Fracture

Cornelius Zii
Chapter #24

Bab 24: Sampai Nanti, Mimpiku

Raden melangkah keluar dari kamar Mora. Ia memasuki lift untuk turun lantai, namun tiba-tiba lift terguncang-guncang. Raden mencoba menggedor-gedor pintu lift dengan keras, namun, tiada yang mendengarnya. Lift mendadak berhenti.


"Sialan, kenapa lift ini tiba-tiba macet?!" ucap Raden disertai wajah penuh rasa panik. Tangannya menggedor-gedor pintu lift beberapa kali. Beberapa saat kemudian, lift terguncang cukup kencang hingga membuat Raden sempat tergoncang-goncang selama beberapa menit. Goncangannya perlahan-lahan memelan. Begitu goncangannya terhenti, lift pun berjalan normal kembali. Tombol dari lift tersebut berhenti pada angka 2.


Pintu lift terbuka secara otomatis. Raden mengusap-usap kepalanya yang sempat terbentur sembari merintih kesakitan. Begitu ia memandang ke arah depan, ia melihat Michael sedang bersandar santai di sisi tembok dekat pintu lift. Dengan cepat, Michael menoleh pada Raden.


"Heh, sudah kuduga, pasti kau yang menggedor-gedor pintu lift-nya."


Raden melangkah keluar dari pintu lift. Ia mengerutkan keningnya pada Michael. "Maksudnya? Kenapa kau tiba-tiba tau itu aku?"


"Tadi aku sedang mematikan generator gedung ini sebentar—karena aku mendengar ada bunyi konsletan kecil aneh di generator itu. Kukira tadinya Mora yang gedor-gedor pintu lift itu, rupanya kau," sahut Michael diakhiri tawa tipis.


Raden menghela nafasnya. "Syukurlah, kukira lift itu bakal rusak lama."


Michael tertawa tersenyum lalu berkata, "Kau lihat Mora? Aku mencarinya di ruang kerja tapi tidak ada siapapun di sana."


"Oh, Mora sempat ketiduran di ruang kerja. Dan... aku baru aja memindahkan dia ke kamarnya. Timmy juga memintaku untuk memindahkannya," jawab Raden.


"Baguslah," ucap Michael. Ia menatap wajah Raden. "Wajahmu kayanya masih segar di tengah malam gini," lanjut Michael.


Raden mengangkat bahunya. "Ya, aku baru bangun tidur selepas beres latihan tadi sore."


"Begitu? Ahaha, pantesan. Daripada kau bingung, sebaiknya kita santai-santai sebentar. Mari, ikuti aku," ajak Michael.


Mereka berjalan hingga tiba di sebuah ruangan dengan sisi temboknya berupa kaca jendela besar hingga suasana tengah malam kota Spectre City tampak begitu jelas. Ada 2 buah kursi saling berseberangan dengan meja berukuran sedang di tengah-tengah kedua kursi tersebut. Michael membuka jendela kecil. Ia mengambil bungkus rokok yang tergeletak pada rak kecil. Ia mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya dengan bensin kecil. Kemudian, ia duduk pada salah satu kursi.


"Duduklah," kata Michael pada Raden. Raden duduk di salah satu kursi yang bersebrangan dengan kursi Michael. Michael menyebat dengan santai rokok yang dihisap olehnya. Asap-asap beterbangan keluar pada jendela kecil yang sempat dibuka oleh Michael.


Sementara itu, Raden celingukan melihat isi ruangan. Michael menyimpan rokoknya pada asbak sederhana.


"Kau tampak kebingungan sekali. Ada yang kau khawatirkan?" tanya Michael pada Raden.


Raden tertawa canggung sebentar. "Tidak, aku cuman bingung saja harus berkata apa, hehe."


Michael menatap Raden dengan mata yang mengerut selama beberapa detik. "Ayolah, kau tak perlu canggung denganku. Kau juga tampak cemas sekali. Ceritalah padaku."


Senyuman di wajah Raden memudar seketika begitu mendengar ucapan Michael.


Michael menghisap rokok yang dipegangnya, lalu menghembuskannya kembali hingga asap-asap membentuk cukup tebal. Ia menyimpan rokoknya ke dalam asbak kembali.


"Saat aku hendak menjemputmu ke sini, aku melihat tanganmu penuh darah. Wajahmu tampak sangat kebingungan. Kau berlutut dengan lemas di depan jenazah kedua orangtua mu yang sangat mengenaskan. Aku penasaran, apa ada seorang kriminal yang membunuh kedua orangtuamu, hingga membuatmu trauma berat?" tanya Michael. Raden menundukkan kepalanya


"Tidak, tak ada seorang kriminal yang membunuh kedua orangtuaku..." jawab Raden dengan nada yang melemah.


Michael mengangkat alisnya. "Lalu, siapa yang membunuhnya?"


Raden menelan ludahnya. "...Itu aku. Namun, bukan aku."

Lihat selengkapnya