Fracture

Cornelius Zii
Chapter #20

Bab 20: Aura

Raden mengembangkan senyumnya.


"Ya, aku siap."


Michael menyimpan handphone ke saku celana kanannya. Ia menunjuk ke telinga Raden.


"Kau tekan dulu gagang kacamatamu yang ada di kanan."


"Oh, sebentar," kata Raden seraya menekan gagang kacamatanya di sebelah kanan. Suara satu ketukan led pun berbunyi. Mata Raden kini melihat sebuah cahaya hologram berwarna biru muda memindai isi kota dalam beberapa detik.


[✓ Area selesai dipindai. Ikuti panah petunjuk di sekitarmu untuk sampai di tempat target.]


Sebuah panah petunjuk dari posisi kanan tengah muncul dari mata Raden, menunjuk pada suatu tempat dengan radius 700 meter. Raden menolehkan kepalanya ke arah kanan, lalu berhenti ketika panah petunjuk tersebut kini berpindah posisi tepat di tengah jalan menunjuk ke arah depan. Raden pun kini mulai berjalan mengikuti setiap panah petunjuk menuntunnya diikuti oleh Michael di belakang dia.


Di tengah perjalanan, pada posisi pojok kiri mata Raden muncul sebuah visualizer audio dengan tulisan [Mora].


[Radio Oxy Mark I Mora: "Hei, apa kau sudah dapat lokasinya?"]


Sambil berjalan, Raden berkata, "Ya, aku sudah dapat lokasinya. Omong-omong, darimana suara itu muncul?"


[Radio Oxy Mark I Mora: "Dari gagang kacamata yang kau kenakan—Oxy Mark I."]


"Oh, begitu, ya? Ah oke-oke," sahut Raden seraya belok ke arah kiri.


Raden melihat kanan-kirinya dengan cepat. Ia tidak melihat Michael berada di dekatnya lagi. Sambil meneruskan perjalanannya, ia menengok ke arah kiri, dimana segelintir orang-orang ber-hoodie hitam sedang berdiskusi membicarakan sesuatu. Ia juga menengok ke arah kanan, ada beberapa pria besar berjanggut cukup tebal sedang menenteng 3 botol minuman keras. Pria itu membuka salah satu botol, lalu meneguknya dengan hebat seperti orang yang sedang kehausan di tengah gurun pasir.


Raden meluruskan kembali pandangannya ke depan. Ia setia mengikuti panah petunjuk dari mata dia pada setiap langkahnya.


Seseorang tiba-tiba saja menepuk bahu Raden. Raden menghentikan langkahnya, lalu ia segera menoleh ke belakang, kemudian ia melayangkan pukulan dengan cepat ke hadapannya—yang berujung hanya meninju angin. Orang-orang di sekitar Raden menoleh ke arahnya dengan kening yang mengerut. Raden celingukan, namun matanya kini terpusat pada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya dengan penuh warna biru tua membayang transparan.


"M-Michael?" bisik Raden.


Michael menyenderkan jari telunjuk dia pada mulutnya. Dengan suara pelan, ia berkata, "Jangan berisik. Mereka tidak bisa melihatku. Cepat lanjutkan saja perjalananmu."


Bola mata Raden menggeser ke kanan-kiri.


"Um, baiklah..." Raden pun tersenyum melihat orang-orang di sekitarnya. Mereka pun kembali menyibukkan dirinya masing-masing.


Raden melanjutkan langkahnya kembali. Matanya melihat pada panah petunjuk dan teks di bawahnya yang tertulis: 200 meter lagi.


Setelah beberapa menit berjalan, panah Raden terhenti pada sebuah rumah dengan ukuran yang cukup besar membentang ke atas. Dari pintu rumah tersebut, samar-samar terdengar suara desahan wanita disertai suara gesekan kayu oleh telinga Raden. Raden mengusap tengkuknya.


"Ini ya, tempatnya?"


[Radio Oxy Mark I Mora: "Ya, pasti tidak salah lagi. Begitu dia membuka pintu, segera perkenalkan dirimu. Kalau dia ragu, keluarkan kartu identitasmu."]


Raden menghela napasnya dalam-dalam. Lalu ia berjalan ke depan pintu apartemen. Suara desahan wanita tersebut mulai mengeras, lalu ia berteriak hingga membuat kening Raden mengernyit. Michael menyender tepat pada sisi pintu. Ia menatap pada Raden.


"Pst, fokus," bisik Michael.


Raden menelan ludahnya. Begitu sampai di depan pintu, Raden mengencangkan posisi badannya.


"Halo, apa ada tuan Kai?" ucap Raden dengan suara lantang.


Lihat selengkapnya