Di palung paling gelap sukma ini
Seberkas risau jalari perintangnya
Ada sulur-sulur bahasa, laten nampaknya
Semata oleh kesendirian ia lepas lerai
Kepingan benteng jatuh tersingkaplah hati
Tiada terkunci tapi tiada yakin benar terbuka
Semu sebab terpapar fatamorgana
Resah merapung akan nama gejolak sanubari
Pusaran tanya pun mencipta dimensi
Gundah riuh bertalu gema
Mencerai-berai nuansa
Ada apa gerangan dengan kalbu ini?
Seruan apa yang mengatup rungu ini?
Bukan, bukan apa yang terindra
Sebab-musababnya nirupa
Kiranya, apa simpul untuk benang serabut ini?
Satu hari berlalu sajak itu pun teruntai cuma-cuma. Mengalir keluar dari pulpen hitam yang menari-nari di atas kertas tiada terhambat. Dari awal hingga akhir meluncur mulus. Lega hati saat kata terakhir berhasil dituliskan.
Lima menit berlalu tiada lagi bait yang muncul. Adam pun menutup buku agenda bersampul hitam, beranjak ke tempat tidur, dan menarik selimut guna menghalau silau cahaya lampu. Ia bingung. Setelah lega, kenapa mendadak muncul hampa? Banyak pertanyaan tapi kemana semua aksara? Sungguh, tiada niat ingin membaca ulang puisi dadakan itu. Terlalu malu agaknya.
Topik puisi di buku agenda sekaligus diary itu kebanyakan berisi tentang persahabatan dan keluh jenuh aktivitas sekolah. Untuk kali ini, ada seseorang yang nyata lebih dari apa pun bertengger jadi sumber bahasa-bahasa melankolis. Uraian keluar begitu saja dari balik siluet gadis berbaju biru. Mematikan lampu pun tiada ada guna. Adam terlalu malu walau hanya untuk bangkit. Malu akan sisi lain diri. Malu mengakui di dalam dada ada sesuatu yang tak lazim. Bahkan malu sekedar membuka mata memandang tembok atau langit-langit kamar.
...
Dan, bapakmu yang bikin perpus sekolah kan?
Send
Bukan
Read