Fragmen Kisah yang Tersisih

myht
Chapter #13

Diva

"Hai, Bocil."

David yang sedang bermain game menatap datar tetehnya, Diva. Sudah tiga hari ia berlibur ke Sidikalang. Hari pertama mereka bernostalgia melepas rindu, lalu kembali jadi tom and jerry di hari berikutnya.

"Kenapa? Nggak usah marah atuh, da kamu mah emang beneran masih kecil. Jangan durhaka sama tetehmu ini. Bundaa ... lihat David. Masih kecil tapi sok udah dewasa."

"Emang udah dewasa."

"Masa? Udah punya pacar belum?"

"Sejak kapan standar dewasa harus punya pacar dulu?"

"Sejak dulu kala, Bocil. Karena pacaran adalah tanda seseorang sudah bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan pacarnya."

"Wah, berarti si Bownie dewanya orang dewasa. Hebat euy! Kalau itu yang jadi standarnya, aku mah ogah jadi orang dewasa."

"Nah, makanya kamu itu cocoknya jadi bocil."

"Bunda, suruh Teteh pulang ke Bandung lagi aja. Berisik."

Di dapur, Bunda Adelia tersenyum-senyum mendengar pertengkaran itu. Ia pun melepas apron setelah meja makan tertata rapi, lalu memanggil mereka. David dan Diva kembali ribut berebut kursi di dekat bunda mereka.

"Bunda, kata ayah, Bunda sama Ayah mau rujuk lagi, ya?" tanya Diva di tengah-tengah asyik memakan seblak goreng.

"Serius, Bunda?" Mata David membelalak bahagia.

"Beneran, Dave. Ayah juga mau datang ke sini. Nginep."

Bunda Adelia mengangguk, lalu David menghambur memeluk. Diva yang duduk di seberang bangkit berdiri ikut mendekap haru. Betapa sempurna hari di mana makanan enak dan kabar bahagia bersatu padu.

Pelukan itu pun buyar oleh dering suara handphone Bunda Adelia. Darius, nama ayah mereka, tertulis jelas di layar. David dan Diva serempak menyoraki dengan gemas.

"Orang dewasa lagi ada urusan, nih. Anak-anak kecil Bunda, nanti tolong rapikan meja makan sekalian piringnya dicuci bersih, ya," perintah Bunda Adelia membuat godaan mereka kian kencang mengiringi langkahnya ke ruang depan.

...

"Dave, Teteh mau tanya sesuatu," ucap Agitha sambil mengeringkan piring dengan serbet. Air dari keran wastafel memercik ke sana sini.

"Hm." David asyik menggosok gelas.

"Bahasa inggris gadis yang matanya bersinar apa, ya?"

"Maksudnya apa itu, Teh?"

"Mata Agitha warna hitam, kan?"

David berpikir sebentar. "Iya, hitam," ucapnya.

"Berarti harusnya hitam dan bersinar, dong?"

"Teteh mau membahas apa, sih? Kalau mau jadi orang gila, sendirian aja sana. Jangan ngajak orang lain."

Diva memukul kepala adiknya pelan. "T'rus, Bright Eyed Girl itu siapa? Agitha bukan?" cetusnya.

Tangan David mendadak berhenti. Matanya menatap tajam. Diva tahu apa yang akan terjadi dan perlahan-lahan mundur. Ia mengeluarkan ponsel David dari kantong celana, lalu melet-melet mengejek sebelum kabur.

"Teh Diva!" teriak David kencang mengejar.

Di halaman belakang, Diva melambaikan ponsel ke udara dengan meja taman sebagai tameng. "Salah sendiri passwordnya belum diganti," ucapnya senang berhasil mengerjai.

Lihat selengkapnya