"Dave ... Dave ... Agitha dibawa ke rumah sakit."
"Hah?! Ke rumah sakit?!"
"Naik, kita ke sana sekarang!"
David yang baru saja membeli sarapan untuk Agitha naik ke boncengan motor Adam dengan panik. Plastik berisi bubur kacang hijau terhuyung-huyung diterpa angin saat motor melaju pesat. Mereka datang hendak mendukung Dani dan Agitha yang akan mengikuti Olimpiade, sekaligus menjalankan rencana berkenalan dengan Andrewi. Namun, kabar yang tiba-tiba itu menggagalkan semua rencana.
"Dia sakit apa, Dam?"tanya David di tengah perjalanan.
"Alerginya kambuh!" teriak Adam.
"Nggak mungkin. Dia belum makan dari tadi."
"Kata Pak Sirait, dia makan nasi goreng udang temannya."
"Hah?! Siapa yang ngasih?"
"Pak Sirait nggak tahu. Nanti kita tanya aja langsung."
"Jangan-jangan, ada orang yang mau ngerjain?"
"Tenang dulu, Dave. Kita dengar cerita Agitha dulu. Jangan buru-buru mengambil kesimpulan."
David pun terdiam. Dulu adik kecilnya itu pernah masuk rumah sakit karena alergi yang sama. Waktu itu mereka masih SD dan baru saja masuk sekolah setelah libur panjang. Agitha memaksa memakan bubur udang yang dibawa David, lalu menangis menggaruk-garuk sekujur tubuh hingga harus dibawa ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ke sana, David tak henti-henti menangis merasa bersalah. Tangisnya lebih kencang kala melihat Agitha terbujur dengan selang infus, sebab ia tahu bagaimana rasanya tersiksa di atas tempat tidur rumah sakit.
"Bunda, aku mau jagain Agitha biar nggak sakit lagi. Aku janji nggak akan makan udang lagi. Aku nggak mau Agitha masuk rumah sakit lagi," ucapnya terbata-bata.
Orang tua mereka tersenyum-senyum saja karena tak tega memberitahu kalau itu hanya alergi biasa, dan Agitha sedang tertidur lelap.
...
Sementara itu, di ruang tim olimpiade SMA Dharma Bangsa ....