Aroma melati yang biasanya menyerbak di ruang tamu rumahnya mendadak berubah menjadi bau karbol yang menusuk indra penciuman Praka. Ia terus memutar-mutar kancing kemejanya yang longgar, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dunianya yang sempurna. Istri dan anak-anaknya yang tadi tertawa riang di meja makan kini perlahan memudar, menyisakan kekosongan yang dingin dan mencekam di dadanya.
Pria tua itu mencoba memanggil nama istrinya dengan suara serak yang bergetar, namun hanya gema kosong yang kembali menyapa telinganya yang mulai berdenging hebat. Matanya yang mulai kabur karena air mata dipaksa untuk fokus pada dinding putih kusam yang mengelilinginya, bukan lagi wallpaper bunga yang hangat. Cahaya lampu neon di atas kepala berkedip dengan ritme yang menyakitkan, seolah mengejek kebahagiaan palsu yang selama ini ia pelihara dengan sangat teliti dalam pikirannya.
Lantai kayu yang hangat di bawah kakinya berganti menjadi ubin semen yang membeku, membuat seluruh tubuhnya menggigil dalam balutan baju pasien yang tipis dan kasar. Ia meraba wajahnya sendiri, mencari sisa-sisa senyuman yang tadi ia rasakan, namun yang ditemukan hanyalah kerutan dalam dan kulit yang mulai mengendur dimakan usia. Kebenaran mulai merayap naik seperti kabut hitam yang menelan setiap fragmen memori indah yang ia susun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Suara tawa anak-anaknya yang merdu kini bermutasi menjadi suara gesekan roda brankar dan gumaman rendah para perawat di lorong rumah sakit jiwa yang suram ini. Praka memejamkan mata sekuat tenaga, berusaha memanggil kembali bayangan meja makan yang penuh dengan hidangan lezat dan kehangatan keluarga yang utuh. Namun, setiap kali ia mencoba membangun kembali tembok khayalannya, kenyataan pahit justru menghantamnya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan menghancurkan.
Ia menunduk, menatap tangannya yang gemetar tanpa henti sambil terus merapalkan doa-doa yang tidak pernah selesai di ujung lidahnya yang terasa sangat pahit. Tidak ada lagi pelukan hangat dari putri-putrinya, yang ada hanyalah dinginnya besi tempat tidur yang menjadi saksi bisu atas kehancuran jiwanya yang paling dalam. Transisi ini bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan sebuah eksekusi mati bagi seluruh harapan yang pernah ia miliki tentang sebuah keluarga yang mencintainya tanpa syarat.
Tiba-tiba, pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi dentuman yang sangat keras, memecah kesunyian yang mencekam dan memaksa Praka untuk benar-benar terjaga sepenuhnya. Dua sosok perempuan dewasa berdiri di sana dengan mata sembab, menatap pria tua yang hancur itu dengan tatapan yang sulit diartikan antara benci, rindu, dan penyesalan mendalam. Praka tertegun, menyadari bahwa wajah-wajah di depannya bukan lagi bayangan dalam kepalanya, melainkan kenyataan hidup yang selama ini ia hindari dengan segala cara.
Langkah kaki mereka mendekat perlahan, menciptakan ketegangan yang membuat napas Praka terasa sesak di dalam paru-parunya yang mulai menua dan melemah. Salah satu dari mereka memanggilnya dengan sebutan ayah, sebuah kata yang sudah sangat lama tidak ia dengar dalam nada yang begitu nyata dan penuh dengan beban emosional. Praka hanya bisa terdiam membeku, menyadari bahwa penebusan yang ia cari selama ini mungkin baru saja dimulai dengan cara yang paling menyakitkan bagi sisa hidupnya.
Ujung jempol kaki Praka menyentuh ubin semen yang lembap dan dingin. Sensasi itu menusuk kulitnya, seketika membuyarkan sisa-sisa bayangan karpet bulu domba yang hangat di rumah lamanya. Dia tidak lagi berada di ruang tamu mewah dengan lampu gantung kristal yang berkilauan. Kini, pandangannya hanya tertuju pada dipan besi berkarat dan bau karbol yang tajam menusuk hidung, memenuhi setiap sudut ruangan sempit yang menjadi dunianya selama bertahun-tahun.
Praka meraba-raba kolong dipan dengan gerakan kikuk, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap pagi untuk mencari sandal kulit kesayangannya. Jemarinya yang gemetar hanya menemukan debu dan udara kosong yang hampa. Dia terus bergumam pelan, menyebutkan merk sandal yang sebenarnya sudah lama hancur di tempat sampah panti rehabilitasi. Matanya yang mulai merabun terus memindai lantai, seolah-olah sebuah keajaiban akan memunculkan benda-benda dari masa lalunya yang hilang.
Maya berdiri mematung di ambang pintu kayu yang sudah lapuk, memperhatikan setiap gerak-gerik ayahnya dengan dada yang sesak. Dia melihat bagaimana lelaki itu tampak sangat bingung mencari alas kaki yang sebenarnya tidak pernah ada di sana sejak hari pertama ia masuk. Air mata Maya nyaris jatuh saat menyadari betapa kuatnya delusi itu mencengkeram ingatan Praka, menyeret ayahnya kembali ke masa sebelum pengkhianatan besar itu menghancurkan segalanya.
Lelaki tua itu tiba-tiba berhenti bergerak dan menoleh ke arah Maya dengan tatapan yang kosong namun penuh harap. Dia tidak mengenali wajah putrinya sendiri yang kini sudah dewasa, melainkan melihat sosok pelayan rumah tangga yang dulu sering membawakannya kopi. Praka mengetukkan kuku telunjuknya ke pinggiran dipan besi, sebuah ritme ganjil yang selalu ia ulangi saat merasa cemas atau kehilangan arah di tengah labirin pikirannya yang kacau.
"Di mana mereka menyembunyikan sepatu pestaku?" tanya Praka dengan suara serak yang bergetar, menggunakan diksi formal yang kaku seperti seorang bangsawan yang sedang kehilangan hartanya. Dia selalu merasa bahwa dirinya masih merupakan kepala keluarga yang berkuasa, bukan seorang pasien yang terbuang. Maya hanya bisa terdiam, tidak mampu menjawab bahwa sepatu itu hanyalah fragmen memori dari sebuah pesta yang berakhir dengan tangisan dan pengusiran kejam oleh istrinya sendiri.
Ketegangan di ruangan itu memuncak saat Praka tiba-tiba berdiri dan mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan tenaga yang tak terduga. Matanya melotot, menuntut jawaban atas keberadaan keluarganya yang ia yakini sedang menunggunya di ruang makan mewah. Maya merasakan perih di lengannya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat saat menyadari bahwa ayahnya lebih memilih hidup dalam kebohongan yang indah daripada menghadapi kenyataan pahit tentang anak-anaknya yang kini kembali.
Sambil menarik nafas panjang, Maya mencoba melepaskan cengkeraman itu dengan lembut tanpa mematahkan harga diri ayahnya yang rapuh. Dia tahu bahwa di balik tatapan garang itu, ada seorang pria yang hancur karena cinta yang salah alamat. Praka kembali duduk di pinggiran dipan, menunduk lesu sambil terus menggosok-gosok telapak tangannya seolah sedang membersihkan noda darah yang hanya bisa dilihat oleh matanya yang sakit.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara detak jam dinding tua yang berkarat di koridor panti. Maya berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan ayahnya mati dalam delusi ini, meski itu berarti dia harus membongkar luka lama yang paling dalam. Dia melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Praka yang mengecil, bersiap untuk menceritakan kebenaran yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa kewarasan lelaki itu selamanya.
Tangan Maya gemetar saat ia menyodorkan gelas plastik kecil berisi butiran kimia itu ke depan wajah ayahnya. Aroma antiseptik rumah sakit yang tajam menusuk hidung, beradu dengan bau apek dari sudut ruangan yang lembap. Cahaya lampu neon di atas mereka berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Praka yang kian tirus.
Praka merapatkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras, jemarinya terus memilin ujung kain sarungnya dengan gerakan ritmis yang cepat. Matanya yang merah dan cekung menatap nampan obat itu seolah-olah melihat seekor kalajengking yang siap menyengat. Bibirnya yang kering terus bergumam tentang perjamuan makan malam yang belum selesai di ruang tamu imajinasinya.