Fragmen Kisah yang Tersisih

myht
Chapter #27

Senyap Seteru

Botol milkshake tiba-tiba muncul di depan wajah Adam yang sedang memandangi sepatu hitam pekat. Terselip kebanggaan baginya sebab mampu menjaga sepatu itu tetap hitam sempurna setiap hari. Dingin botol yang menyentuh hidung pun mengagetkan. Kala mengangkat kepala, terlihatlah David menyeruput minuman yang sama. Seketika ia mencengkeram dan menarik minuman itu.

"Woo ... wooow." David refleks mundur. "Rileks, Ma Bro," ucapnya menarik sedotan dari botol. Ada bekas terbakar di salah satu ujungnya.

"Sialan," umpat Adam lega.

David tertawa ikut lega sebab ternyata sahabatnya itu masih sama seperti dulu. Sisi lain hati mencair, lalu mereka pun terbahak bersama. Adam menyeka air mata sangking terpingkal-pingkal. Pagi-pagi di kolam renang, mereka bertemu kembali untuk membahas rencana meminta nomor handphone Andrewi. Tawa itu membuka diskursus dengan indah.

"Tadinya mau kuminta sendiri, tapi tahu sendirilah, Dam," kata David di sela pembahasan.

"Apa susahnya, sih? Cuma minta nomor handphone, bukan minta restu orang tua."

"Ngomong 'hei' aja perlu satu tahun."

"Kemarin-kemarin Dani telpon membahas perkembangan kalian. Kata dia, butuh satu abad malah."

Mereka kompak tertawa lagi, namun lebih ringan sebab otot perut menegang.

"Dam, jujur ... sebenarnya aku sempat curiga," ucap David tiba-tiba.

"Curiga kenapa?"

"Curiga kalau kau juga suka sama Andrewi."

Telak! Adam terkunci mati. "Gila, Bro. Nggak mungkinlah," namun ia masih berusaha menutupi.

"Apa yang nggak mungkin? Dani aja suka."

"Kau ngomong gitu dapat ide dari mana, Dave?"

"Gerak-gerikmu."

Suasana tegang terulang. Jeda hening memacu adrenalin, menantang Adam melontarkan pertanyaan terlarang. "Kalau iya, kenapa?"

Raut wajah lawan bicaranya adalah kebenaran yang membuat David membisu. Deru napas meningkat kala jawaban datang lebih cepat dari rencana. "Kau sendiri pasti tahu kenapa kita jangan sampai bersaing, Dam," ucapnya kemudian.

Lihat selengkapnya