Praka menyesap kopi dingin yang permukaannya sudah berminyak, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan saat pikirannya mulai kusut. Jemarinya terus mengetuk meja kayu dengan ritme ganjil, seolah sedang menghitung detak jantung yang tak beraturan di dadanya. Di hadapannya, sebuah amplop cokelat kusam tergeletak seperti bom waktu yang siap menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang ia pertahankan selama ini.
"Semua ini hanya angka bagi kalian, bukan?" gumam Praka dengan suara serak yang hampir menyerupai bisikan angin di malam hari. Ia selalu mengulang kalimat itu setiap kali bayangan tentang pengkhianatan masa lalu melintas, sebuah pola bicara yang mencerminkan luka mendalam di jiwanya. Baginya, kejujuran adalah harga mati, namun dunia justru memaksanya membayar dengan akal sehat demi tumpukan harta yang tak pernah ia inginkan.
Ia berdiri lalu melangkah menuju cermin tua di sudut ruangan, menatap pantulan pria yang tampak asing dengan gurat lelah di wajahnya. Ingatannya kembali pada sore berdarah itu, saat orang-orang yang ia sebut keluarga tersenyum manis sambil menyodorkan surat kuasa yang palsu. Mereka tidak hanya mencuri asetnya, tetapi juga merobek identitasnya sebagai seorang ayah dan pelindung hingga ia terlempar ke dalam jurang delusi yang gelap.
Setiap langkah yang ia ambil di lantai ubin yang dingin terasa seperti menelusuri kepingan kaca tajam dari masa lalu yang sengaja ia kubur dalam-dalam. Praka memutuskan untuk berhenti melarikan diri dan mulai menghadapi sosok-sosok serakah yang telah menghancurkan hidupnya tanpa ampun. Ia tahu bahwa keputusan untuk menggali kembali luka ini akan menguras seluruh energinya, namun ia lebih memilih hancur dalam kebenaran daripada hidup tenang dalam kebohongan.
Udara di sekitarnya mendadak terasa berat dan berbau apak, mengingatkannya pada aroma ruang perawatan di rumah sakit jiwa tempat ia menghabiskan bertahun-tahun dalam kesunyian. Ia meremas pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba meredam amarah yang meluap seperti lahar panas di dalam dadanya. Tidak ada lagi ruang untuk belas kasihan bagi mereka yang telah menukar kasih sayang dengan lembaran kertas berharga yang fana.
Praka mengambil sebuah foto usang dari dalam saku bajunya, menatap wajah dua gadis kecil yang pernah menjadi pusat dunianya sebelum semuanya runtuh. Ia menyentuh permukaan foto itu dengan lembut, sebuah gestur ritual yang selalu ia lakukan sebelum mengambil tindakan besar yang berisiko tinggi. Di matanya, kilatan tekad mulai menggantikan kabut delusi yang selama ini menyelimuti pikirannya dengan sangat rapat.
Ketukan keras di pintu depan mengejutkannya, memutus aliran memori pahit yang sedang ia susun kembali menjadi sebuah rencana pembalasan yang rapi. Ia tahu siapa yang datang, dan kali ini ia tidak akan membiarkan mereka pergi sebelum semua utang rasa sakit itu terbayar lunas. Dengan napas yang tenang namun mematikan, Praka melangkah menuju pintu untuk menghadapi kenyataan pahit yang telah lama menantinya di balik ambang kayu itu.
Maya menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, mencoba menembus kabut delusi yang menyelimuti pria tua itu. "Ayah, lihat aku. Ini Maya, bukan bayangan Ibu," tegasnya dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan. Praka tidak segera menjawab, ia justru memalingkan wajah ke arah jendela yang menampilkan langit sore yang meredup kelabu.
Jemari Praka yang kurus gemetar hebat saat menyentuh ujung selimut rumah sakit yang kasar dan dingin. Setiap kali ia mencoba mengenali wajah di hadapannya, memori tentang pengkhianatan masa lalu menghantam dadanya seperti ombak besar yang
menghancurkan karang. Dia ingin sekali percaya pada kehangatan suara itu, namun rasa takut akan luka lama mencekik lehernya hingga ia sulit bernapas.
"Pergi kalian semua dari sini," usirnya lirih dengan nada bicara yang monoton namun sarat akan kepedihan mendalam. Meskipun bibirnya mengeluarkan kata-kata penolakan, hatinya menjerit ingin memeluk kedua putri yang kini berdiri di hadapannya. Ia merasa terjebak dalam labirin pikirannya sendiri, di mana batas antara kasih sayang dan pengkhianatan telah lama memudar menjadi abu.
Rana, sang adik, melangkah maju dan mencoba menyentuh bahu ayahnya yang tampak rapuh di balik baju pasien. Praka tersentak, sebuah reaksi spontan dari jiwa yang terlalu lama terisolasi dalam ruang isolasi mental yang ia bangun sendiri. Baginya, setiap sentuhan terasa seperti ancaman baru yang siap menariknya kembali ke dalam jurang kekecewaan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Suasana kamar rumah sakit itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan bunyi detak jam dinding yang seolah menghitung sisa waktu mereka. Maya dan Rana saling berpandangan, menyadari bahwa perjalanan untuk membawa ayah mereka kembali ke dunia nyata akan sangat panjang. Praka tetap membisu, matanya yang kosong menatap lurus ke dinding putih seolah sedang menonton film lama tentang keluarga bahagia yang sebenarnya tidak pernah ada.
Ketegangan di ruangan itu sedikit mencair ketika Maya mengeluarkan sebuah foto usang dari saku mantelnya yang mulai memudar warnanya. Ia meletakkan foto itu di atas nakas, berharap gambar masa kecil mereka bisa menjadi jembatan bagi ingatan Praka yang telah retak. Namun, Praka hanya melirik sekilas sebelum kembali memejamkan mata, berusaha mengusir bayang-bayang yang terus menghantuinya setiap malam.
Penebusan di masa tua ini terasa begitu berat dan menyakitkan bagi mereka bertiga yang terikat oleh darah namun terpisahkan oleh trauma. Praka menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang berat seolah ia sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya yang membungkuk. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mulai melihat serpihan memori yang perlahan menyatu, meski ia masih terlalu takut untuk membukanya kembali.
Cahaya sore yang pucat menyusup melalui celah gorden kamar perawatan, menyinari debu-debu yang menari di atas nakas kayu yang sudah mulai mengelupas. Lani menghela napas panjang, jemarinya yang gemetar perlahan meletakkan sebuah foto usang berbingkai perak yang permukaannya sudah retak di sana. Di dalam foto itu, empat orang tersenyum lebar di tengah hamparan bunga matahari yang sedang mekar dengan indahnya.
Praka, yang duduk kaku di tepi tempat tidur dengan piyama putihnya, melirik gambar itu tanpa minat awal yang berarti. Ia terus-menerus memilin ujung lengan bajunya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali pikirannya mulai terasa bising dan kacau. Matanya yang cekung menatap tajam ke arah sosok wanita di sampingnya dalam foto itu, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang hilang dari ingatannya sendiri.
"Dulu Ayah selalu bilang kita tim yang hebat, bukan?" sela Lani dengan suara yang nyaris berbisik, mencoba memancing kesadaran ayahnya kembali ke permukaan. Ia berharap kenangan manis itu bisa menjadi jangkar bagi jiwa Praka yang kian hari kian hanyut ditelan kegelapan. Namun, alih-alih senyum hangat yang muncul, rahang Praka justru mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol dengan jelas.
Di dalam benak Praka, wajah Sari yang semula tersenyum manis di foto itu perlahan-lahan mulai memudar dan berubah menjadi gumpalan kabut hitam yang pekat. Kabut itu seolah mencekik setiap memori indah yang pernah mereka miliki bersama, menyisakan rasa perih yang tak tertahankan di dadanya. Ia merasa seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk saraf kepalanya tanpa henti.
"Dia mengambil semuanya, Lani! Semuanya tanpa sisa!" teriak Praka tiba-tiba dengan suara yang serak dan penuh dengan amarah yang meledak-ledak. Suaranya yang menggelegar memecah kesunyian lorong rumah sakit, membuat seorang perawat muda yang baru saja hendak masuk membawa nampan obat tersentak hingga hampir menjatuhkan gelasnya.
Praka berdiri dengan gerakan menyentak, mengabaikan rasa nyeri di persendiannya yang sudah menua akibat terlalu lama tidak banyak bergerak. Matanya yang merah menatap kosong ke arah jendela, seolah-olah ia sedang melihat kejadian masa lalu yang terputar kembali dengan sangat jelas di sana. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah foto itu dengan gerakan yang tidak terkontrol dan sangat agresif.
"Dia menjual rumah kita saat aku masih tertidur di bawah pengaruh obat-obat sialan itu!" lanjutnya lagi dengan nada bicara yang semakin meninggi dan tidak teratur. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti muntahan kepahitan yang sudah ia simpan selama puluhan tahun di balik dinding delusi. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai di dunia ini.
Lani mencoba mendekat dan menyentuh bahu ayahnya, namun Praka langsung menepis tangan putrinya itu dengan kasar seolah-olah sentuhan itu adalah bara api. Ia terus bergumam tentang sertifikat rumah, tentang tanda tangan yang dipalsukan, dan tentang tawa Sari yang terdengar seperti ejekan di telinganya. Baginya, kenyataan ini jauh lebih menyakitkan daripada khayalan tentang keluarga bahagia yang selama ini ia peluk.
Bau karbol yang tajam di ruangan itu seakan memperparah rasa mual di perut Praka saat ia terus berteriak histeris menuntut keadilan yang mustahil didapat. Ia merasa terjebak dalam tubuh yang renta, sementara jiwanya masih meronta-ronta di hari pengkhianatan itu terjadi. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan punggungnya, membuat piyamanya terasa lengket dan sangat tidak nyaman di kulit.
Perawat yang tadi sempat terpaku segera memanggil bantuan melalui radio panggilnya, menyadari bahwa pasien di kamar 402 ini sedang mengalami serangan kemarahan hebat. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi tegang dalam sekejap mata karena amukan seorang lelaki tua yang hancur. Lani hanya bisa berdiri terpaku di sudut ruangan, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi.
Praka kemudian merenggut foto itu dari nakas dan melemparkannya ke lantai hingga kaca bingkainya hancur berkeping-keping di bawah kakinya yang telanjang. Ia menginjak pecahan kaca itu tanpa rasa sakit, seolah-olah luka di kakinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka di hatinya. "Kalian semua pembohong! Kalian hanya ingin melihatku mati membusuk di tempat ini!" raungnya lagi dengan penuh keputusasaan.
Keheningan yang mencekam sempat tercipta saat dua orang petugas keamanan masuk ke dalam ruangan untuk mencoba menenangkan Praka yang sudah kehilangan kendali. Namun, sebelum mereka sempat menyentuhnya, Praka jatuh terduduk di atas pecahan kaca itu sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Ia terisak tanpa suara, sebuah pemandangan yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan amarahnya yang tadi membahana.
Di tengah kekacauan itu, Lani melihat ayahnya mulai menggumamkan nama kecilnya berulang-ulang dengan suara yang sangat lembut dan penuh kerinduan yang mendalam. Kebencian dan cinta seolah-olah sedang berperang di dalam diri Praka, mencabik-cabik sisa-sisa kewarasannya hingga tak ada lagi yang tersisa selain fragmen memori yang rusak. Ia menatap kepingan foto yang terinjak, menyadari bahwa ayahnya mungkin tidak akan pernah benar-benar kembali dari labirin rasa sakitnya.
Suara benturan keras bergema dari arah kamar mandi bangsal, memutus keheningan pagi yang biasanya hanya diisi oleh suara kipas angin berderit. Praka berdiri kaku di depan wastafel porselen yang retak, kedua tangannya mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis pada permukaan cermin yang buram oleh noda air dan usia.
Mata Praka terpaku pada pantulan yang ada di depannya, sebuah sosok yang terasa seperti orang asing yang menyusup ke dalam hidupnya. Garis-garis dalam merajah dahinya, dan rambutnya yang dahulu hitam legam kini telah memudar menjadi warna abu-abu kusam yang menyedihkan. "Kenapa wajahku terlihat setua ini?" bisiknya dengan suara serak, hampir tidak mengenali getaran vokalnya sendiri yang kini terdengar rapuh.
Ingatannya masih menyimpan aroma bedak bayi dan tawa renyah yang memenuhi ruang tamu rumah kayu mereka yang hangat. Dia merasa baru kemarin menggendong kedua putri kecilnya, merasakan beban ringan dan detak jantung mereka yang tenang di dadanya. Namun, realitas di depannya adalah sebuah pengkhianatan visual yang kejam, menghapus dekade kehidupan yang seolah-olah hilang tertiup angin kencang.
Di ambang pintu kamar mandi, berdiri dua wanita dewasa yang mengenakan pakaian rapi, kontras dengan piyama rumah sakit Praka yang lusuh. Mereka menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, sebuah campuran antara kerinduan yang mendalam dan rasa iba yang menyakitkan. Praka memalingkan wajah, tidak sanggup menanggung beban empati yang terpancar dari mata mereka yang kini terlihat begitu dewasa.
Salah satu dari mereka, yang memiliki tahi lalat kecil di dekat matanya, melangkah maju dengan ragu-ragu sambil mengulurkan tangan. Praka secara refleks mundur, punggungnya menempel pada dinding keramik yang dingin, sementara jemarinya mulai memilin ujung bajunya dengan gelisah. Ini adalah ritual kecemasannya, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali dunia nyata mulai merobek selimut delusinya.
Dia mencoba memanggil nama mereka, namun lidahnya terasa kelu dan pikirannya mendadak kosong seperti lembaran kertas yang terbakar. "Kalian... kalian seharusnya masih kecil, bermain di halaman dengan ayunan merah itu," gumamnya dengan ritme bicara yang patah-patah dan tidak beraturan. Dia menolak menerima bahwa waktu telah berjalan tanpa seizinnya, meninggalkan dirinya membusuk dalam ruang isolasi pikiran.
Wanita yang satunya lagi menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya yang lelah. "Ayah, ini sudah dua puluh tahun sejak malam itu," ucapnya dengan nada suara yang bergetar namun berusaha tetap terdengar tegar di hadapan pria itu. Praka menggelengkan kepala dengan keras, menolak angka-angka yang terasa seperti serangan fisik terhadap integritas ingatannya yang rapuh.
Keputusan Praka untuk terus bersembunyi di balik kabut imajinasi adalah cara terakhirnya untuk bertahan hidup dari rasa sakit yang menghancurkan. Baginya, kebenaran adalah racun yang sengaja disuntikkan oleh orang-orang yang mengaku mencintainya namun justru membuangnya ke tempat sunyi ini. Dia lebih memilih melihat mereka sebagai balita yang membutuhkan perlindungan, daripada wanita dewasa yang datang membawa pengampunan.