"Nah, ini dia daftar kita selanjutnya," kata Mora.
Raden menatap tajam monitor besar di depannya.
"Lucifer?"
Mora menjetikkan jarinya. "Yup, nama asli dia..." Mora menyeret dan mengetuk mouse yang dipegangnya. "Juan Skem. Dia ketua dari kultus aneh yang memuja teknologi. Mereka menyebutnya—The Black Hat Brotherhood," tambah Mora.
Raden menggaruk-garuk dagunya. "Hum... jadi, mereka ini pemuja teknologi atau pemuja topi hitam? Aneh, kenapa namanya bukan The Brotherhood of Technology aja, ya?"
Mora mengangkat bahunya. "Tak tahu, dan gak peduli. Yang pasti besok malam kau harus menagihnya. Kurasa para anggota kultus ini memang agak-agak..." Mora memutar-mutar jari telunjuknya ke samping kepalanya.
Raden tertawa kecil. "Kalau mereka begitu, lalu menurutmu gimana ceritanya mereka bisa pinjam uang?"
"Kau gak perlu jadi waras untuk pinjam uang ke Indi(e)go, bodoh. Selama kau punya jaminan dan kartu identitas, pasti di acc," jawab Mora. Tangannya pun menekan tombol kiri mouse hingga beberapa detik kemudian, komputer sepenuhnya mati.
"Iya juga, ya... aku lupa, hehehe," ucap Raden.
Pintu ruang kerja terbuka otomatis.
"Hei, kalian jadi belanja, gak?" tanya Michael sambil melangkah masuk ke ruang kerja. Begitu mendengar Michael berbicara, seketika Mora dan Raden saling menatap satu sama lain dengan mata yang membelalak.
"Let's gooo!" kata Mora dan Raden dengan kompak.
Michael menepuk jidatnya sambil tersenyum. "Kalian berdua ini kaya anak ayam yang kegirangan aja... Omong-omong, Mora, kau mau bawa Timmy dan Kimmy?"
Mora menoleh kepada Michael. "Kayanya enggak. Mereka disini saja biar markas ini gak begitu kosong."
"Ah, baiklah. Ayo, waktunya keburu malam," ajak Michael.
Michael, Mora, dan Raden keluar dari ruang kerja. Mereka berjalan ke belakang gedung Indi(e)go hingga tiba di garasi. Mora menekan tombol bulat merah pada sisi tembok garasi. Pintu garasi pun perlahan-lahan mulai terbuka secara otomatis.
Mora membuka pintu Xeon Car miliknya dengan ibu jarinya. Suara sistem dari mobil tersebut berbunyi.
[Akses diterima. Selamat datang kembali, putri Mora]
Pintu lampu dari Xeon Car yang sebelumnya berwarna merah, kini berubah menjadi ungu tua.
Michael dan Raden masuk melalui pintu belakang mobil tersebut. Lengan dan mata Mora sibuk mengotak-atik hologram di hadapannya. Raden melihat sekeliling interior mobilnya dengan wajah penuh takjub.
"Aku hampir lupa aku pernah menaiki mobil ini. Omong-omong, kenapa sistemnya menyebutmu dengan panggilan 'putri'?" tanya Raden sembari menatap Mora di kursi depan.
"Ya karena aku yang mengaturnya, lah. Ada-ada saja," jawab Mora disertai tawa kecil.
Di hadapan Mora, tampil menyumbul UI hologram biru muda menampilkan display fingerprint. Mora menekan tombol tersebut dengan ibu jarinya.
[Memuat data penuh...]
[Mobil dalam kondisi sangat baik ✓]
Mora menoleh ke kursi belakang. "Hey, jangan lupa kencangkan sabuk pengamannya."
Pandangan Mora fokus kembali ke arah setir. Mesin mobil mulai menyala. Lambat laun, suaranya semakin terdengar dengan kencang, begitu pun juga posisinya yang mulai melayang dengan ketinggian rendah.
Mora memutar Xeon Car melalui setirnya. Begitu arahnya mulai sempurna, Mora menarik tuas digital di samping kemudinya dengan sangat kencang. Mobil itu pun melesat dengan kecepatan tinggi.
---
Mobil tersebut berhenti di sebuah pasar yang cukup ramai digandrungi beberapa orang. Mora, Raden, dan Michael keluar dari mobil tersebut. Pintu mobil berubah menjadi warna merah.
Raden melihat di sekelilingnya berjejer tenda-tenda kecil lengkap dengan etalase berisi sparepart mesin-mesin bekas. Ada juga yang menggelar karpet kecil lalu menaruh sparepart mesin-mesin tersebut di atas karpetnya.
"Ikuti aku," ajak Mora pada Raden dan Michael. Di setiap jalan yang dilalui oleh mereka, mereka mendengar suara hingar-bingar orang-orang disekitarnya.
Mata Mora melihat mata setiap tenda yang dilaluinya dengan cukup teliti. Di tengah perjalanan, Mora melihat satu pedagang yang memajang paketan baut dengan banyak variasi dengan bungkus sederhana.
"Tunggu sebentar disini," ucap Mora menghentikan langkah Raden dan Michael. Mora membuat dirinya jongkok. Ia mengambil bungkus sederhana paketan baut itu.