Fragmen Kisah yang Tersisih

myht
Chapter #31

Sokongan Sejati

Satu hari setelah Andrewi pulang dari rumah sakit, Dani dan orang tuanya kembali datang menjenguk. Ayahnya ingin meminta maaf langsung. Sebagai kepala keluarga, ia tidak ingin anak-anaknya terlibat masalah. Ibu Dani setuju dan membawa beberapa makanan sebagai buah tangan.

Ayah Andrewi menyambut dengan wajah sedikit masam di pintu pagar rumah. Ia masih belum terima putrinya pergi tanpa izin walau pergi beramai-ramai. Rio berdiri di sampingnya kaget, sama halnya dengan Dani yang tak menyangka mereka akan bertemu kembali di sana.

Rio adalah anak kecil yang dua tahun lalu pernah meminta bantuannya mengantar ke lapangan basket. Dani dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang sekolah di sepanjang perjalanan, termasuk memberikan nomor handphone untuk membahas lebih banyak tentang basket. Kebetulan mereka menyukai olahraga itu dan mengagumi beberapa idola yang sama. Bedanya, Dani kurang mahir, sementara Rio adalah atlet basket kebanggaan di sekolahnya. Sejak itu, sesekali Rio juga menanyakan tugas sekolah dan meminta saran untuk beberapa hal.

Di dalam hati Dani ada percik bahagia lega, sebab ternyata selama ini, secara tidak langsung, ia begitu dekat dengan Andrewi. Ini seperti balasan atas pengorbanan menanggung amarah juga tatapan galak ayah gadis itu.

"Sebenarnya, yang di rumah sakit juga sudah cukup, Eda (panggilan akrab antar wanita dewasa di suku Batak). Boru kami pun sudah baikan, kok," ucap ibu Andrewi yang baru datang dari dapur, membawa nampan berisi kue lappet beras dan teh manis hangat. Setelah selesai bermaaf-maafan, ia dan ibu Dani berbincang di ruang tamu, sementara suami mereka berbincang di teras rumah.

"Iya, ini suami saya yang mau, Eda. Takut Dani bikin masalah besar katanya. Selama ini nggak pernah neko-neko, makanya dia langsung ketar-ketir waktu dikabarin," balas ibu Dani dari tempat duduknya.

"Akh, itu suami saya aja yang terlalu emosi. Biasalah, anak cewek satu-satunya dan anak pertama pula. Padahal, namanya juga anak remaja, memang lagi romantis-romantisnya, kan?"

"Iya, Eda. Jadi ingat masa-masa sekolah dulu."

"Iya, kan, ahahahha." Mereka tertawa lucu. Gelak tawa kian kencang kala mereka lanjut bercerita tentang percintaan masa muda.

...

Sementara di teras rumah, Dani duduk banyak tertunduk, dengan Rio di sampingnya sesekali bertanya ini itu. Kedua keluarga itu akrab setelah melewati suasana tegang di awal. Apalagi ternyata ayah Andrewi dan Ayah Dani sama-sama hobi berkebun.

"Memang begitulah anak laki-laki ini, Lae (panggilan akrab antar pria di suku Batak). Kadang-kadang harus kita yang turun tangan supaya tidak bikin masalah di luar."

"Ya, sudahlah, Lae. Di rumah sakit juga sudah selesai semua. Janganlah dihukum. Saya kira mereka pergi berduaan makanya saya marah sampai meledak-ledak."

"Sahali nai, mauliate ma di hamu. Anakku ini orang baik-nya, Lae. Pintar di sekolah."

"Memang kelihatan juga dari cara bicaranya waktu di rumah sakit.Tapi tetap harus izin dulu kalau mau bawa anak Tulang (om/paman) jalan-jalan ya, Dani. Paling nanti Tulang tanya-tanya sedikit. Enggak langsung diusir."

"Dengar itu, Dani."

"Iya, Tulang."

"Ya, sudah cukuplah. Sudah capek kau dari tadi kami nasehati terus. Makanlah dulu pisang goreng buatan Nantulangmu itu. Jago dia itu masak."

Lihat selengkapnya