Selagi Adam tenggelam dalam samudera tarian di atas kertas, Dani dan Issano sedang melatih David di lapangan basket.
"Hai, Drewi. Kenalin aku David. Aku boleh tahu ...."
"Astagaa, si David ini kuper, kudet, katro, atau apa cocoknya ya, Dan?" Bownie yang baru datang mengomel sembari berkacak pinggang.
"Makanya, kau si Raja Cinta yang harusnya pertama kali sampai ke sini."
"Ck! Sorry sorry, ada urusan tadi. Cerewet kali-lah si Dani ini, kayak inang-inang. Dave, coba ulangi lagi tapi lebih natural."
"Siap, Komandan! Hai, Andrewi, aku David. Boleh ... tahu namamu?"
"Lah! Kan tadi sudah kau panggil namanya. Ngapain kau tanya lagi?"
Dani dan Issano spontan tertawa terbahak-bahak.
"Coba kau tiru ini." Bownie mengambil posisi seakan sedang berbicara dengan seseorang. "Drewi, Adam sudah pulang belum? Aku David temannya. Kamu pasti Andrewi yang jadi Putri Lopian, kan?"
Mereka pun serempak bertepuk tangan memuji gerak-geriknya yang sangat natural.
"Coba ulangi, Dave," perintah Bownie lagi.
"Drewi, Adam sudah pulang belum? Aku ... David temannya. Kamu ... yang jadi ...."
"Salah. Ulang."
"Drewi, Adam ... sudah pulang? Kamu yang jadi ...."
"Salah! Ulangi lagi!" Bownie tak kuasa menahan emosi.
"Drewi .... Ck! Tulis ajalah, Bown. Biar kuhafal."
"Halaaaah," teriak mereka serentak.
"Sudahlah! Nggak usah latihan-latihan! Langsung sosor aja, Dave. Bawa ke Gereja, langsung pemberkatan kalian di sana."
Dani dan Issano pun terbahak-bahak. Murid-murid yang sedang bermain bola basket menoleh penasaran. David terduduk lemas di lantai, sementara Bownie berkacak pinggang masih mengomel.