Keesokan harinya ....
"Udahlah, Dam. Kau aja lagi yang jadi ketua OSIS."
"Pusing kepalaku, No. Lihat aja tingkah manusia yang satu itu." Gerakan kepala Adam menunjuk Bownie yang sedang dikelilingi siswi baru di meja lain.
Pulang sekolah, mereka berkumpul di kantin menunggu David yang sedang ada urusan ke ruang kepsek. Bownie tadi hanya ingin menyapa adik kelas yang kebetulan sesuai tipenya, namun murid-murid perempuan lain ikut berkumpul mengelilingi. Ia pun mentraktir mereka, lalu meja itu bertambah ramai. Darah muda sekonyong-konyong bergelora sebab famboyan memang sudah lama melekat di sanubarinya.
"Untunglah murid kayak si Bownie ini cuma satu," ucap Dani sinis.
"Kalau ada dua, nggak cuma mundur dari OSIS, langsung pindah sekolah aku."
"Herannya, kita nggak malu ya punya teman sipanggaron seperti dia."
"Yah, mau gimana lagi, No. Sama kita aja yang jelas-jelas ada Adam di sini nggak bisa bikin dia tobat. Coba bayangkan kalau temannya orang lain ...."
"Hancur dunia persilatan," sambar Issano membuat mereka tertawa geger sampai ke telinga Bownie. Dari tempat duduknya, ia tersenyum puas pada mereka sambil menaik-turunkan alis.
"David kemana, Dam?" tanya Issano lagi. Dani di sampingnya seketika gelisah mendengar nama itu. Sambil menyeruput minuman, ia menimang-nimang apakah akan jujur pada mereka tentang perasaannya sebulan belakangan ini.
"Ke ruang kepsek ngurus absen," jawab Adam.
"Dari pada mondar-mandir ngurus absen, kenapa sekolah nggak bikin aturan khusus aja buat dia? Toh, tiap bulan pasti check up, kan?"
"Yang tahu dia sakit cuma kita, kepala sekolah, sama beberapa guru. Kalau dibuatkan izin khusus, mau nggak mau semua orang jadi tahu. Dia juga nggak mau diperlakukan istimewa seperti itu. Lagian, izin juga kalau dokternya nggak bisa hari Minggu, kan? Untunglah sekolah kita bisa memaklumi. Di sekolahnya dulu, malah disuruh pindah ke SLB. Nggak masuk akal."
"Apa pula hubungan SLB sama penyakit jantung? Ada-ada aja sekolahnya itu."
"Makanya dia betah di sini. Jangankan izin, guru BK ngasih satu ruangan khusus buat dia kalau butuh istirahat. Ada juga sesi kuis supaya nilainya nggak ketinggalan. Jadi kalau lama di ruang kepsek, itu mungkin karena ngurus absen sekalian sesi kuis."
"Kalau minta ke kepala sekolah supaya kita satu kelas, boleh nggak? Biar lebih gampang memantau, sekalian bantu-bantu belajar sebelum kuis." Dani membuka suara.
"Bownie juga bilang gitu dulu tapi David nggak mau. Kalau kita terlalu melindungi, orang-orang nanti jadi curiga. Dia lebih tenang diperlakukan seperti biasa aja, selain menyangkut izin."
"Setuju. At least dia masih bisa merasakan hidup seperti orang pada umumnya."
Adam dan Dani mengangguk setuju.