Fracture

Cornelius Zii
Chapter #22

Bab 22: Pelan, Tapi Pasti

Raden membuka matanya perlahan-lahan. Pandangannya sempat memburam sejenak. Ia menengok ke arah kiri, matahari mulai terbit dengan hangat nan cukup cerah. Lalu, ia menengok ke arah kanan dan...


"AAA!!"


Raden melihat kepala Kimmy yang menampilkan foto hantu dengan ekspresi lucu. Kimmy menatap wajah Raden, lalu memberikan cuplikan video pendek pria tertawa terbahak-bahak dari kepalanya. Raden mengusap dada dia lalu menghela napasnya.


"Kau ini bikin aku kaget saja..."


Kimmy melayang ke meja yang terletak tidak jauh dari kasur Raden, ia mengambil tumpukan roti dan segelas susu yang terletak di atas piring. Ia menyerahkan roti itu pada Raden sembari menampilkan emoji senyum cerah pada monitor wajahnya.


Raden mengambil roti yang diberikan Kimmy dengan penuh senyum. "Makasih, Kimmy." Ia pun melahapnya dengan sangat nikmat. Saking nikmatnya, Raden sempat tersedak ketika roti yang ia makan tersisa setengah lagi. Kimmy pun segera memberikan Raden segelas susu yang masih dipegang olehnya. Raden meneguk susu tersebut dengan cepat, hingga tenggorokannya mulai terasa lebih lega.


Monitor wajah Kimmy menampilkan teks: 'Apa ada lagi yang bisa kubantu?'


Raden menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tidak. Terimakasih sarapannya."


Monitor wajah Kimmy menampilkan teks: 'Baiklah. Jika kau masih lapar, pergilah ke dapur. Ada beberapa makanan yang sudah kusediakan.' Diikuti gestur jemarinya yang memberikan tanda 'oke'. Kimmy pun melayang pergi meninggalkan Raden sendirian di kamarnya.


Raden menggeliat dengan mulut yang menguap. Dirinya kemudian bangkit dari kasur, kemudian merapikan selimut yang sempat ia gunakan. Setelahnya, ia menatap kaca jendela dengan hati yang tenang. Mulut dan pipinya terangkat begitu atas. Untuk beberapa detik, ia melihat suasana Spectre City disertai hirupan udara segar yang melintasi lubang hidungnya. Ia menghirup udara segar tersebut, lalu menghembuskannya kembali.


Ia membalikan badannya, lalu menatap seisi kamarnya yang sudah bersih dan tertata dengan rapi.


"Oni, kira-kira, hari ini aku ngapain, ya?" ucapnya. Oni tidak menyahut pertanyaan Raden sama sekali. Raden mengerutkan keningnya. Pikirannya tiba-tiba bertanya-tanya.


"Oni, kau masih disana, kan?" Lagi-lagi Oni tidak menyahut Raden. Raden pun menyadarkan dirinya kembali. Wajahnya cerah kembali tanpa dipenuhi beban pikiran. Pikirnya, mungkin Oni sedang tidak mood untuk meresponnya.


Raden berjalan keluar kamarnya. Begitu keluar dari pintu kamar, Raden menengok kanan-kiri dan tak menemukan siapapun. Suasana gedung tampak begitu sepi. Raden pun berjalan ke arah kanan hingga sampai di tempat ruang kerja. Begitu pintu otomatis terbuka sepenuhnya, matanya menatap seisi ruangan. Suasana dari ruang kerja tampak begitu hening, kosong, bahkan sedikit gelap.


Ia pun berjalan meninggalkan ruang kerja sambil bergumam, "Pada kemana, ya?" Dirinya berjalan sambil celingukan menatap sekitarnya yang tampak begitu kosong.


Ia pun memasuki lift lantai dua. Begitu sampai di lantai dua, dirinya mendengar suara dengusan kecil serta suara pukulan berat yang menggema keras. Raden mengikuti arah suara dengusan kecil tersebut, yang membuatnya sampai ke ruangan fitness. Raden mengambil sebuah kartu dari saku celananya. Kemudian, ia pun menggesekannya ke gagang pintu ruangan fitness tersebut.


Begitu pintu terbuka sepenuhnya, ia melihat Michael sedang meninju samsak beberapa kali disertai gerakan-gerakan hindar dan tangkisan cepat. Di pukulan terakhirnya, ia meninju samsak dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara gema kencang seisi ruangan. Ia berhenti memukul, menurunkan kedua tangan lalu mengayunkannya pelan untuk mengendurkan otot. Matanya menoleh pada Raden sambil menyipit.


"Raden?"


Raden pun menghampiri Michael, dimana wajah Michael tampak penuh dengan keringat dan nafas yang terengah-engah. Michael pun melepaskan bag gloves dari tangannya. Michael pun mengambil sebotol air yang terletak pada bangku lat pulldown, lalu meneguknya dengan pelan.


Raden sangat terkagum-kagum melihat gerakan Michael. Dirinya pun bertanya, "Wow, itu tadi... luar biasa. Bisa aku pinjam itu?" Raden menunjuk pada bag gloves.


"Whops, santai, jangan terburu-buru. Kau mau mencobanya? Apa kau sudah makan?" tanya Michael sembari menarik bag gloves-nya yang sempat akan diambil oleh Raden.


Raden menggaruk-garuk kepalanya.


"Um... sudah makan roti dan susu tadi. Sudah cukup, kan?"


Michael tertawa tipis, lalu ia menepuk pundak Raden. "Belum cukup. Kalau kau ingin berolahraga berat, kau harus mengisi perutmu dulu secara penuh. Dan... siapkan minimal sebotol air. Atau mungkin dua botol jika kau tak mau repot kehausan di tengah-tengah gerakan."


"Begitu ya? Baiklah. Tapi, kau bisa mengajariku gerakan yang tadi itu?" tanya Raden.


Michael mengangguk. "Ya. Kembalilah setelah perutmu penuh."

Lihat selengkapnya