merintih sakit. Ia membanting flashdisk tersebut ke lantai hingga beberapa komponennya terpecah-pecah.


Pintu kamar Raden digedor-gedor oleh seseorang. Sambil menutup hidungnya, Raden segera menekan tombol bulat di dekat pintu tersebut, hingga pintu tersebut terbuka secara otomatis. Ada Kimmy yang melayang tepat di hadapan Raden sambil menggenggam fire extinguisher. Kimmy menyerobot masuk ke dalam kamar Raden. Dirinya celingukan mencari-cari sumber asap. Ia melihat sumber asap tersebut ada di lantai. Ia pun meletakkan fire extinguisher di lantai, lalu dari punggungnya ia memunculkan sebuah kipas angin yang kemudian di arahkan ke cercahan komponen-komponen flashdisk tersebut.


Begitu asap mulai mereda, Kimmy pun mengumpulkan semua cercahan komponen-komponen flashdisk tersebut, kemudian memasukkan komponen-komponen itu pada perutnya.


Kimmy mengangkat fire extinguisher-nya, lalu melayang ke arah Raden. Raden terbatuk-batuk kecil. Tangan kanan Raden memegangi sisi-sisi meja. Kimmy pun mengambil segelas air bening, kemudian menyerahkannya pada Raden. Raden meneguk air yang diberikan oleh Kimmy hingga habis.


Dari kepalanya, Kimmy memunculkan monitor dengan teks: 'Apa kau baik-baik saja?'


Raden mengangguk lalu berkata, "Ya, aku baik-baik saja. Entahlah, tadi flashdisk itu tiba-tiba terbakar." Raden celingukan. Matanya melihat sekitar mencari-cari flashdisk yang tadi ia banting. Ia mengangkat kembali kepalanya.


"Apa kau yang ngambil flashdisk itu?" tanya Raden sambil mengangkat salah satu alisnya kepada Kimmy. Kimmy mengangguk. Ia mengetuk-ngetuk bagian perutnya yang terbuat dari kaca hitam glossy. Dari mata Raden, tampak sedikit cercahan komponen-komponen flashdisk tersebut tersimpan dari dalam perut Kimmy.


Raden tersenyum pada Kimmy.


"Begitu, ya. Apa kau bisa memperbaikinya?"


Kimmy membalas Raden dengan anggukan berkali-kali.


Kimmy memunculkan monitor dari kepalanya dengan teks: 'Aku mau pergi lagi. Apa ada hal lain lagi yang mau kubantu?'


Raden menatap monitor tersebut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Untuk sekarang, tidak ada. Makasih, ya."


Begitu mendengar perkataan Raden, Kimmy pun memberi gestur 'oke' pada Raden. Ia melayang, lalu meninggalkan Raden sendirian di kamarnya.


Raden berjalan mendekati tropi yang terpajang di mejanya lagi. Dari bagian atas tropi yang berbentuk cembung itu ada selembar foto yang terbalik. Raden mengambil, lalu membalikkan foto tersebut hingga foto tersebut kini tampak jelas di matanya. Tangan kiri Raden memegangi foto tersebut.


"Ini... kayanya foto ayah saat kejuaraan dulu," gumamnya sambil tersenyum tipis.


Ayahmu tampak penuh semangat, ucap Oni melalui batin Raden.


"Ya, dia pasti sangat semangat ikut turnamen itu," balas Raden.


Raden menggeser foto tersebut dengan tangan kanannya. Ia melihat ada satu lembaran foto lain. Foto tersebut diambil sangat pas ketika Halim sedang menendang kepala lawannya di udara dengan ekspresi penuh amarah. Mulut halim terbuka lebar seperti ingin berteriak memaki lawannya.


Lihatlah disitu, ayahmu tampaknya sangat murka pada lawannya, kata Oni melalui batin Raden.


"Kau benar. Dia tampak sangat marah besar disini. Aku belum pernah melihatnya semarah ini seumur hidupku," sahut Raden.


Mungkin dia menahannya saat sudah memilikimu. Tapi kuyakin kalau singa di dalam dirinya masih ada, kata Oni.


"Bisa saja, mungkin? Entahlah."

Lihat selengkapnya