Kejujuran yang terlambat akan berubah jadi dusta. Merubah isi hati yang murni jadi palsu. Dusta tidak hanya akan memalsukan isi hati, namun juga emosi diri. Di sanalah nanti hati terdesak memanipulasi bilah tulus yang tadinya damai. Lalu di ujung bait, damai sudah tercerai-berai oleh angin. Bagai mengumpulkan debu yang beterbangan, begitulah keadaan tidak akan pernah sama lagi.
...
Langit legam dan jemari rembulan begitu serasi berdansa di tiap jengkal waktu. Mestinya, raga yang lelah ditempa kesibukan akan mudah terlelap, namun lagi-lagi Adam enggan menuruti kantuknya. Begitu sampai di rumah setelah pulang dari rumah Dani, ia masih duduk termenung di kursi belajar. Berpangku tangan menekan buku agenda sampai-sampai bagian tengahnya patah dan beberapa kertas terlepas.
Ia memutar ulang hari. Penyesalan menggema sebab telah gagal menahan emosi kala beradu pandang dengan David. Gerah cemburu menguasai kala teman-temannya mengucapkan simpulan yang sama dengan keresahannya -sinyal positif Andrewi. Jaring-jaring iri merambat sebab terlanjur tak akan lagi bisa seperti David dan Dani yang bebas mengutarakan perasaan. Terlambat sudah meminta bantuan menghilangkan perasaan terpendam. Hingga mata cemburu dan iri itu lepas begitu saja, sama seperti saat di kantin lalu.
Tak ada yang bisa disalahkan selain diri sendiri. Ia yang terlambat jujur dari awal. Kini bila mencoba untuk jujur, pastilah sudah terlambat. David sudah memulai babak baru. Tidak mungkin serta merta mengacaukan begitu saja. Buah kesal pun harus ditelan bulat-bulat sambil tetap bersembunyi di balik topeng kepalsuan. Jalan untuk kembali jadi diri sendiri kian rumit di tiap waktu.
Sejauh ini, hanya di hadapan Andrewi Adam masih bisa jadi dirinya sendiri. Berbicara santai walau kadang membias karena tingkah imut yang tiba-tiba. Sesekali tertawa lepas, bersenda gurau, dan berdebat tentang apa saja. Hanya dia pula yang tahu sisi puitis yang sebelumnya tersimpan rapat tanpa celah. Betapa menyenangkan jika saja bisa menulis puisi bersama setiap hari, tanpa malu terbuka apa adanya tentang sisi itu.
"Membuat puisi bersama, puisi tentangnya di hadapannya. Puisi indah tentang betapa indahnya dia di mataku."
Bait-bait itu tidak tertulis di kertas tapi disuarakannya. Berharap membantu tenangkan hati yang masih saja terasa sakit. Kepala menelungkup menutupi agenda setelah bait-bait terucap. Malu ia pada diri sendiri sebab terlalu cengeng belakangan ini.
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan