Ketetapan hati bisa saja mendadak goyah di detik penentu. Keyakinan yang semula penuh dalam sekejap bisa runtuh. Bagai semburat jingga yang lebur jadi gulita kala matahari pulang ke pelukan samudera. Banyak 'seandainya' tercipta ketika detik penentu sudah berlalu. Penyesalan menjadi salah satu konsekuensinya. Walau tak akan kembali lagi detik itu, pada akhirnya, hanya orang-orang hebat yang berhasil mengambil keputusan di saat genting. Hanya orang-orang berjiwa baja yang berjalan dan bertahan sampai akhir, dengan tetap menggenggam penuh setiap konsekuensi dari keputusannya.
...
David duduk sendirian di backstage. Belum ada orang karena ia memang sengaja datang pagi-pagi untuk mengatasi rasa gugup. Hampir saja ia batal meneruskan pertunjukan, kalau saja Agitha tidak meminta bantuannya untuk mengantar ke sekolah —Agitha harus berdandan lebih pagi bersama grup vokalnya.
"Wiiih keren amat, Bro." Dani, ditemani oleh Sano, menghampiri David yang sedang membersihkan celana dari debu. Bahan celana yang dipakainya berkualitas buruk, sampai-sampai debu suka sekali bersarang. Apa boleh buat, sudah terlambat untuk protes ke Bu Gempal dan meminta uang kembali. Kalau dipikir-pikir, dengan uang segitu, harusnya bisa membeli pakaian yang kualitasnya lebih bagus.
"Tumben-tumbenan bro kita yang satu ini morning person."
"Ngantar si Princess dulu tadi."
"Bukan mau menunggu si anu-anu?"
"Pake nanya lagi kau ini, No. Sudah pastilah. Cinta membara ini. Cinta membara yang tiada tandingannya." Dani dan Sano mulai saling sahut-menyahut menggodai David yang hanya bisa pasrah, lalu menyingkir ke sudut ruangan.