1 minggu sebelum MOS ....
"Minta tolong sama yang lain ajalah."
"Katanya kau mau cari cewek yang bening, Bown."
"Tapi nggak jadi anggota panitia MOS juga."
"Bantu ajalah. Kasihan Adam. Sekalian cari tahu siapa cewek yang bikin dia jadi bloon dari kemarin-kemarin."
"Dan, dia ketua OSIS, loh. Tinggal cari aja nama cewek itu di kantor guru. Gampang, kan?"
Adam menghembuskan nafas berat. Satu minggu sebelum MOS, seorang anggota panitia mengundurkan diri karena ada urusan keluarga dan ijin tidak masuk beberapa hari setelah libur usai. Buntu memikirkan siapa yang bisa membantu, sebagai pilihan terakhir, mau tidak mau ia mengajak teman-temannya yang kebetulan senggang. Memancing mereka bertemu di kafe dekat rumah David dengan umpan traktiran.
"Jadi, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa bantu? Kutraktir kopi Kantin Barat seminggu, tambah makanan lain kalau perlu."
"Oooh ... cuma segitu harga persahabatan kita, Dam? Ck!" David berpura-pura kesal lalu bangkit berdiri. Bukannya menuju pintu keluar, ia malah berjalan ke counter pemesanan. Mereka pun tertawa-tawa melihat tingkahnya.
"Dave, donat meses coklat dua, kopi gula aren satu," teriak Bownie di sela tawa.
"Ok. Kau mau pesan apa, Dan?"
"Donat isi keju enam, yang tiga dibungkus."
"Nggak sekalian kopinya dibungkus?" sindir Adam.
"Oh, iya lupa. Kopinya bungkus satu, Dave. Kopi yang biasa aja. Kasihan, nanti tekor komandan kita ini." Bukannya tersindir, Dani malah makin bersemangat membuat Bownie tergelak-gelak sendiri.
Adam menggeleng-geleng kepala, lalu menyeruput milkshake kesukaannya yang belum tersentuh dari tadi. Sudah ia duga mereka cuma berpura-pura menolak dan hanya menunggu tawaran traktiran itu. Begitulah memang persahabatan mereka. Dirinya sendiri pun tak jarang melakukan hal yang sama. "Si Sano kira-kira mau ikut juga nggak?" tanyanya lagi.
"Bapak bulenya lagi di rumah. Udah pasti dia nggak mau ikut."
"Kayak bapakmu nggak bule aja."
"Lah, Bapakku kan nggak ke mana-mana. Tinggal di sini. Bapak si Sano kerja di Dubai."