Fragmen Memori Praka

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Rekonsiliasi yang Getir

Matahari pagi menembus jendela bangsal yang kusam, menyinari jemari Praka yang gemetar saat ia melipat selimutnya dengan presisi yang obsesif. Setiap sudut harus bertemu dengan sempurna, sebuah ritual kecil yang menjadi satu-satunya cara baginya untuk meredam kebisingan di dalam kepala yang sering kali berteriak tanpa suara. Baginya, kerapian ini adalah benteng terakhir sebelum ia melangkah keluar dari gerbang besi yang selama bertahun-tahun telah memisahkan dirinya dari kekejaman realitas yang pernah menghancurkan jiwanya hingga berkeping-keping.

"Ayah, semua barang sudah masuk ke dalam tas," suara Maya memecah keheningan, lembut namun membawa beban emosi yang sulit disembunyikan. Praka menoleh perlahan, menatap putri sulungnya yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang tegar, sangat berbeda dari bayangan balita yang sering muncul dalam delusinya yang menyesatkan. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk singkat sambil terus merapikan letak kancing kemejanya yang sebenarnya sudah terpasang dengan sangat rapi sejak fajar menyingsing tadi.

Adik Maya berdiri di ambang pintu, memperhatikan interaksi itu dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap berusaha mempertahankan senyum tipis di bibirnya. Kehadiran kedua putrinya adalah sebuah keajaiban yang tidak pernah Praka sangka akan terjadi, mengingat bagaimana masa lalu telah mengubur mereka dalam tumpukan pengkhianatan dan rasa sakit yang tak terlukiskan. Mereka adalah jangkar yang kini menariknya kembali dari samudra kegilaan, memaksa Praka untuk menghadapi dunia nyata yang selama ini ia hindari melalui dinding-dinding imajinasi yang indah.

Saat kaki Praka akhirnya menginjak lantai teras rumah sakit, hawa dingin merambat naik dari telapak kakinya, mengingatkannya pada malam-malam penuh isolasi saat ia kehilangan segalanya. Trauma itu masih ada di sana, bersembunyi di balik lipatan memorinya seperti bayangan hitam yang siap menerkam kapan saja ia merasa lemah atau sendirian. Namun, genggaman tangan Maya yang hangat di lengan kirinya memberikan kekuatan yang cukup untuk membuat Praka tetap tegak dan tidak berpaling kembali ke dalam kegelapan bangsal yang aman.

Perjalanan pulang di dalam mobil terasa begitu asing, dengan pemandangan kota yang telah banyak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya sebagai pria yang waras. Praka terus memilin ujung bajunya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali kecemasan mulai merayap naik ke dadanya, namun ia berusaha keras untuk tetap fokus pada napasnya yang teratur. Ia tahu bahwa penebusan ini tidak akan berjalan dengan mudah, karena bayang-bayang masa lalu yang pahit akan selalu mengintai di setiap sudut ruang tamu rumah baru yang akan mereka tempati bersama.

Di dalam benaknya, Praka masih bisa mendengar gema tawa palsu dari keluarga ideal yang pernah ia ciptakan sebagai pelarian dari pengkhianatan istrinya yang menghancurkan hidupnya. Namun, melihat wajah tulus Maya dan adiknya, ia menyadari bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah tentang kesempurnaan tanpa cela, melainkan tentang keberanian untuk menerima luka. Langkah kaki pertamanya di halaman rumah itu terasa sangat berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban masa lalunya untuk dikubur dalam-dalam di bawah tanah yang baru ia pijak.

Ketegangan memuncak saat mereka memasuki ruang tamu, di mana sebuah foto lama yang telah retak diletakkan dengan sengaja di atas meja kayu yang masih harum bau pernisnya. Praka berhenti sejenak, menatap foto itu dengan pandangan yang kosong sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan melepaskan pegangan eratnya pada tas pakaian yang ia bawa. Ini adalah awal dari segalanya, sebuah babak baru di mana ia harus belajar menjadi seorang ayah kembali, meskipun jiwanya masih dipenuhi oleh retakan yang mungkin tidak akan pernah benar-benar pulih sepenuhnya.

Maya mendekat dan menyentuh bahu ayahnya, seolah memberikan izin bagi Praka untuk melepaskan segala ketakutan yang tersisa di dalam hatinya yang rapuh itu. Di tengah sisa trauma yang masih menghantui, Praka memilih untuk tidak lagi menutup mata dan mulai menatap masa depan bersama dua putri yang telah menemukannya kembali. Ia tahu jalan di depan masih panjang dan penuh duri, namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Praka merasa bahwa ia tidak perlu lagi bersembunyi di balik delusi untuk merasa dicintai.

Sepatu tua Praka yang solnya nyaris rata menginjak aspal panas di area parkir rumah sakit jiwa. Permukaan hitam itu seolah membakar telapak kakinya, memberikan sensasi nyata yang sudah lama tidak ia rasakan di balik ubin putih yang membeku. Udara luar yang berdebu terasa begitu asing, menyesakkan dada dengan aroma kebebasan yang justru terasa menakutkan bagi jiwanya yang rapuh.

Maya menggenggam jemari ayahnya dengan sangat erat, seolah takut pria renta itu akan memuai tertiup angin sore yang kencang. Kulit tangan Maya yang halus bersentuhan dengan kulit Praka yang kasar dan dipenuhi guratan usia yang kelam. "Kita pergi sekarang, Yah. Mobil sudah siap di depan," ucapnya dengan nada tegas, namun ada getaran halus yang menyelinap di balik suaranya yang tertata.

Praka tidak langsung melangkah, melainkan menoleh ke arah gedung tua berlumut itu sekali lagi dengan tatapan kosong. Dia ingin memastikan bahwa jeruji besi dan bau karbol yang tajam itu benar-benar tertinggal jauh di belakang punggungnya yang kini membungkuk. Selama bertahun-tahun, dinding-dinding putih itu adalah satu-satunya saksi bisu atas percakapan imajiner yang ia bangun dengan bayangan masa lalu.

Jari-jari Praka secara refleks mulai memilin ujung kemeja lusuhnya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali kecemasan mulai merayap naik. Matanya yang sayu terus mengamati gerbang besar yang perlahan menutup di belakang mereka, memisahkan dunia delusi dengan kenyataan yang pahit. Dia harus belajar bernapas kembali tanpa bantuan struktur kaku gedung itu, sebuah tugas yang terasa mustahil bagi seorang pria yang hancur.

"Ayah, lihat aku. Kita pulang ke tempat yang nyata," bisik Maya sambil menarik lembut lengan ayahnya agar terus berjalan menuju kendaraan. Praka hanya mengangguk pelan, meskipun pikirannya masih tertinggal di lorong-lorong gelap tempat ia sering melihat bayangan istrinya yang berkhianat. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menginjak pecahan kaca yang mengingatkannya pada memori keluarga yang dulu ia anggap sempurna.

Di dalam mobil, Rina sudah menunggu di balik kemudi dengan mata yang sembab, mencoba menyembunyikan sisa-sisa tangis dari sang ayah. Praka duduk di kursi belakang, memandangi pantulan wajahnya di kaca jendela yang mulai berdebu dan tampak sangat asing. Dia merasa seperti orang asing yang baru saja mendarat di planet yang tidak pernah ia kenali sebelumnya, penuh dengan suara klakson dan hiruk-pikuk manusia.

Mungkin mereka hanya bayangan lain yang diciptakan oleh obat-obatan sialan itu untuk menghiburku di saat-saat terakhir.

Pikiran itu melintas begitu cepat, membuat Praka mencengkeram sabuk pengaman dengan buku jari yang memutih karena tekanan yang kuat. Dia selalu curiga bahwa kebaikan kedua putrinya hanyalah fragmen memori yang diputar ulang oleh otaknya yang sudah rusak total. Namun, kehangatan tangan Maya yang masih mengusap bahunya terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut sebagai sebuah halusinasi klinis yang biasa ia alami.

Mobil mulai melaju membelah kemacetan kota, meninggalkan aroma obat-obatan yang selama ini menjadi satu-satunya bau yang ia kenal dengan baik. Praka melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang, merasa sangat kecil dan tidak berarti di tengah peradaban yang terus bergerak tanpa menunggunya. Kebebasan ini terasa seperti beban berat yang siap menghimpit dadanya hingga ia tidak bisa lagi mengeluarkan suara untuk meminta tolong.

Kenangan tentang pengkhianatan istrinya tiba-tiba muncul seperti kilatan petir yang menyambar di tengah siang bolong yang sangat terik. Dia ingat bagaimana tawa palsu di meja makan dulu ternyata hanyalah topeng untuk menutupi perselingkuhan yang menghancurkan seluruh dunianya. Rasa sakit itu kembali berdenyut di pelipisnya, membuat Praka memejamkan mata rapat-rapat sambil merapalkan doa-doa yang sudah lama ia lupakan maknanya.

"Kenapa kalian kembali?" tanya Praka tiba-tiba dengan suara serak yang hampir tidak terdengar di tengah kebisingan mesin mobil yang menderu. Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil mendadak membeku, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka bertiga yang terpisah waktu. Maya dan Rina saling berpandangan melalui spion tengah, mencari jawaban yang tepat untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga sangat lebar.

Rina memperlambat laju kendaraan, sementara Maya mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu karena emosi yang tertahan sejak tadi pagi. Mereka tahu bahwa membawa Praka pulang bukan sekadar urusan administrasi rumah sakit, melainkan sebuah perjalanan panjang menuju penebusan dosa masa lalu. Dunia luar mungkin luas, namun bagi Praka, ruang sempit di dalam mobil ini adalah medan tempur pertama untuk menghadapi kenyataan hidupnya.

Praka kembali memilin ujung kemejanya, menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah sanggup ia terima dengan hati yang sepenuhnya lapang. Dia melihat ke luar jendela lagi, menyaksikan pepohonan yang berlari menjauh, seolah-olah mereka juga ingin melarikan diri dari kesedihan yang ia bawa. Pria tua itu tahu bahwa mulai hari ini, dinding-dinding putih tidak akan lagi melindunginya dari kebenaran yang selama ini selalu ia hindari dengan delusi.

Tiba-tiba, Rina menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi dan menoleh ke belakang dengan tatapan yang penuh dengan api amarah sekaligus kerinduan. "Kami kembali karena Ayah adalah satu-satunya alasan kami tetap bertahan, meski Ayah pernah mencoba melupakan kami dalam kegilaan itu," ucapnya pedas. Praka tertegun, menyadari bahwa perjalanan menuju rumah yang sesungguhnya baru saja dimulai dengan sebuah hantaman kenyataan yang sangat keras dan tak terelakkan.

Laras melirik cermin tengah, memperhatikan ayahnya yang duduk kaku di kursi belakang seolah tubuhnya terbuat dari porselen retak. Mobil SUV putih itu meluncur pelan membelah kemacetan sore yang mulai mencekik jalanan protokol. Di balik kemudi, Laras meremas setir dengan jemari yang sedikit gemetar, berusaha mencari celah untuk memulai percakapan yang tidak akan berakhir dengan keheningan panjang.

"Ayah mau mampir makan sesuatu? Ada restoran soto langganan kita dulu di depan sana," tanya Laras dengan nada suara yang sengaja dicerahkan. Dia berharap aroma kuah hangat bisa memancing memori bahagia yang tersisa di kepala ayahnya. Namun, Praka hanya menggeleng perlahan, sebuah gerakan yang lebih menyerupai refleks mekanis daripada sebuah jawaban sadar atas tawaran putrinya tersebut.

Mata Praka yang keruh tidak pernah beralih dari jendela samping, terpaku pada pemandangan kota yang bergerak secepat kilat di luar sana. Baginya, aspal dan beton itu bukan lagi tempat yang dia kenali sebagai rumah, melainkan hamparan asing yang menakutkan. Semuanya telah berubah drastis semenjak dia mendekam di balik tembok putih rumah sakit jiwa yang sepi dan dingin selama belasan tahun terakhir.

Gedung-gedung pencakar langit baru menjulang tinggi dengan angkuh, tampak seperti monster kaca raksasa yang siap menelan siapa saja yang terlalu lambat melangkah. Praka merasa seperti sebuah anomali, sesosok hantu masa lalu yang dipaksa hidup kembali di tengah peradaban yang tidak lagi menyisakan ruang untuknya. Napasnya terasa berat, setiap tarikan oksigen seolah membawa debu-debu kenyataan yang menyakitkan ke dalam paru-parunya.

"Aku hanya ingin duduk sebentar," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar di antara deru mesin mobil yang halus dan suara klakson yang bersahut-sahutan di kejauhan. Praka terus memainkan kancing kemejanya yang paling atas, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali kecemasan mulai merayapi tengkuknya. Ritual jemari itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan konsisten di tengah dunia yang terus berputar tanpa henti.

Laras menghela napas panjang, matanya memanas melihat betapa rapuhnya sosok pria yang dulu menjadi pahlawan dalam dongeng masa kecilnya. Dia teringat bagaimana ayahnya dulu selalu tertawa keras saat mereka bermain di taman, sebuah tawa yang kini terkubur di bawah lapisan delusi dan pengkhianatan. Keheningan di dalam mobil itu terasa begitu pekat, seolah-olah mereka sedang berada di dalam kapsul waktu yang terisolasi dari dunia luar.

Di samping Laras, adiknya yang bernama Maya hanya terdiam sambil menatap ponsel, namun jemarinya yang mengetuk-ngetuk paha menunjukkan kegelisahan yang sama besar. Maya sesekali melirik ke arah Praka, mencari sisa-sisa kemiripan wajah mereka dalam guratan keriput sang ayah. Mereka berdua telah tumbuh dewasa tanpa kehadiran figur pelindung, dan kini mereka harus belajar merawat seseorang yang bahkan tidak yakin apakah mereka benar-benar nyata.

Praka memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir bayangan meja makan penuh makanan lezat dan tawa istri yang dulu dia cintai dengan segenap jiwa. Dalam pikirannya yang kacau, dia masih sering mendengar suara piring berdenting dan aroma masakan rumah yang hangat, padahal itu semua hanyalah fatamorgana. Realitas bahwa kebahagiaan itu adalah konstruksi dari pikirannya yang sakit membuatnya ingin kembali bersembunyi di dalam kegelapan kamarnya.

Mobil itu akhirnya berbelok memasuki sebuah taman kota yang cukup tenang, tempat di mana pepohonan besar masih berdiri kokoh melawan kepungan gedung tinggi. Laras mematikan mesin, membiarkan kesunyian menyelimuti mereka bertiga sejenak sebelum mereka melangkah keluar menuju bangku kayu di bawah pohon beringin. Dia tahu bahwa ayahnya membutuhkan ruang untuk sekadar bernapas tanpa harus merasa dikejar oleh bayang-bayang masa lalu.

Langkah kaki Praka terseret saat dia turun dari mobil, tangannya berpegangan erat pada pintu seolah takut akan terjatuh ke dalam jurang yang tak kasatmata. Dia menatap ke arah langit yang mulai berwarna jingga, warna yang sama dengan sore saat dia pertama kali menyadari bahwa keluarganya telah meninggalkannya sendirian. Luka lama itu kembali berdenyut, bukan sebagai rasa sakit fisik, melainkan sebagai beban berat yang menghimpit dada.

Mereka duduk berjajar di bangku taman, membiarkan angin sore mengusap wajah-wajah yang penuh dengan rahasia dan penyesalan masing-masing. Praka menoleh ke arah Laras dan Maya, memperhatikan fitur wajah kedua putrinya dengan ketelitian seorang pelukis yang sedang memeriksa karyanya. Ada rasa asing yang menusuk, namun di balik itu, terselip kehangatan kecil yang sudah lama tidak dia rasakan dalam kesendiriannya yang panjang.

"Kalian... benar-benar kembali?" tanya Praka tiba-tiba, suaranya parau dan bergetar, memecah kesunyian yang telah bertahan selama beberapa menit. Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan sebuah konfirmasi atas kewarasannya yang sering kali mengkhianatinya di saat-saat paling krusial. Dia takut jika dia berkedip terlalu lama, kedua wanita dewasa di hadapannya ini akan lenyap menjadi asap putih.

Laras menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan kasar, memberikan remasan lembut yang penuh dengan janji-janji penebusan di masa tua mereka nanti. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah anggukan pasti yang membuat air mata Praka akhirnya jatuh membasahi pipinya yang cekung. Di bawah bayang-bayang senja, fragmen-fragmen memori yang hancur mulai mencoba menyatu kembali, meskipun bekas retakannya akan selalu ada di sana selamanya.

Rintik air mulai membasahi kaca mobil, menciptakan pola-pola acak yang membingungkan mata Praka. Dia terus memilin ujung lengan kemejanya yang mulai lusuh, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh kecemasan. Suara wiper yang berdecit ritmis di atas kaca seolah-olah menjadi metronom yang menghitung detak jantungnya yang tidak beraturan.

Pandangannya nanar menatap jalanan yang mulai mengabur oleh kabut tipis. Bayangan masa lalu mendadak berkelebat tanpa permisi, membawa kembali aroma tanah basah yang sama persis dengan hari itu. Hari di mana Sari, istrinya, berdiri dengan tatapan sedingin es sambil menyodorkan tumpukan kertas yang harus dia tandatangani di bawah guyuran hujan lebat tanpa ampun.

"Jangan melamun, Yah," tegur Maya lembut sambil menyandarkan kepala di bahu Praka yang kaku. Praka tersentak hebat, bahunya naik seketika seolah baru saja tersengat aliran listrik. Dia menoleh perlahan, mencoba memastikan apakah sosok di sampingnya ini benar-benar nyata atau sekadar proyeksi dari kerinduan batinnya yang sudah lama hancur total.

Sentuhan tangan Maya di lengan ayahnya terasa hangat dan solid, sebuah sensasi yang sudah belasan tahun tidak pernah mampir dalam ingatan sensorik Praka. Dia terbiasa mendekap angin atau meraba dinding sel bangsal yang dingin sambil membayangkan jemari anak-anaknya. Kini, tekstur sweater rajut yang dikenakan Maya terasa begitu nyata di bawah ujung jarinya.

Di bangku kemudi, Kirana melirik dari kaca spion dengan mata yang sembab, seolah menahan beban rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Mobil terus melaju membelah rintik hujan, membawa mereka menjauh dari gedung putih yang selama ini menjadi penjara sekaligus pelindung bagi jiwa Praka yang berkeping-keping karena pengkhianatan masa lalu.

Praka berdeham pelan, suaranya terdengar parau dan asing di telinganya sendiri setelah bertahun-tahun lebih banyak bicara dengan suara-suara di dalam kepalanya. "Kita... kita mau ke mana sebenarnya?" tanyanya dengan nada bicara yang terpatah-patah, setiap suku kata seolah harus melewati perjuangan berat untuk bisa keluar dari tenggorokannya yang terasa sangat kering.

Lihat selengkapnya