"Aku kira Kakak sudah ngomong sama mereka. Soalnya, tadi pagi, Kak Adam minta aku ngajakin Shaniar dan Andrewi ikut ke puncak. Mau nginep di villa keluarganya yang ada di sana," ujar Agitha membela diri. Di jalan ke rumah Dani, sepulang dari Pensi, David memprotes keputusan sepihak Agitha.
"Mau ngapain ke sana?"
"Mau bikin acara perpisahan buat kita. Andrewi diajak sekalian supaya Kakak bisa nembak dia. Biar nanti di Bandung, Kakak bisa fokus sama perawatan aja, gitu. Ini pesannya," Agitha menunjukkan pesan Facebook Adam yang berderet ke bawah. Isinya kegiatan yang akan mereka lakukan di puncak; bakar-bakaran, menyanyi, games, nembak Andrewi, dll.
"Ck! Bodoh-bodoh." David memukul-mukul kening. Pantas saja Adam marah besar tadi, pikirnya. Sahabatnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. "Nanti di Bandung aja aku jelaskan. Dia masih terlalu marah kalau aku jelaskan sekarang. Iya kan, Git? Aku benar, kan?"
Agitha menggenggam erat tangannya dan berkata, "Iya, aku setuju. Nggak usah dipaksa kalau belum siap. Bagaimana pun juga, kalian itu sahabat. Pasti pada akhirnya akan saling mengerti. Aku yakin."
"Semoga," ujar David penuh harap. "Ya sudah, kamu pulang duluan aja, Git. Mobil jemputanmu udah nungguin dari tadi. Aku masih ada urusan sebentar." Ia berbelok ke gereja Karo.
"Loh, bukannya sebentar lagi kita mau berangkat?"
"Aku mau nunggu Andrewi. Mau pamitan."
"Atuh jauh amat nunggu di sini. Di gerbang aja, Kak. Aku temenin, deh."
"Ada papanya. Kalau dia keluar sendirian, baru aku ke sana."
"Oh, I see." Agitha pun mengikuti David duduk di dekat gapura gereja.
Lama mereka menunggu di sana, namun tiada tanda-tanda Andrewi akan keluar. David kian putus asa setelah ibunya mengirimkan pesan untuk kesekian kali. Sudah menunggu terlalu lama, ia pun meminta bantuan Agitha untuk membawa Andrewi ke sana. Setengah mengemis dan berjanji itu adalah permintaan terakhirnya.
Agitha terkejut dengan ucapan David. Mimpi tadi malam serta-merta berkelebat menyuarakan komitmen yang terucap saat menutup pagar. Maka, dengan hati tegar bersama kepingan-kepingan ego yang sudah hancur, gadis itu pun mengangguk. Langkahnya diiringi ucapan terima kasih dan senyum manis David. Senyum yang persis sekali seperti di mimpinya kemarin.
Ditemani angin ramah, hati lapang, juga komitmen kuat, Agitha menuju gerbang sekolah. Tulus, agar lelaki yang dicintainya itu bisa merengkuh kebahagiaan, walau hanya sebentar. Sebab David sudah bercerita banyak, termasuk telah melepas Andrewi dari harapan-harapannya.
...
Sementara David tengah berlatih ini itu di halaman gereja, sebuah pesan masuk dari ibunya.
Dave, Diva sudah sadar
Kita berangkat sekarang
Diva nyariin kita.
Read
Deg!!!
Lagi-lagi hal seperti ini terjadi. Lagi-lagi tidak ada waktu untuknya berkompromi. David mengacak-acak rambut dan dengan segala waktu yang masih ada memanuver keadaan. Ia mengirimkan pesan pada Agitha untuk membatalkan rencana.
Gita, maaf aku mundur. Diva sudah sadar. Aku juga belum siap jujur ttg penyakitku.
Send
David merutuki diri setelah pesan terkirim. Setelah menenangkan diri, ia pun keluar dari halaman gereja dan berdiri di depan gapura. Saat itulah ia melihat Andrewi sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Meski terlihat kesal, gadis itu sungguh bercahaya di matanya. Indah sekali. Muram hidup belakangan ini berganti menjadi sinar hangat. Memandang wajah itu sangat cukup memberi kekuatan untuk melanjutkan hidup. Hanya dengan melihat dari jauh saja, hatinya telah penuh sukacita.
David memutar tubuh kala mobil jemputan Agitha lewat. Kedua kaki melangkah membawa hangat sanubari bahwa hidupnya dan Andrewi pasti akan baik-baik saja. Ada Adam yang akan menjadi orang yang bisa diandalkan oleh gadis itu, pikirnya. Mereka pasti akan jauh lebih bahagia tanpa dia. Tidak akan ada yang menghalangi lagi, tak akan kekurangan, tak akan dihampiri oleh rasa kecewa, bingung, dan kesedihan.
David berjalan sembari menyentuh dada yang penuh kehangatan dari pancaran aura Andrewi. Tersenyum menyongsong sinar senja sore itu. Tidak apa-apa, tepuknya di dadanya sendiri. "Andrewi pasti bahagia," ucapnya berulang-ulang sebelum menaiki motor.
The End
...
"The End?"
"Yups."
"Udah gitu doang?"