"Sorry, Dave," ucap Dani penuh sesal pada David yang melangkah gontai gagal menyusul Andrewi.
"Gila, di depannya kau bikin dia nangis? Mampuslah."
"Bown."
"Sorry, Dam." Bownie lekas menutup mulut.
"Ngomong apa aja sampai dia nangis gitu, Dan?"
"Tadi ... murid Limbad, ilmu kebal ... itu aja."
"Menurutku bukan karena itu aja dia nangis, Dave." Adam menengahi. "Beberapa hari ini dia diteror juga kan sama Ibu Silaban. Mungkin hari ini puncaknya. Nanti kalau udah aman, jelaskan aja langsung," tambahnya.
Suasana di antara mereka pun hening. David tak merespon dan hanya memandang dingin Adam. Hari itu pun berlalu dengan atmosfer yang tak biasa.
...
Di belakang aula, pagi hari sepi, Adam dan Dani duduk jongkok berhadap-hadapan sambil mengunyah pisang goreng hangat. Dani menelepon dini hari untuk meminta saran apakah harus minta maaf pada Andrewi setelah mengolok-oloknya dua hari lalu di kantin Timur. Mereka pun sepakat bertemu pagi hari di belakang aula untuk membahas. Kala jam masih menunjukkan pukul 05.00, ia mendesak lagi hingga Adam harus berangkat pagi-pagi sekali.
"Kalau kau gelisah, berarti perlu minta maaf."
"Caranya? Cara terbaik supaya David nggak curiga?"
"Minta maaf aja nggak akan membuat dia curiga. Justru, bisa jadi dia sendiri yang menyuruhmu minta maaf."
"Nah, itu yang bikin aku bingung. Mau inisiatif sendiri, takut dia curiga. Menunggu disuruh, sampai sekarang belum ada info apa-apa."
"Belum, mungkin. Kita kan nggak tahu si Andrewinya masih marah atau enggak. Nanti kami ada latihan, kukabari kalau memang perlu minta maaf. Sekarang tugasmu cari cara supaya dia nggak curiga."
"Siap, Kapten! Memang nggak salah aku meminta saranmu, Pak Ketua. Nanti makan siang kutraktir, ok?"
Adam segera menolak dengan dalih itulah guna seorang sahabat. Namun sampai mereka beranjak menuju kelas masing-masing, Dani tetap meneriakkan tawaran-tawarannya. Mulai dari mentraktir makanan enak, traktir ke warnet satu minggu, sampai mencarikan pacar. Tanpa berbalik, dari jauh Adam mengacungkan jari tengah, kesal karena teriakan itu tak kunjung berhenti. Dani pun tak mau kalah dengan mengacungkan dua jari tengah kiri dan kanan berkali-kali.