Fragmen Kisah yang Tersisih

myht
Chapter #10

Yang Paling Berharga

"Kenapa harus kelas olimpiade Biologi?"

"Nggak tahu. Cuma Biologi yang menarik."

"Kenapa nggak ekskul lain aja?"

"Sejak kapan aku suka ekskul? Kalau kelas satu nggak wajib ekskul mah mending nggak ikut. Males. Enakan juga main game di rumah. Kalau Kak Dave, ikut ekskul apa waktu kelas satu?"

"Relawan Sekolah."

"Oooo yang anggotanya siap siaga membantu itu?"

David mengangguk sambil tetap konsentrasi memainkan stick game. "Aku ketuanya dulu," ucapnya.

"Kereeeen."

"Tadinya mau ikut basket ...."

"Nooooo! Big No! Nanti aku lapor Om, lihat aja."

"Hahahaha ...." David tertawa mengelus-elus kepala Agitha.

Sore itu mereka berdua bermain game di rumah tante Agitha. David sudah berjanji akan meluangkan waktu minimal sekali sebulan hanya untuknya, sebagai syarat menyudahi perjodohan mereka.

"Betah di sini?" tanya David.

"Betah. Udaranya nggak jauh beda sama Bandung. Kalau pagi airnya dingin kayak es. Pemandangannya juga bagus, masih banyak pohon-pohon."

"Nggak mau balik ke Bandung lagi?"

"Tergantung. Kalau Kak Dave balik ke Bandung, aku juga ikut."

"Nggak kangen sama Om-Tante?"

"Nggak. Aku maunya sama Kak Dave. Titik."

Gemas, David pun mencubit lembut pipi Agitha dan memainkan ke kiri ke kanan. Ia sudah menganggapnya seperti adik sendiri.

"Udah gitu, Om Bagas sama Tante Karin juga baik banget. Aku nggak tega pindah lagi ke Bandung. Apalagi, mereka juga belum punya anak. Pas aku bilang mau ke sini, malahan mereka yang meyakinkan Mama sama Papa," tambah Agitha.

"Pantes kamar kamu dekornya detail banget."

"Kok, Kakak tahu?"

"Aku yang nyariin barang-barang kesukaanmu. Tante karin minta tolong sampai datang ke rumah. Itu lemari, meja rias, boneka, sampai warna cat tembok aku yang pilih."

"Iiiishhh, pantesan. Aku bingung, kok Tante Karin tahu banget kesukaanku."

Lihat selengkapnya