Cahaya matahari sore menyusup melalui celah gorden, menyinari jemari Praka yang gemetar saat ia merapikan letak taplak meja bunga-bunga. Setiap sudut rumah ini terasa asing sekaligus terlalu akrab, seperti mimpi yang dipaksakan masuk ke dalam kenyataan. Ia terus-menerus memutar cincin perak di jari manisnya, sebuah ritual kecil untuk memastikan bahwa ia benar-benar ada di sini, bukan lagi di balik jeruji besi putih yang dingin.
Maya dan Laras duduk di sofa ruang tamu, memperhatikan setiap gerak-gerik ayah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan yang menggantung di udara, seolah-olah satu kata yang salah bisa meruntuhkan seluruh bangunan kebahagiaan yang sedang mereka susun kembali. Praka berdeham pelan, mencoba mengusir kekakuan yang mencekik lehernya sejak ia menginjakkan kaki di rumah kedua putrinya itu.
"Ayah sudah menyiapkan tehnya, mumpung masih hangat," ujar Praka dengan suara serak yang khas, berusaha terdengar setenang mungkin. Ia selalu menggunakan diksi yang sangat hati-hati, seolah-olah setiap kalimat adalah jembatan rapuh di atas jurang masa lalu. Baginya, keputusan untuk tetap tinggal di sini adalah sebuah pertaruhan besar terhadap kewarasannya yang baru saja pulih dari pengkhianatan menyakitkan di masa silam.
Bayang-bayang masa lalu itu sering kali datang tanpa diundang, menyerupai kabut hitam yang menelan wajah asli istri dan anak-anaknya yang dulu meninggalkannya. Praka sering kali harus mencengkeram pinggiran kursi kayu untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang berhalusinasi lagi. Trauma itu bukan sekadar ingatan, melainkan gema teriakan dan kesunyian panjang di ruang isolasi yang masih sering berdenyut di balik pelipisnya.
Laras mendekat, menyentuh bahu ayahnya dengan lembut, namun Praka sempat sedikit tersentak sebelum akhirnya mencoba tersenyum tipis. Ia sedang berupaya keras menyatukan kepingan hidupnya yang hancur, mencoba mengenali kembali wajah dewasa putri-putrinya yang dulu ia tinggalkan saat masih kecil. Setiap tawa kecil dari Maya terasa seperti obat sekaligus racun, mengingatkannya pada apa yang hilang dan apa yang mungkin takkan pernah kembali utuh.
Di tengah kehangatan palsu yang ia bangun, Praka menyadari bahwa dinding rumah ini menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap. Ia melihat sebuah foto lama yang terselip di bawah vas bunga, menunjukkan sosok pria lain yang merangkul mantan istrinya dengan mesra. Kepalan tangannya mengeras, dan untuk sejenak, tatapan lembutnya berubah menjadi kilat amarah yang dingin saat ia menyadari bahwa pengkhianatan itu mungkin belum benar-benar berakhir.
Praka menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya sambil terus memandangi punggung kedua putrinya yang sedang berbincang di dapur. Ia tahu bahwa penebusan ini akan memakan waktu lama, atau mungkin justru akan membawanya kembali ke kegelapan yang lebih dalam jika ia menemukan bukti baru. Dengan langkah yang berat namun pasti, ia memutuskan untuk menyimpan foto itu di sakunya, bersiap menghadapi kenyataan pahit yang mungkin akan menghancurkan delusi indahnya sekali lagi.
Gorden abu-abu yang kusam itu tersingkap pelan, menimbulkan bunyi gesekan ring logam yang memekakkan telinga di kesunyian pagi. Sinar matahari yang tajam menerobos masuk, menyentuh permukaan pipi Praka yang kasar dan ditumbuhi janggut putih tipis. Ia tidak memejamkan mata, melainkan membiarkan cahaya itu membakar retinanya sejenak, seolah ingin memastikan bahwa dunia di depannya benar-benar nyata.
Tangan Praka yang gemetar mulai bergerak dengan ritme yang sangat lambat namun pasti untuk merapikan sprei tempat tidurnya. Setiap sudut kain ditarik hingga kencang, sebuah ritual harian yang ia lakukan dengan ketelitian seorang arsitek yang sedang membangun fondasi. Baginya, kerapian tempat tidur adalah satu-satunya kendali yang ia miliki atas semesta yang sering kali runtuh tanpa peringatan.
Keheningan di dalam kamar itu terasa begitu jujur, tidak ada lagi gema tawa Sari yang biasanya mengisi sudut-sudut plafon yang retak. Dulu, ia sering mendengar suara istrinya berdendang di dapur, namun kini ia tahu itu hanyalah residu dari memori yang rusak. Bau karbol yang menusuk hidung menggantikan aroma masakan rumahan, menegaskan bahwa ia berada di sebuah institusi, bukan di istana kebahagiaan.
"Ayah sudah bangun?" Suara lembut Laras memecah lamunan Praka dari ambang pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Praka tidak langsung menjawab, ia hanya memberikan anggukan mantap yang disertai dengan tarikan napas panjang. Matanya menatap jari-jarinya sendiri, mencoba meredam getaran yang biasanya menjadi pertanda bahwa badai delusi akan segera datang menghantam kesadarannya.
Praka bangkit berdiri, merasakan dinginnya lantai semen yang merambat melalui telapak kakinya yang pecah-pecah. Ia ingin membuktikan kepada Laras, dan terutama kepada dirinya sendiri, bahwa hari ini ia mampu mengendalikan badai di kepalanya. Pikirannya harus tetap jernih tanpa bantuan pil-pil berwarna oranye yang selalu membuatnya merasa seperti mayat hidup yang berjalan di bawah air.
Laras mendekat, membawa nampan berisi segelas air putih dan sepotong roti tawar yang tampak kering. Praka menatap nampan itu dengan tatapan curiga, sebuah kebiasaan lama yang sulit hilang sejak ia merasa dikhianati oleh seluruh dunianya. Ia selalu mencari tanda-tanda pengkhianatan di balik setiap tindakan baik, sebuah bias keputusan yang lahir dari luka masa lalu yang belum kering.
"Makanlah sedikit, Yah, agar tenagamu pulih untuk terapi nanti siang," ucap Laras dengan nada bicara yang datar namun penuh penekanan. Praka hanya mendengus kecil, sebuah suara yang keluar dari tenggorokannya sebagai bentuk komunikasi yang paling jujur. Ia tidak menyukai kata terapi, karena baginya itu adalah istilah halus untuk membedah paksa isi kepalanya yang sudah hancur lebur.
Tiba-tiba, Praka mencengkeram pinggiran tempat tidur hingga buku-buku jarinya memutih, sebuah gestur yang menandakan ketegangan yang memuncak. Bayangan Sari yang sedang menangis di pojok ruangan tiba-tiba muncul, namun ia segera menggelengkan kepala dengan keras untuk mengusirnya. "Aku tidak butuh obat itu, Laras. Aku hanya butuh kalian kembali seperti dulu," geramnya dengan suara parau yang bergetar hebat.
Laras terdiam, matanya menatap nanar pada ayahnya yang kini tampak begitu rapuh sekaligus meledak-ledak. Konflik batin terpancar dari wajahnya yang lelah; ia ingin memeluk ayahnya, namun ketakutan akan ledakan emosi Praka selalu menahannya. "Kami sudah di sini, Yah. Aku dan adikku sudah kembali," bisiknya, mencoba memberikan kepastian di tengah badai keraguan yang menghantam pria tua itu.
Namun, sebuah memori pahit mendadak melintas secepat kilat, memicu ledakan kemarahan yang tak terbendung di dada Praka. Ia teringat saat Sari menyeret koper keluar dari rumah mereka puluhan tahun lalu, sementara Laras kecil menangis di sudut pintu. "Kalian pergi! Kalian meninggalkan aku membusuk di sini!" teriak Praka sambil menyapu nampan di tangan Laras hingga isinya berhamburan ke lantai.
Gelas kaca itu pecah berkeping-keping, mencerminkan kondisi jiwa Praka yang kembali retak tepat di saat ia merasa paling kuat. Laras tersentak mundur, tangannya menutupi mulut untuk menahan isak tangis yang nyaris lolos dari bibirnya. Ia melihat ayahnya kini tersungkur di lantai, mencoba memunguti kepingan kaca dengan tangan kosong hingga darah segar mulai menetes dari ujung jarinya.
Di tengah kekacauan itu, sebuah kenyataan pahit menghantam kesadaran Praka saat ia menatap pantulan wajahnya di pecahan kaca yang berdarah. Ia melihat sosok asing yang penuh amarah, namun di belakangnya, ia melihat bayangan Sari yang tersenyum dingin, memegang surat cerai yang lama hilang. Ternyata, pengkhianatan itu bukan dilakukan oleh keluarganya, melainkan oleh ingatannya sendiri yang telah memutarbalikkan fakta demi melindungi harga dirinya.
Kesadaran itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun, membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya di atas lantai yang basah. Ia menyadari bahwa selama ini ia membenci orang-orang yang justru paling mencintainya, sementara ia memuja memori palsu tentang seorang istri yang sebenarnya telah lama membuangnya. Laras berlutut di sampingnya, mengabaikan pecahan kaca, dan memeluk bahu ayahnya yang berguncang hebat karena tangisan penyesalan yang terlambat.
Roti bakar gandum yang masih hangat tersaji cantik di atas piring keramik berwarna biru laut. Uap tipis mengepul dari permukaannya, membawa aroma gandum panggang yang bercampur sempurna dengan wangi mentega cair. Praka duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya bertumpu kaku di atas meja kayu jati yang mengilap tertimpa cahaya matahari pagi yang menembus jendela kaca besar di samping mereka.
Di hadapannya, Maya tampak sangat sibuk jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel yang terus menyala. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, sesekali menutupi wajahnya yang serius saat membaca rentetan pesan masuk. Suasana ruang makan itu terasa begitu tenang dan berkelas, seolah-olah kebisingan dunia luar tidak mampu menembus dinding rumah mereka yang kokoh dan penuh kenangan manis.
"Makanlah, Yah. Kita butuh tenaga ekstra untuk menghadapi jadwal di pengadilan hari ini," ujar Maya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari perangkat digital di tangannya. Suaranya terdengar datar namun tegas, ciri khas seorang putri yang kini telah tumbuh menjadi wanita karier yang mandiri. Praka hanya mengangguk pelan, sebuah gerakan refleks yang sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.
Praka perlahan meraih stoples selai kacang yang terletak di tengah meja, lalu mengoleskannya dengan sangat teliti ke atas roti. Dia memastikan setiap sudut roti tertutup sempurna, seakan-akan sedang mengerjakan proyek arsitektur yang sangat vital. Tekstur selai yang kasar dan kental terasa begitu nyata di bawah tekanan pisaunya, memberikan sensasi fisik yang sangat memuaskan bagi indra perabanya pagi itu.
Saat gigitan pertama mendarat di lidahnya, rasa gurih yang kaya segera meledak di dalam mulutnya, memicu aliran air liur yang tak terbendung. Tekstur roti yang renyah di luar namun lembut di dalam terasa sangat kontras dengan ingatan samar tentang bubur tawar tanpa rasa. Makanan ini jauh berbeda dari hidangan lembek yang biasa dia telan dengan terpaksa di balik jeruji bangsal isolasi yang dingin.
Praka mengunyah dengan ritme yang teratur, mencoba meresapi setiap molekul rasa yang hadir di sana seolah ini adalah perjamuan terakhirnya. Matanya sesekali melirik ke arah dinding rumah yang dihiasi foto-foto keluarga dalam bingkai emas, memperlihatkan tawa mereka yang tampak abadi. Dia merasa sangat beruntung bisa kembali ke rumah ini, menikmati kemewahan sederhana yang sempat dirampas oleh kegelapan masa lalunya.
Namun, ada sesuatu yang aneh dengan bayangan Maya yang terpantul di permukaan teko perak di dekat tangannya yang bergetar kecil. Dalam pantulan logam yang melengkung itu, wajah putrinya tampak memanjang dan sedikit buram, menciptakan ilusi visual yang mengganggu ketenangannya. Praka mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha membersihkan pandangannya dari gangguan yang dia anggap hanya sekadar kelelahan mata akibat kurang tidur semalam.
Tiba-tiba, Maya meletakkan ponselnya dengan suara denting yang cukup keras di atas meja kaca, membuat Praka sedikit tersentak dari lamunannya. "Ayah, jangan lupa minum obatmu setelah ini, kita tidak ingin insiden minggu lalu terulang kembali di depan hakim," ucapnya. Praka terdiam sejenak, jemarinya meraba saku kemejanya yang kosong, mencari botol kecil yang biasanya selalu ada di sana setiap pagi.
Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada minggu lalu, namun pikirannya terasa seperti sebuah ruangan luas yang dipenuhi kabut tebal. Hanya ada
potongan-potongan suara teriakan dan bayangan petugas berseragam putih yang melintas cepat di dalam ingatannya yang mulai memudar. Praka memaksakan sebuah senyum kecil, sebuah topeng yang dia gunakan untuk menyembunyikan kebingungan yang mulai merayap di balik dadanya.
Maya berdiri lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, meninggalkan Praka sendirian dalam keheningan yang tiba-tiba terasa mencekam. Praka menatap piring birunya, menyadari bahwa remahan roti di sana membentuk pola yang tidak beraturan, mirip dengan denah lantai rumah sakit jiwa yang dulu dia tempati. Perasaan mual mulai naik ke tenggorokannya, namun dia berusaha keras menelannya kembali demi menjaga citra keluarga yang sempurna.
Ketika Maya kembali, dia tidak membawa segelas air, melainkan sebuah nampan plastik kecil berisi satu mangkuk bubur putih yang tampak sangat encer. Cahaya matahari yang tadinya cerah tiba-tiba meredup, dan dinding-dinding ruang makan yang mewah mulai terlihat mengelupas, menyingkap tembok semen yang lembap. Praka terpaku, tangannya yang memegang roti bakar kini justru sedang menggenggam sebuah sendok plastik tumpul yang sudah patah di ujungnya.
Suara tawa Maya yang manis berubah menjadi suara langkah kaki berat dari arah lorong yang panjang dan berbau karbol yang sangat menyengat. "Ayo Praka, waktu sarapan sudah habis, kamu harus kembali ke kamar untuk sesi terapi listrik pagi ini," ujar seorang pria berseragam biru. Praka menoleh ke arah kursi Maya, namun yang dia temukan hanyalah sebuah kursi besi kosong yang bautnya sudah berkarat dan bergoyang tertiup angin dingin.
Dia melihat ke bawah ke arah piring keramik birunya, yang kini telah berubah menjadi nampan aluminium penyok penuh dengan noda bekas makanan lama. Rasa gurih selai kacang di lidahnya mendadak berubah menjadi rasa pahit obat kimia yang dipaksakan masuk ke dalam kerongkongannya setiap beberapa jam sekali. Praka menyadari satu hal yang menghancurkan jiwanya: dia tidak pernah meninggalkan bangsal itu, dan Maya hanyalah hantu dari pengkhianatan yang belum selesai dia bayar.
Map cokelat itu tergeletak kaku di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai mengelupas, kontras dengan tumpukan berkas hukum yang terlihat begitu dingin dan tajam. Di dalamnya tersimpan lembaran tuntutan pengembalian aset yang selama puluhan tahun dirampas oleh Sari melalui serangkaian manipulasi ilegal yang licin. Cahaya lampu ruang tamu yang temaram membuat bayangan map itu tampak memanjang, seolah-olah menjadi saksi bisu atas segala kehancuran yang pernah menimpa hidup Praka.
Ibu jari Praka bergerak perlahan, mengusap logo pengadilan di pojok kertas dengan ritme yang monoton, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia berusaha menekan badai di kepalanya. Tekstur kertas yang kasar di bawah kulitnya terasa jauh lebih nyata daripada bayangan-bayangan semu tentang keluarga harmonis yang dulu sering menghantuinya di bangsal rumah sakit jiwa. Matanya yang mulai mengeruh kini memancarkan kilatan tekad yang sudah lama padam, menatap barisan kalimat hukum yang akan menjadi senjatanya.
"Aku ingin dia tahu bahwa aku masih hidup, Laras. Aku tidak mati dalam kegilaan yang dia ciptakan sendiri," ucap Praka dengan suara berat yang bergetar, membawa beban harga diri yang sempat hancur berkeping-keping. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti serpihan kaca yang saling beradu, tajam dan penuh luka yang belum sepenuhnya mengering. Ia tidak lagi bicara tentang uang atau tanah, melainkan tentang eksistensinya yang selama ini dianggap telah lenyap oleh pengkhianatan sang istri.
Laras, putri sulungnya yang kini telah dewasa dan memiliki sorot mata setajam elang, segera menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin dan gemetar di atas meja. Genggaman itu begitu erat, seolah-olah ia sedang menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menambal lubang besar di hati Praka yang telah menganga selama bertahun-tahun. Ia tahu betul bagaimana rasanya tumbuh besar tanpa sosok ayah hanya karena ambisi gila seorang wanita yang seharusnya melindungi mereka semua.