"Aku yang ngajak langsung, Git. Di perpustakaan." David berseru di seberang telepon.
Malam itu, Agitha kembali mendengarkan dengan sungguh cerita David tentang hari-harinya. Ada beberapa topik baru, tapi yang masih terus muncul adalah bagaimana laki-laki itu merasa rendah diri, apalagi jika berkaitan dengan perempuan bernama Andrewi.
Pernah dia bercerita tanpa jeda. Di hari Adam mengutarakan keinginan bersaing secara fair, seluruh kisah sedih terurai rinci. Berkata bahwa kehidupan seperti kembali ke titik awal, titik mula kehancuran. Disebutnya kehancuran karena di dalam adalah inanitas. Tak ada warna, hitam putih pun tidak. Kosong mengisi kosong.
"Semoga semua ini nggak sia-sia. Untuk apa jauh-jauh pindah ke kota Sidikalang kalau akhirnya kembali ke titik awal," ucap pujaan hatinya itu. Setiap kata, emosi, dan sakit di dalam ucapannya begitu nyata.
Semula, semua memang indah. Ada kehidupan baru ketika David bertemu sahabat-sahabatnya. Hingga, bertemulah ia dengan Andrewi. Bukan hanya lembar baru, rasanya, seperti mampu mengejar gunung di kejauhan dan memasukkan ke dalam pelukan. Tersadar masih ada harapan di hari-hari setelah pertemuan itu, mendorongnya untuk berani meminta umur panjang pada Tuhan.
"Harapan yang terlalu indah sampai membuat aku lengah," ucapnya untuk kesekian kali menggambarkan putus asa. Ternyata harapan indah itu hanya ilusi. Titik pijakan masih di tempat yang sama seperti dulu. Seperti angan-angan saja. Seperti fatamorgana kala berjalan di tengah padang gurun tanpa tepi.
Seperti sore tadi, David mengulang cerita lagi, sebelum akhirnya berseru senang akan kencan tak langsung di perpustakaan bersama Andrewi. Setelah pulang dari rumah Dani, ia mendengar ibunya berteriak-teriak sambil menangis pada ayahnya di ujung telepon. Dinding-dinding kamar meredam sebagian suara, namun tetap saja masih terdengar namanya disebut-sebut. Persis seperti di Bandung dulu, di rumah megah tempat keluarganya pernah bahagia.
Mengira pertengkaran itu hanya sebentar, ia pun berbaring di tempat tidur. Sampai puluhan menit berlalu, ternyata tak jua reda. Mereka masih memperebutkan David. Merasa paling berjasa merawat dan paling berhak sebagai orang tua. Telinganya panas. Jangan sampai tetangga mendengar teriakan demi teriakan itu, pikir David sambil keluar kamar menutup semua tirai jendela.
Di pinggir ranjang, saat akan kembali rebah, ia melihat koper cokelat tua yang teronggok di bawah meja belajar. Koper yang biasa digunakan sebagai penopang kaki saat belajar. Suara-suara teriakan itu membawa kenangan yang rasanya sudah sangat lama terlupakan. Mendorongnya untuk menarik koper, membuka, lalu mengangkat sebuah kardus sepatu dari sana. Di dalam kardus itu ada sebuah headphone dan ipod hadiah ulang tahun dari Diva. Dulu, benda-benda itulah yang jadi teman untuk mengusir rasa bosan dan amarah ketika orang tuanya bertengkar. 3 tahun sudah benda itu tak terpakai. Tepatnya, sejak pindah ke Sidikalang dan memiliki sahabat.
Tak menyangka akan mengulang kembali ritual yang sama, dengan berat hati David memakai headphone, menghidupkan ipod, lalu memutar acak isi playlist. Begitu musik mengalun masuk ke gendang telinga, ia pun tersenyum. Suara-suara dari luar membisu. Dunianya seakan tertarik ke dalam lagu, berputar, dan berdentam mengikuti irama, sampai akhirnya Agitha menelepon.