Fragmen Memori Praka

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Runtuhnya Dinding Ilusi

Aroma melati yang biasanya menyerbak di ruang tamu rumahnya mendadak berubah menjadi bau karbol yang menusuk indra penciuman Praka. Ia terus memutar-mutar kancing kemejanya yang longgar, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dunianya yang sempurna. Istri dan anak-anaknya yang tadi tertawa riang di meja makan kini perlahan memudar, menyisakan kekosongan yang dingin dan mencekam di dadanya.

Pria tua itu mencoba memanggil nama istrinya dengan suara serak yang bergetar, namun hanya gema kosong yang kembali menyapa telinganya yang mulai berdenging hebat. Matanya yang mulai kabur karena air mata dipaksa untuk fokus pada dinding putih kusam yang mengelilinginya, bukan lagi wallpaper bunga yang hangat. Cahaya lampu neon di atas kepala berkedip dengan ritme yang menyakitkan, seolah mengejek kebahagiaan palsu yang selama ini ia pelihara dengan sangat teliti dalam pikirannya.

Lantai kayu yang hangat di bawah kakinya berganti menjadi ubin semen yang membeku, membuat seluruh tubuhnya menggigil dalam balutan baju pasien yang tipis dan kasar. Ia meraba wajahnya sendiri, mencari sisa-sisa senyuman yang tadi ia rasakan, namun yang ditemukan hanyalah kerutan dalam dan kulit yang mulai mengendur dimakan usia. Kebenaran mulai merayap naik seperti kabut hitam yang menelan setiap fragmen memori indah yang ia susun dengan susah payah selama bertahun-tahun.

Suara tawa anak-anaknya yang merdu kini bermutasi menjadi suara gesekan roda brankar dan gumaman rendah para perawat di lorong rumah sakit jiwa yang suram ini. Praka memejamkan mata sekuat tenaga, berusaha memanggil kembali bayangan meja makan yang penuh dengan hidangan lezat dan kehangatan keluarga yang utuh. Namun, setiap kali ia mencoba membangun kembali tembok khayalannya, kenyataan pahit justru menghantamnya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan menghancurkan.

Ia menunduk, menatap tangannya yang gemetar tanpa henti sambil terus merapalkan doa-doa yang tidak pernah selesai di ujung lidahnya yang terasa sangat pahit. Tidak ada lagi pelukan hangat dari putri-putrinya, yang ada hanyalah dinginnya besi tempat tidur yang menjadi saksi bisu atas kehancuran jiwanya yang paling dalam. Transisi ini bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan sebuah eksekusi mati bagi seluruh harapan yang pernah ia miliki tentang sebuah keluarga yang mencintainya tanpa syarat.

Tiba-tiba, pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi dentuman yang sangat keras, memecah kesunyian yang mencekam dan memaksa Praka untuk benar-benar terjaga sepenuhnya. Dua sosok perempuan dewasa berdiri di sana dengan mata sembab, menatap pria tua yang hancur itu dengan tatapan yang sulit diartikan antara benci, rindu, dan penyesalan mendalam. Praka tertegun, menyadari bahwa wajah-wajah di depannya bukan lagi bayangan dalam kepalanya, melainkan kenyataan hidup yang selama ini ia hindari dengan segala cara.

Langkah kaki mereka mendekat perlahan, menciptakan ketegangan yang membuat napas Praka terasa sesak di dalam paru-parunya yang mulai menua dan melemah. Salah satu dari mereka memanggilnya dengan sebutan ayah, sebuah kata yang sudah sangat lama tidak ia dengar dalam nada yang begitu nyata dan penuh dengan beban emosional. Praka hanya bisa terdiam membeku, menyadari bahwa penebusan yang ia cari selama ini mungkin baru saja dimulai dengan cara yang paling menyakitkan bagi sisa hidupnya.

Ujung jempol kaki Praka menyentuh ubin semen yang lembap dan dingin. Sensasi itu menusuk kulitnya, seketika membuyarkan sisa-sisa bayangan karpet bulu domba yang hangat di rumah lamanya. Dia tidak lagi berada di ruang tamu mewah dengan lampu gantung kristal yang berkilauan. Kini, pandangannya hanya tertuju pada dipan besi berkarat dan bau karbol yang tajam menusuk hidung, memenuhi setiap sudut ruangan sempit yang menjadi dunianya selama bertahun-tahun.

Praka meraba-raba kolong dipan dengan gerakan kikuk, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap pagi untuk mencari sandal kulit kesayangannya. Jemarinya yang gemetar hanya menemukan debu dan udara kosong yang hampa. Dia terus bergumam pelan, menyebutkan merk sandal yang sebenarnya sudah lama hancur di tempat sampah panti rehabilitasi. Matanya yang mulai merabun terus memindai lantai, seolah-olah sebuah keajaiban akan memunculkan benda-benda dari masa lalunya yang hilang.

Maya berdiri mematung di ambang pintu kayu yang sudah lapuk, memperhatikan setiap gerak-gerik ayahnya dengan dada yang sesak. Dia melihat bagaimana lelaki itu tampak sangat bingung mencari alas kaki yang sebenarnya tidak pernah ada di sana sejak hari pertama ia masuk. Air mata Maya nyaris jatuh saat menyadari betapa kuatnya delusi itu mencengkeram ingatan Praka, menyeret ayahnya kembali ke masa sebelum pengkhianatan besar itu menghancurkan segalanya.

Lelaki tua itu tiba-tiba berhenti bergerak dan menoleh ke arah Maya dengan tatapan yang kosong namun penuh harap. Dia tidak mengenali wajah putrinya sendiri yang kini sudah dewasa, melainkan melihat sosok pelayan rumah tangga yang dulu sering membawakannya kopi. Praka mengetukkan kuku telunjuknya ke pinggiran dipan besi, sebuah ritme ganjil yang selalu ia ulangi saat merasa cemas atau kehilangan arah di tengah labirin pikirannya yang kacau.

"Di mana mereka menyembunyikan sepatu pestaku?" tanya Praka dengan suara serak yang bergetar, menggunakan diksi formal yang kaku seperti seorang bangsawan yang sedang kehilangan hartanya. Dia selalu merasa bahwa dirinya masih merupakan kepala keluarga yang berkuasa, bukan seorang pasien yang terbuang. Maya hanya bisa terdiam, tidak mampu menjawab bahwa sepatu itu hanyalah fragmen memori dari sebuah pesta yang berakhir dengan tangisan dan pengusiran kejam oleh istrinya sendiri.

Ketegangan di ruangan itu memuncak saat Praka tiba-tiba berdiri dan mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan tenaga yang tak terduga. Matanya melotot, menuntut jawaban atas keberadaan keluarganya yang ia yakini sedang menunggunya di ruang makan mewah. Maya merasakan perih di lengannya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat saat menyadari bahwa ayahnya lebih memilih hidup dalam kebohongan yang indah daripada menghadapi kenyataan pahit tentang anak-anaknya yang kini kembali.

Sambil menarik nafas panjang, Maya mencoba melepaskan cengkeraman itu dengan lembut tanpa mematahkan harga diri ayahnya yang rapuh. Dia tahu bahwa di balik tatapan garang itu, ada seorang pria yang hancur karena cinta yang salah alamat. Praka kembali duduk di pinggiran dipan, menunduk lesu sambil terus menggosok-gosok telapak tangannya seolah sedang membersihkan noda darah yang hanya bisa dilihat oleh matanya yang sakit.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara detak jam dinding tua yang berkarat di koridor panti. Maya berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan ayahnya mati dalam delusi ini, meski itu berarti dia harus membongkar luka lama yang paling dalam. Dia melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Praka yang mengecil, bersiap untuk menceritakan kebenaran yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa kewarasan lelaki itu selamanya.

Tangan Maya gemetar saat ia menyodorkan gelas plastik kecil berisi butiran kimia itu ke depan wajah ayahnya. Aroma antiseptik rumah sakit yang tajam menusuk hidung, beradu dengan bau apek dari sudut ruangan yang lembap. Cahaya lampu neon di atas mereka berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Praka yang kian tirus.

Praka merapatkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras, jemarinya terus memilin ujung kain sarungnya dengan gerakan ritmis yang cepat. Matanya yang merah dan cekung menatap nampan obat itu seolah-olah melihat seekor kalajengking yang siap menyengat. Bibirnya yang kering terus bergumam tentang perjamuan makan malam yang belum selesai di ruang tamu imajinasinya.

"Minum ini sekarang, Yah. Jangan dibuang lagi ke bawah bantal seperti kemarin," tegas Maya dengan nada yang bergetar namun penuh penekanan. Ia telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membujuk ayahnya keluar dari sudut gelap kamar tersebut. Maya tahu bahwa setiap detik yang terbuang adalah kemenangan bagi delusi yang sedang menggerogoti kewarasan ayahnya.

Lelaki tua itu menggeleng keras hingga lehernya yang berurat tampak menegang, matanya liar menyisir setiap sudut ruangan yang sunyi. Ia yakin sepenuhnya bahwa butiran putih itu adalah racun yang sengaja diletakkan oleh Sari untuk melenyapkannya dari rumah megah yang ia yakini masih mereka miliki. Baginya, Sari masih berdiri di dapur, tersenyum licik sambil menyiapkan rencana busuk.

Maya melangkah maju satu langkah lagi, memperpendek jarak yang terasa seperti jurang pemisah antara kenyataan dan kegilaan. Suaranya naik satu oktav, memecah keheningan koridor bangsal yang biasanya hanya diisi oleh isak tangis pasien lain. "Sari sudah tidak ada, Yah! Dia sudah pergi meninggalkan kita sejak dulu! Berhenti hidup dalam kebohongan yang membunuhmu!"

Praka tiba-tiba memukul meja kecil di sampingnya dengan kepalan tangan yang lemah namun penuh amarah yang meluap-luap. "Dia ada di sana! Sari sedang menunggu di meja makan bersama anak-anak!" teriaknya dengan suara parau yang menyayat hati. Ia mulai terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat sementara keringat dingin mulai membasahi dahi dan pelipisnya.

Maya tidak mundur, ia justru meraih tangan ayahnya yang kasar dan memaksanya untuk memegang gelas plastik tersebut secara paksa. "Lihat aku, Ayah! Ini aku, Maya, anakmu yang kau telantarkan demi bayangan perempuan yang mengkhianatimu itu!" Air mata mulai mengalir di pipi Maya, namun sorot matanya tetap tajam dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah kali ini.

Ruangan itu seakan menyempit saat ketegangan mencapai puncaknya, dengan suara napas Praka yang semakin memburu dan tidak beraturan. Ia menatap Maya dengan tatapan benci yang mendalam, seolah putrinya sendiri adalah orang asing yang berusaha merusak kebahagiaan palsunya. Bagi Praka, kebenaran adalah musuh terbesar yang ingin merampas sisa-sisa dunianya yang indah.

Dengan gerakan tiba-tiba yang brutal, Praka menepis tangan Maya hingga gelas plastik itu terpental dan isinya berhamburan di lantai semen yang dingin. "Kalian semua pembohong! Kalian iri karena keluargaku terlalu sempurna untuk kalian miliki!" teriaknya sambil menunjuk ke arah dinding kosong yang ia anggap sebagai bingkai foto keluarga besar mereka yang sangat harmonis.

Maya terdiam sesaat, melihat butiran obat yang kini bercampur dengan debu di lantai, simbol dari usahanya yang kembali gagal total hari ini. Ia mengepalkan tangan di samping tubuh, merasakan kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri sebagai pengalihan rasa sakit di dadanya. Kesabaran yang ia bangun selama bertahun-tahun kini berada di titik nadir yang paling berbahaya.

Perlahan, Maya berlutut di depan ayahnya, memunguti butiran obat itu satu per satu dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh ancaman. "Ayah tahu kenapa Sari pergi? Karena dia tidak pernah mencintaimu, Yah. Dia berselingkuh tepat di bawah hidungmu saat kau sibuk memuja bayanganmu sendiri." Kalimat itu meluncur seperti belati panas yang langsung menusuk jantung kesadaran Praka.

Praka tertegun, gerakan tangannya yang memilin sarung seketika berhenti total saat ia menatap wajah putrinya yang kini dipenuhi aura gelap. Ia mencoba membuka mulut untuk membantah, namun suaranya tercekat di tenggorokan seolah-olah kenyataan pahit itu mulai mencekiknya secara perlahan. Dunia delusi yang ia bangun dengan tembok tinggi kini mulai retak di bawah tekanan kata-kata Maya.

Maya berdiri kembali, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah ayahnya yang mulai pucat pasi karena trauma masa lalu yang bangkit kembali. "Sekarang pilih, Yah. Minum obat ini dan hadapi kenyataan bahwa kau sendirian, atau biarkan racun di kepalamu itu menghancurkanmu sampai tidak ada yang tersisa," bisiknya dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Praka berdiri tegak.

Langkah kaki Praka terseret berat di atas lantai semen yang dingin, menciptakan bunyi gesekan yang memuakkan di telinga. Dia berhenti tepat di depan wastafel porselen yang permukaannya sudah retak seribu dan berwarna kekuningan. Di sana, sebuah cermin kusam yang tertempel miring memantulkan bayangan seorang pria tua dengan jenggot putih tak teratur. Matanya yang cekung memancarkan kekosongan, seolah-olah seluruh cahaya hidupnya telah diperas habis oleh dinding-dinding putih rumah sakit jiwa ini.

Tangan kanannya yang gemetar perlahan naik, menyentuh pipi yang kasar dan keriput itu dengan ujung jari. Praka memicingkan mata, berusaha mencari sisa-sisa sosok pemuda gagah yang baru saja berdansa dengan istrinya di bawah lampu gantung kristal dalam mimpi tadi malam. Dalam kepalanya, wangi parfum melati istrinya masih sangat nyata, begitu pula tawa renyah kedua putrinya yang berlarian di taman belakang. Namun, pantulan di depannya hanyalah sisa-sisa manusia yang hancur.

Rasa perih yang mendalam menghantam dadanya saat dia menyadari bahwa kehangatan itu hanyalah delusi yang sengaja dia ciptakan untuk bertahan hidup. "Tidak, ini bukan aku," bisiknya dengan suara serak yang hampir tak terdengar, sebuah pola bicara yang selalu dia ulangi setiap kali kenyataan mencoba mendobrak gerbang imajinasinya. Dia selalu memilih untuk percaya pada kebohongan yang manis daripada menghadapi pahitnya pengkhianatan yang membuatnya berakhir di tempat terkutuk ini.

Kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang mendidih di bawah kulitnya yang tipis. Tanpa peringatan, dia menghantamkan tinjunya ke permukaan kaca dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk pria seumurannya. Suara benturan itu menggema di koridor sunyi, disusul oleh bunyi gemerincing pecahan kaca yang jatuh ke lantai. Retakan menjalar cepat seperti jaring laba-laba, membagi wajahnya menjadi seribu kepingan asing yang saling menjauh.

Darah segar mulai merembes dari sela-sela jarinya, menetes pelan ke dalam lubang wastafel, namun Praka tidak meringis sedikit pun. Dia justru menatap pecahan kaca yang menusuk kulitnya dengan tatapan lapar, seolah rasa sakit fisik adalah satu-satunya hal yang bisa membuktikan bahwa dia masih bernapas. Kebiasaan menggosok telapak tangan yang terluka ke kain celananya menjadi ritual kecilnya untuk menenangkan saraf yang tegang setelah ledakan emosi yang melelahkan.

Di balik pintu kamar mandi yang setengah terbuka, seorang perawat muda memperhatikan dengan napas tertahan, tidak berani mendekat karena tahu betapa rapuhnya kondisi mental pasien nomor 402 itu. Praka kembali menatap kepingan cermin yang tersisa, melihat bayangan matanya yang terbelah menjadi dua. Dia merindukan pengkhianatan itu, karena hanya dengan mengingat rasa sakit dikhianati, dia tahu bahwa keluarganya pernah benar-benar ada, bukan sekadar hantu di dalam kepalanya.

Dia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang liar sementara aroma besi dari darah mulai memenuhi ruangan sempit itu. Di tengah kekacauan itu, dia teringat akan sebuah janji lama yang terkubur di bawah tumpukan memori palsu tentang rumah besar dan kebahagiaan semu. Janji itu melibatkan dua pasang mata kecil yang dulu sering menatapnya dengan penuh kekaguman, sebelum kebencian dan ambisi orang dewasa merenggut mereka dari pelukannya.

Praka memutar keran, membiarkan air dingin mengalir deras membasuh luka di tangannya hingga warna merah di wastafel memudar menjadi merah jambu pucat. Setiap tetesan air terasa seperti jarum yang menusuk, namun dia tetap diam, membeku dalam posisi membungkuk yang menyedihkan. Dia tahu bahwa di luar sana, waktu terus berjalan tanpa memedulikan dirinya yang terjebak dalam labirin waktu yang rusak dan berulang secara paksa setiap harinya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berbeda dari langkah perawat terdengar mendekat dari arah lorong utama bangsal melati. Itu adalah langkah yang ringan namun ragu-ragu, seolah-olah sang pemilik langkah sedang menimbang-nimbang apakah dia benar-benar ingin berada di tempat ini. Praka menajamkan pendengarannya, sebuah insting yang selalu muncul setiap kali ada gangguan pada rutinitas soliter yang dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun di sini.

Dua sosok wanita dewasa berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian yang terlalu rapi untuk tempat kumuh seperti ini. Mereka membawa aroma yang asing namun familiar, sesuatu yang memicu gelombang memori di otak Praka hingga kepalanya terasa berdenyut hebat. Salah satu dari mereka memegang tas tangan dengan sangat erat, sementara yang lain menatap punggung bungkuk Praka dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa bersalah yang mendalam.

Lihat selengkapnya