Fragmen Memori Praka

Bilsyah Ifaq
Chapter #1

Distorsi Kebahagiaan

Aroma melati yang lembut selalu menyapa Praka setiap kali ia melangkah masuk ke ruang tamu. Di sana, istrinya, Sari, sedang menata bunga di vas kristal sambil melemparkan senyum yang mampu meluluhkan segala gundah. Praka sering kali menyesap kopi hitamnya sambil memilin ujung kemejanya, sebuah kebiasaan kecil setiap kali ia merasa terlalu bahagia. "Kopi ini pas, seperti hidup kita," bisiknya dengan suara serak yang tenang.

Kedua putrinya, Gendis dan Arum, berlarian di taman belakang yang hijau royo-royo, suara tawa mereka memantul di dinding rumah yang megah. Praka berdiri di ambang pintu, menyaksikan mereka dengan binar mata yang redup namun penuh kasih. Ia selalu memastikan semua pintu terkunci rapat sebelum malam tiba, seolah-olah dunia luar adalah ancaman yang bisa mencuri kehangatan keluarga kecilnya dalam sekejap mata.

Namun, kebahagiaan itu perlahan-lahan mulai memudar seperti cat dinding yang terkelupas oleh hujan asam. Suatu sore, saat ia mencoba memeluk Gendis, jemarinya justru menembus udara kosong yang dingin dan lembap. Suara tawa anak-anaknya berubah menjadi dengung statis radio yang rusak, memekakkan telinga dan membuat kepalanya berdenyut hebat. Praka memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memanggil kembali bayangan indah yang baru saja retak.

Ketika ia membuka mata, dinding rumah yang hangat telah berganti menjadi beton putih yang kusam dan mengelupas. Bau melati yang tadi ia hirup mendadak berubah menjadi aroma tajam karbol dan obat-obatan yang menyesakkan dada. Ia tidak sedang duduk di kursi jati kesayangannya, melainkan di atas ranjang besi dengan sprei kasar yang berbau apek. Praka meraba dadanya, mencari kehangatan yang tadi ia rasakan, namun hanya menemukan kancing baju pasien yang dingin.

Seorang perawat masuk dengan langkah kaki yang berat, membawa nampan berisi obat-obatan berwarna warni yang tampak mengerikan. "Waktunya minum obat, Pak Praka," ucap perawat itu dengan nada datar yang sudah sangat sering didengarnya. Praka hanya terdiam, ia mulai memilin ujung baju pasiennya dengan ritme yang semakin cepat. "Di mana Sari? Dia tadi baru saja membuatkan aku kopi yang sangat nikmat," tanya Praka dengan suara yang gemetar menahan tangis.

Ingatan tentang pengkhianatan itu muncul seperti kilat yang menyambar di tengah badai yang sangat gelap. Ia teringat saat Sari pergi membawa semua tabungan mereka bersama laki-laki lain, meninggalkan Praka dalam kehancuran mental yang total. Rasa sakit itu begitu nyata hingga ia memilih untuk menciptakan dunia sendiri di dalam kepalanya yang rusak. Ia lebih memilih menjadi gila daripada harus menghadapi kenyataan bahwa keluarganya telah lama hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, pintu koridor bangsal terbuka dan dua wanita dewasa dengan pakaian rapi melangkah masuk dengan ragu-ragu. Wajah mereka tampak asing namun memiliki garis-garis yang sangat familiar di mata tua Praka yang mulai kabur. Mereka adalah Gendis dan Arum yang asli, yang kini telah tumbuh dewasa dan berhasil menemukan ayah mereka setelah bertahun-tahun mencari. Mereka berdiri mematung di ambang pintu, menatap sosok lelaki ringkih yang dulu pernah menjadi pahlawan bagi mereka.

Gendis melangkah maju, air matanya jatuh membasahi pipi saat melihat ayahnya yang terus memilin ujung bajunya tanpa henti. "Ayah, ini kami," bisiknya lirih, mencoba menyentuh tangan Praka yang gemetar karena efek obat-obatan saraf. Praka menatap mereka dengan tatapan kosong yang perlahan mulai terisi oleh percikan kesadaran yang menyakitkan. Ia harus memilih, apakah akan tetap bersembunyi di balik delusi indahnya atau menghadapi kenyataan pahit demi kedua putrinya yang telah kembali.

Aroma nasi goreng yang gurih dan kepulan asap kopi hitam yang baru saja dituang memenuhi seluruh penjuru ruang makan yang hangat. Praka menyesap aroma itu dalam-dalam seolah ingin menyimpannya di dasar paru-paru, sementara matanya tak lepas dari jemari Sari yang lincah menata piring. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah jendela, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas meja kayu jati milik mereka yang dipoles mengilap setiap minggu.

Sari menoleh dengan senyum yang selalu berhasil meluluhkan sisa kantuk di mata Praka, lalu ia bergerak mendekat untuk menuangkan cairan hitam pekat ke cangkir keramik favorit suaminya. "Kopi tanpa gula, persis seperti yang kau suka, Sayang," bisik Sari dengan nada suara yang terdengar seperti melodi paling indah bagi Praka. Praka hanya bisa terpaku, merasakan getaran kebahagiaan yang begitu nyata hingga dadanya terasa sesak oleh rasa syukur.

Praka mengusap permukaan meja dengan ibu jarinya, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan sebelum memulai percakapan pagi untuk memastikan semua ini nyata. "Anak-anak sudah siap sekolah? Aku tidak ingin mereka terlambat lagi karena berebut cermin di kamar mandi," tanya Praka lembut. Suaranya berat namun penuh kasih, mencerminkan sosok seorang ayah yang sangat memuja setiap detik keberadaan anggota keluarganya di rumah itu.

Sari mengangguk manis, tangannya yang halus mendarat di bahu Praka dan memberikan remasan lembut yang menenangkan jiwa yang paling gelisah sekalipun. Di sudut ruangan, tawa riuh dua putri mereka, Maya dan Rini, meledak saat mereka saling tarik-menarik kotak bekal berwarna merah muda. Suara decit sepatu mereka di atas lantai marmer terdengar seperti tepuk tangan meriah bagi Praka yang merasa telah berhasil membangun istana kecilnya.

Namun, kehangatan itu mendadak terganggu oleh suara dengung listrik yang tajam, membuat bayangan Sari sedikit goyah seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal sesaat. Praka mengerjapkan mata, berusaha mengusir gangguan itu, dan kembali fokus pada tawa anak-anaknya yang kini sedang mengejar kucing di ruang tengah. "Segalanya terlalu sempurna, Sari. Kadang aku takut jika Tuhan cemburu pada kebahagiaan kita yang tanpa cela ini," gumam Praka pelan.

Tiba-tiba, pintu depan terhempas terbuka dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga, sangat kontras dengan ketenangan pagi yang baru saja mereka nikmati bersama. Sari tidak terkejut, ia justru mulai memudar, kulitnya yang tadi merona kini berubah menjadi pucat pasi seputih tembok rumah sakit yang dingin. Praka mencoba meraih tangan istrinya, namun jemarinya hanya menangkap udara kosong yang berbau pembersih lantai dan obat-obatan kimia.

Seorang pria berseragam putih melangkah masuk ke dalam ruang makan yang kini berubah menjadi kamar sempit berdinding beton dengan satu jendela berjeruji besi di sudut atas. "Waktunya minum obat, Praka. Kau sudah bicara sendiri terlalu lama pagi ini," ujar perawat itu dengan nada datar tanpa emosi sedikit pun. Praka terbelalak, ia melihat piring nasi gorengnya berubah menjadi nampan plastik berisi bubur hambar dan tumpukan pil berwarna-warni.

Praka bangkit berdiri dengan kasar, kursinya tersungkur ke belakang, menciptakan bunyi keras yang menggema di koridor bangsal jiwa yang sunyi dan mencekam. "Di mana Sari? Di mana anak-anakku? Mereka baru saja di sini!" teriak Praka dengan suara serak, urat-urat di lehernya menegang saat ia menunjuk ke arah kursi kosong. Ia mulai menggaruk lengan kirinya dengan kuku yang tajam, sebuah kebiasaan buruk yang selalu muncul setiap kali dunianya mulai runtuh.

Perawat itu menghela napas panjang, memberikan isyarat kepada dua penjaga berbadan besar yang berdiri di ambang pintu untuk segera mendekat dan mengamankan pasien. "Sari sudah lama pergi, Praka. Dia meninggalkanmu setelah kau mencoba membakar rumah itu sepuluh tahun yang lalu karena kecurigaanmu yang tak berdasar," kata sang perawat. Kata-kata itu menghantam dada Praka lebih keras daripada pukulan fisik manapun, menghancurkan sisa-sisa delusi yang ia bangun dengan susah payah.

Praka tertawa getir, tawa yang kemudian berubah menjadi isak tangis yang mengerikan, sementara matanya menatap nanar ke arah dinding yang penuh dengan coretan nama anak-anaknya. "Mereka mengkhianatiku! Mereka membuangku ke sini agar bisa hidup tenang dengan uang asuransi itu, bukan?" raung Praka sambil meronta dalam dekapan para penjaga. Setiap kali kenyataan ini datang, ia merasa jiwanya dicabik-cabik oleh ingatan tentang api yang melahap tirai ruang tamu mereka dulu.

Pemberontakan Praka berakhir ketika sebuah jarum suntik menembus kulit lengannya, mengirimkan cairan penenang yang perlahan-lahan memadamkan api kemarahan di dalam kepalanya yang kacau. Tubuhnya melemas, matanya mulai sayu, namun ia masih sempat melihat bayangan Sari yang melambai dari balik jeruji jendela sebelum semuanya menjadi gelap. Keheningan kembali menguasai ruangan, hanya menyisakan deru napas Praka yang berat dan bau apek dari kasur tipis di sudut kamar.

Beberapa jam kemudian, di lobi rumah sakit yang bising, dua wanita dewasa dengan pakaian formal berdiri di depan meja administrasi dengan raut wajah penuh keraguan. "Kami mencari pasien bernama Praka. Kami adalah putrinya, Maya dan Rini," ucap salah satu dari mereka dengan suara yang bergetar hebat karena emosi. Resepsionis itu memeriksa data di komputer, lalu menatap kedua wanita itu dengan tatapan simpati yang membuat jantung mereka berdegup lebih kencang.

Mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan keberanian demi menghadapi pria yang pernah menjadi pusat semesta sekaligus sumber trauma terdalam dalam hidup mereka. Maya meremas tas tangannya erat-erat, sementara Rini terus melihat ke arah pintu bangsal yang tertutup rapat, membayangkan sosok ayah yang mungkin tak lagi mengenali mereka. Takdir sedang menenun benang baru, membawa mereka kembali ke titik nol di mana pengampunan dan luka lama akan saling beradu.

Langkah kaki mereka menggema di lorong sunyi saat mereka dipandu menuju kamar nomor 402, tempat di mana seorang pria tua sedang menatap kosong ke arah langit-langit. Praka tidak menoleh saat pintu terbuka, ia hanya menggumamkan sesuatu tentang nasi goreng yang dingin dan kopi yang belum sempat ia habiskan tadi pagi. Maya melangkah maju, air matanya jatuh tanpa suara saat ia menyentuh tangan ayahnya yang gemetar, memulai sebuah pertemuan yang akan mengubah segalanya selamanya.

"Jangan pulang terlambat hari ini ya, Mas," bisik Sari dengan lembut sembari jemarinya yang lentik merapikan letak kerah kemeja Praka yang sedikit miring. Aroma parfum melati yang selalu melekat pada tubuh istrinya itu menguar, memberikan rasa tenang yang luar biasa di dada Praka. Praka hanya tersenyum tipis, lalu menunduk untuk mengecup kening istrinya dengan durasi yang sengaja ia lamakan, seolah ingin menghirup seluruh kedamaian yang ada di sana.

"Aku usahakan secepat mungkin sampai di rumah agar kita semua bisa makan malam bersama di meja ini," sahut Praka dengan suara baritonnya yang mantap. Ia mengelus dagunya yang tercukur rapi, sebuah kebiasaan kecil setiap kali ia merasa sangat puas dengan hidupnya. Baginya, tidak ada yang lebih berharga daripada momen-momen sederhana seperti ini, di mana waktu seakan sengaja melambat hanya untuk memberi ruang bagi kebahagiaan mereka yang meluap-luap.

Di halaman depan, kedua putri kecilnya sudah duduk manis di dalam mobil jemputan sekolah, melambaikan tangan dengan semangat melalui jendela kaca yang bening. Praka membalas lambaian itu dengan tawa kecil, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke ujung jari kaki saat melihat mata mereka berbinar. Kehidupan ini memang berjalan terlalu mulus, seolah Tuhan telah mendesain setiap detik dengan tinta emas hanya untuk memastikan tidak ada duka yang menyentuh rumah mereka.

Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai kayu ruang tamu yang mengilap bersih. Praka mengambil tas kerjanya, namun ia sempat tertegun sejenak melihat pantulan dirinya di cermin besar dekat pintu keluar. Ia tampak sangat gagah, sangat stabil, dan sangat dicintai oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya saat ini. Segala sesuatu di rumah ini terasa begitu simetris, begitu teratur, dan begitu sempurna tanpa ada sedikit pun cela yang terlihat.

Namun, saat ia melangkah melewati ambang pintu, ada sebuah gesekan kecil di sudut matanya, seperti sekelebat bayangan putih yang tidak pada tempatnya. Praka menggelengkan kepala, mengabaikan sensasi dingin yang tiba-tiba merayapi tengkuknya di tengah cuaca pagi yang hangat. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cemas itu hanyalah sisa-sisa kelelahan dari pekerjaan kantor yang menumpuk. Ia tidak ingin merusak narasi indah yang sudah ia bangun dengan susah payah bersama Sari dan anak-anaknya. Ia kembali menoleh ke arah Sari yang masih berdiri di teras dengan senyum yang tidak pernah pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Praka menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa begitu murni dan menyegarkan. Semuanya baik-baik saja, batinnya meyakinkan, tanpa menyadari bahwa di balik tembok rumah itu, dunia yang sebenarnya sedang menunggu dengan kenyataan yang jauh lebih gelap dan sunyi.

Suara dentuman besi yang beradu dengan lantai semen terdengar nyaring, merobek keheningan ruang tamu yang semula terasa begitu hangat. Praka mengernyitkan dahi, jemarinya yang gemetar tanpa sadar meraba pinggiran meja kayu jati yang tiba-tiba terasa dingin dan kasar. Ia menoleh ke arah jendela, namun pemandangan taman bunga yang asri mendadak berubah menjadi kabur, seperti lukisan cat air yang tersiram air hujan hingga warnanya meleleh tidak beraturan.

"Suara apa itu, Sari? Kenapa mereka berisik sekali di luar sana?" Praka bertanya dengan nada bicara yang bergetar dan cepat, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali kecemasan mulai merayap di tengkuknya. Ia selalu membutuhkan konfirmasi dari istrinya untuk memastikan bahwa dunianya masih berdiri tegak. Namun, Sari tetap bergeming di kursi seberang, tangannya terus bergerak memutar sendok di dalam cangkir porselen yang sebenarnya sama sekali tidak berisi cairan apa pun.

Rasa pusing yang hebat menghantam bagian belakang kepala Praka, membuat pandangannya berputar seperti gasing yang kehilangan keseimbangan. Bayangan rumah indahnya, dengan gorden sutra dan aroma masakan yang menggugah selera, mulai bergetar hebat layaknya pantulan bayangan di permukaan air yang terganggu oleh lemparan batu besar. Ia memejamkan mata dengan kuat, berusaha mengunci citra kebahagiaan itu agar tidak menguap dan meninggalkannya sendirian dalam kegelapan.

Ketika ia membuka mata, dinding ruang tamunya yang berwarna krem cerah telah berganti menjadi beton kusam yang dipenuhi coretan tak bermakna. Bau harum melati yang tadi ia hirup mendadak berubah menjadi aroma amonia yang menyengat dan mencekik kerongkongan. Sari tidak lagi duduk di sana; yang tertinggal hanyalah sebuah kursi plastik tua yang kakinya sudah patah satu. Praka merasakan dadanya sesak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya dengan sangat kuat.

"Kalian berbohong padaku! Di mana anak-anak? Di mana putri-putriku?" teriak Praka sambil memukul kepalanya sendiri, sebuah ritual penghukuman diri yang selalu ia lakukan saat kenyataan mulai mengoyak delusinya. Ia bangkit berdiri dengan kaki lemas, menabrak meja kayu imajiner yang kini berubah menjadi dipan besi berkarat. Kemarahan meledak dalam dirinya, bukan kepada orang lain, melainkan kepada ingatannya yang terus mengkhianati janji-janji manis tentang masa lalu yang sempurna.

Langkah kaki yang berat mendekat dari lorong yang remang-remang, disertai suara gemerincing kunci yang memekakkan telinga. Dua sosok wanita berpakaian putih muncul di ambang pintu, menatap Praka dengan tatapan yang sulit diartikan, antara iba dan rasa takut yang tertahan. Salah satu dari mereka membawa nampan berisi obat-obatan, sementara yang lain memegang catatan medis yang mencantumkan nama Praka dengan tinta merah yang tebal dan mencolok.

"Ayah, ini kami, Riana dan Maya," ucap salah satu wanita itu dengan suara yang parau, mencoba menembus kabut kegilaan yang menyelimuti pikiran pria tua tersebut. Praka terdiam, matanya yang merah menatap tajam ke arah mereka, mencari sisa-sisa pengkhianatan yang dulu pernah menghancurkan hidupnya hingga berkeping-keping. Ia tidak tahu apakah kedua wanita ini adalah penyelamatnya atau justru bagian dari skenario panjang yang dirancang untuk terus menyiksanya di dalam sel beton ini.

Lihat selengkapnya