1 hari lalu ....
"Kak, dua hari lagi gladi resik, ya?"
Adam mengangguk sambil tak lepas menatap Andrewi yang masih asyik mencoret-coret kertas naskah dengan pensil. Mereka duduk bersandar ke dinding menunggu giliran tampil.
"Aku takut."
"Sama."
Andrewi mengangkat kepala membelalak tak percaya. "Bohong. Bukannya Kakak tiap hari tampil di depan orang banyak? Disuruh menghadap presiden pun pasti percaya diri."
Pujian itu membahagiakan hati Adam. Sanjungan Andrewi sering kali ia anggap sebagai sinyal. "Apa yang kamu bikin takut?" tanyanya, tetap cool.
"Aku takut membayangkan berdiri di atas panggung, di depan banyak orang."
"Ah, masa, sih? Waktu MOS kamu asyik-asyik aja."
"Hah? Yang mana, Kak?"
"Yang lagu Keong Racun."
"Iiiiih, Kak Adam," Andrewi mencubit lengan laki-laki itu.
Adam tertawa sembari mengelus-elus bekas cubitan. "Tenang aja, nanti kubantu sebisa mungkin," ucapnya kemudian.
"Bantu traktir ice cream sekalian, biar mood-nya bagus lagi."
"Kamu suka ice cream?"
"Suka. Siapa yang nggak suka ice cream?"
"Tapi di formulir profil, nggak ada tertulis kalau kamu suka ice cream." Adam cepat-cepat mengatupkan mulut dan menyesali kelalaiannya.
"Profil?"
"Maksudnya ... dari profil kamu saat ini. Yang kelihatan saat ini. Dari luar kamu nggak kelihatan seperti orang yang suka ice cream," tergagap ia berkelit.
"Galak, yah?"
"Iya."
"Kak Adaaaam." Andrewi mencubit lebih kencang.
Adam mengaduh kesakitan, menarik perhatian peserta lain termasuk David. Dari kejauhan ia mengawasi saksama. Cemburu, marah, kesal, dan tidak berdaya bersatu menggelisahkan. Sebelumnya, beberapa kali ia bersitatap dengan Andrewi, namun segera memalingkan muka. Debar jantung masih sama seperti saat pertama kali bertemu dulu. Tidak ada yang berubah. Hanya dirinya yang semakin jauh. Kalau saja di naskah ada dialog antara mereka, maka semua orang akan tahu bagaimana kerasnya ia berusaha menekan rasa cinta demi menghindari Andrewi.
...
"Kak ...."
"Ya?"
"Kak David kenapa?"
Nama dan nada sedih mendadak itu seperti angin beliung yang menyesakkan dada. Adam mengikuti ke mana tatapan Andrewi. Di sana, David sedang asyik berbincang dengan pemeran-pemeran lain. "Lagi banyak urusan," jawabnya tak bersemangat.
"Urusan apa sampai kayak orang lain, gitu?"
"Maksudnya?"
Andrewi menoleh dan memicingkan mata. "Kalian bukannya temenan, ya, Kak?"