Fracture

Cornelius Zii
Chapter #23

Bab 23: Mimpi

"Gimana dengan ibu dan ayah menurutmu?" tanya Mora pada Michael.


Michael menghela nafasnya.


"Entahlah... Bisakah kau menghubungi ibu nanti siang?" pinta Michael.


Mora melihat celingukan. Wajahnya mendekati Michael. Matanya menatap tajam pada wajah Michael. "Kau gila, ya? Seberapa malu nanti aku bilang pada ibu kalau aku belum bisa transfer?" bisik Mora pada Michael.


Michael menelan ludahnya. Ia menjauhkan Mora dari dirinya. Dirinya menggaruk-garuk dagu. Pikirannya berpikir keras. Dari belakang, Raden mencolek-colek pundak Michael. Michael membalikkan badannya.


"Anu, boleh aku minta minuman energinya?" tanya Raden. Michael menatap Raden. Telapak tangan Raden yang dibungkus dengan hand wrap tampak begitu sedikit kotor dengan sedikit luka di beberapa bagiannya.


"Dimana kau simpan bag gloves-nya?" Michael mengerutkan keningnya. Raden menunjuk ke lantai yang tidak jauh dari samsak tinju, dimana di bawahnya terletak bag gloves yang sempat ia gunakan. "Disana," kata Raden. Michael menoleh mengikuti arah telunjuk Raden. Kemudian, ia menatap Raden kembali.


"Lain kali, kau simpan di rak sana," ucap Michael sembari menunjuk salah satu rak kecil. Raden menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dengan senyum canggung, ia berkata, “O-oh, begitu ya? Baiklah. Aku masih mau pakai sarung tinju itu.”


"Kemari, ikuti aku," ajak Michael.


Ia menghampiri kantong plastik di atas kursi, merogohnya, lalu mengeluarkan dua kaleng biru bercap naga.


"Ambillah," katanya, menyerahkan satu kaleng pada Raden.


Raden membuka tutup kaleng minuman tersebut. "Terimakasih." Ia pun meneguk minumannya. Sambil memegangi salah satu kaleng minumannya, Michael meninggalkan Raden. Michael berjalan menghampiri Mora kembali.


"Kau mau?" tawar Michael pada Mora. "Nggak, nanti saja," jawab Mora. Matanya menatap lantai ruangan. Pikirannya penuh dengan beban yang terus menghantuinya. Michael membuka kaleng minuman yang ia pegang, lalu meneguknya. Selesai meneguk minuman tersebut, Michael mengembangkan senyumnya pada Mora.


"Begini saja, bilang pada ibu minggu depan kita transfer." Mora mengangkat kepalanya, lalu menatap Michael dengan wajah penuh khawatir. “Apa kau yakin?”


Michael mengangguk. "Semoga ada jalan keluarnya. Itu hal yang satu-satunya bisa kita lakukan sekarang. Jangan biarkan ibu terbebani lagi, itu tujuan kita kesini, 'kan?"


Mora menghela nafasnya. "Ya, kau benar. Baiklah, nanti kuhubungi ibu nanti."


Mora pun meninggalkan ruangan. Ia berjalan memasuki lift. Ketika hendak menekan salah satu tombol angka 1 di dalam lift, jari telunjuknya sempat terhenti sejenak. "Sesekali, kayaknya aku harus menghirup udara segar," gumamnya. Ia pun menekan tombol lantai 3. Perlahan-lahan, pintu lift pun tertutup dengan rapat.


Begitu pintu lift terbuka, Mora melangkah keluar dengan santai. Tak jauh dari lift, ia pun melangkah pada sebuah pintu yang letaknya tak begitu jauh. Begitu pintu dibuka, terik cerah dari mentari hangat menyambutnya pada langit lepas. Udara tehirup sangat segar oleh hidungnya. Mata dia kini terasa lebih rileks. Pikirannya menjadi lebih mengalir. Ia duduk pada kursi lebar yang terletak tak jauh dari pintu itu.


Lihat selengkapnya