"Andrewi ..." panggil Dani setelah tangis mereda. Dilepaskannya dekapan, menghapus air mata Andrewi, dan menuntunnya berdiri. Lagi-lagi, sama seperti saat tragedi nasi goreng di Olimpiade dulu, ia sungguh tak sampai hati melihat gadis itu menangis. Issano dengan sigap membawa kursi untuk tempat Andrewi duduk, sementara Agitha dan Shaniar memapah Adam ke sisi lain untuk membersihkan luka-lukanya.
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, Drew, tapi aku harus ungkapkan ini sekarang," lanjut Dani setelah suasana tenang. Ia kini berlutut dengan satu kaki sembari menggenggam tangan Andrewi. "Kafe ini tadinya kami hias spesial untukmu. Maaf, keadaannya jadi seperti ini."
"Dani bolak-balik Jakarta-Bandung untuk semua ini, Drew. Bucin banget dia," celetuk Shaniar dengan sedikit logat Jerman. Andrewi, yang tadinya masih kebingungan, tersentak halus, kehilangan kata-kata. Dani pun tersenyum malu-malu.
"Dari dulu ..." ucap Dani lagi. "Dari pertama kali melihatmu di perpustakaan, aku sudah menyukaimu, Drew. Tapi aku merelakan perasaanku supaya kamu dan David bahagia. Kupikir begitu. Tapi ternyata mereka sama sekali tidak memikirkanmu. Mereka merasa paling pantas, tapi yang mereka lakukan hanya menyakitimu. Andai tahu lebih cepat, aku akan menarikmu ke sisiku agar kamu tidak tersiksa seperti ini." Suara Dani bergetar menahan tangis.
Semua orang yang ada di sana mengharu-biru. Berharap waktu berputar kembali ke masa lalu agar tidak ada orang yang terluka dan menangis.
"Masih ada banyak hal yang akan kuceritakan dan akan kuceritakan apa pun yang ingin kau tahu, Drew. Jadikan aku tempatmu bertanya, menangis, marah, dan kecewa. Sudah lama aku ada di sampingmu. Kamu bisa tanya adikmu. Aku sering nanyain Rio tentang kabarmu."
"Kak Dani kenal Rio?" tanya Andrewi lemah di sela sesunggukannya.
Malu-malu, Dani mengangguk. "Kami lumayan sering ngobrolin kamu," ucapnya, menggaruk kepala.