Saat tirai gelap malam turun, apa yang dilakukan pagi menunggu gilirannya datang? Apakah ia bermain bersama jiwa-jiwa semesta yang tak terlihat? Atau bercengkerama bersama benda-benda galaksi? Atau ... mencurahkan perasaannya pada si Tuan Lubang Hitam? Di mana dia menunggu agar tak bosan?
Adam, dalam diamnya sesekali memikirkan pertanyaan-pertanyaan absurd seperti itu. Di luar ia terlihat tegas, disiplin, dan bukan orang yang suka berbasa-basi. Kelihatan susah diajak kompromi, terutama mengenai peraturan sekolah. Dialah sang ketua OSIS SMA Dharma Bangsa. Akan tetapi, jauh di dalam dirinya ada satu tempat berisi nyanyian-nyanyian sendu, irama-irama mellow, sisi di mana pertanyaan-pertanyaan absurd sesekali muncul jika bosan melanda. Jiwa melankolis tersimpan rapat saat berada di dunia nyata. Ketua OSIS, hanyalah tameng.
Hari ini, meski bertemu banyak orang baru, tetap saja baginya tak ada yang spesial. Hanya sebatas memenuhi tugas sebagai ketua OSIS yang membagikan brosur promosi di depan gerbang dan sesekali menjadi tour guide bagi calon siswa yang ingin berkeliling. Mengingat area sekolahnya paling luas dibanding SMA lain, mau tidak mau harus ada yang jadi pendamping dadakan menjelaskan fasilitas sekolah.
"Makasih, Kak," ucap seorang gadis berbaju biru muda lembut setelah menerima brosur.
"Sama-sama. Kalau mau berkeliling bilang aja. Saya dan teman-teman siap memandu," balas Adam.
Gadis itu pun mengangguk dan berlalu.
Tadi dari jauh memang sudah terlihat gadis itu cemberut. Mungkin karena terpaksa mendaftar ke sekolah swasta setelah gagal masuk ke SMA negeri. Keluarga gadis itu sudah terlebih dahulu masuk ke area sekolah, menunggunya yang sempat terhenti sebentar oleh ponsel yang berdering. Ia berbisik-bisik di handphone menunjuk-nunjuk gapura. Mengeluh karena harus berjalan beberapa ratus meter lantaran area parkir sekolah penuh.
"Kak, ayo! Panas," teriak anak laki-laki berkemeja hijau pastel yang sedari tadi menunggu di belakang gerbang.
"Iya, Riooo. Sabar," jawab gadis itu sambil membaca brosur. "Wait!" serunya tiba-tiba, lalu berbalik mendekati Adam yang sedang asyik mengetik di ponsel.
"Kak, maaf." Ia menepuk pelan lengannya. "Ini benar perpustakaannya lengkap, t'rus tiap tiga bulan sekali ada buku baru?"
Adam membaca brosur untuk memastikan informasi lalu berkata, "Iya, betul sekali. Perpustakaan kami memang paling lengkap dibanding sekolah lain dan sudah beberapa kali mendapat penghargaan. Setahu saya, yang paling luas juga se-kabutapen Dairi."
"Woow ... keren. Boleh minta tolong antar ke perpustakaannya nggak, Kak? Saya mau lihat langsung." Mata gadis itu berbinar-binar.
"Dengan senang hati. Ayo, ke arah sini, kita lewat aula. Ada taman yang bagus juga di sana. Kamu pasti jadi tambah suka sama sekolah ini."
Gadis itu pun mengangguk senang.
Adam berjalan mendahului ke gang kecil di samping pagar tembok pembatas sekolah. Ada jalan lurus panjang tembus ke tembok belakang. Beberapa tanaman hijau dan bunga-bunga menyambut setelah berjalan beberapa ratus meter. Seakan memanggil dan merayu untuk memuji keindahan kelopak warna-warni mereka.
Di dalam benak, Adam bertanya-tanya apakah gadis itu masih waras atau tidak. Bagaimana bisa perpustakaan membuatnya sangat girang. Memang, ada satu orang yang masuk ke sekolah ini karena lapangan basket, Dani Megantara namanya. Padahal, bermain bola basket saja tidak bisa. Ada juga David yang suka dan lebih jago bermain basket dibanding Dani, tapi terhalang kondisi kesehatan. Adam menggeleng-gelengkan kepala sebab akan bertambah satu lagi murid aneh di SMA Dharma Bangsa.
Selain basket, Dani juga menyukai perpustakaan. Bedanya, si Albert Einsten SMA Dharma Bangsa itu menggunakan perpustakaan sebagai penginapan sementara jika bosan di kelas. Kalau jam pelajaran kosong? Segera ia pulang ke rumah yang tak jauh dari sekolah. Walau termasuk 'hamba belajar', Dani masih sempat beberapa kali pacaran. Setelah putus, kembali jadi 'hamba belajar'. Keahliannya yang lain adalah bermain alat musik. Selain itu, kembali lagi ... belajar. Wajah mereka muncul bergantian di khayalan Adam. Sudah pasti mereka berdua akan sering bertemu di perpustakaan dan jadi teman diskusi yang baik, pikirnya.
Setelah melewati hawa dingin di belakang aula, menyeberangi lapangan utama dan turun ke lapangan bawah, mereka pun akhirnya sampai di depan bangunan unik bertuliskan perpustakaan. Gadis itu berdiri takjub tak henti-henti sedari tadi.
"Kak, aku mau masuk sekolah ini aja," ucap Rio tiba-tiba dari belakang. "Kak?" panggilnya sambil melambai di depan wajah gadis itu.
"Ck! Iya, Rio. Sama. Lihat itu perpustakaannya."
"Akh, biasa aja."