Angin menjatuhkan dedaunan dari ranting pohon dan beberapa mendarat di kepala David.
Beberapa pasien anak sedang berlari-larian sambil tertawa di taman bermain rumah sakit, seakan baju pasien yang mereka kenakan adalah baju bermain. Sedikit rasa iri muncul sebab dulu ia bahkan tak kuat lama-lama berdiri, dan hanya menghabiskan waktu menonton dari balik jendela. Pernah sekali waktu David menyelinap keluar untuk bermain bersama pasien lain. Alhasil, keinginan wajar seorang anak kecil itu membuatnya berakhir di ruang PICU.
Tak lagi peduli dianggap lemah atau cengeng, air mata pun berlinang mengingat pencapaian terbesarnya adalah bertahan hidup. Itu juga harus ditebus dengan merelakan keinginan-keinginan sepele seperti bermain bola basket, sepedaan, atau sekedar begadang bermain game. Ketika orang tuanya berpisah pun, pasrah adalah pilihan tunggal. Berdalih sudah berusaha bertahan demi kesehatan David, padahal pertengkaran mereka seringnya dipicu karena alasan yang sama. Kedua orang dewasa itu mungkin sudah putus asa. Berpisah atau tidak, dampaknya sama saja.
Hubungan David dengan ayahnya tak jauh, tak juga dekat. Sosok itu ada sesuai porsi saja. Berbeda dengan ibunya, tak terbayangkan apa yang akan terjadi jika harus berpisah dengan orang yang menyayanginya setulus hati itu. Bunda Adelia sampai melepas pekerjaan impian demi merawat David. Itu jugalah alasan utama mengapa memilih pindah ke Sidikalang dibanding tinggal bersama ayahnya.
"Dave ...." Adam datang membuyarkan lamunan, lalu meletakkan tisu dan air mineral ke pangkuan David.
"Thanks."
"Sama-sama. Agitha titip maaf."
"Terserah dia ajalah."
"Menurutku, Agitha cuma butuh waktu. Kita masih sama-sama muda. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk bisa lapang dada di usia kita ini. Kasih dia waktu memproses penolakanmu."
"I've done everything she asked this whole time to redeem myself. But fine ... I'll see what I can do."
"Dave, all I'm saying is give her space without feeling bad about it. You can't help it if you don't feel anything for her, right?"
David menarik nafas dan menjawab, "Word."
"Excel," sambung Adam, lalu tertawalah mereka terbahak-bahak.
"Oh, iya, kalau hari ini nggak sempat, besok Agitha yang akan menjelaskan sendiri ke guru pendamping," ucap Adam kemudian.