Aroma kopi tubruk yang pekat memenuhi beranda rumah kayu itu, tempat Praka biasa duduk menekuni hobi lamanya memilin ujung kumis. Baginya, setiap puntiran kumis adalah cara untuk menata kembali kepingan realitas yang sering kali terasa bergeser dari porosnya. Suasana pagi ini begitu tenang, hanya ada suara gesekan daun jati yang tertiup angin sepoi-sepoi, menciptakan ilusi kedamaian yang selama ini ia dambakan di masa tuanya.
Ketenangan itu mendadak retak saat seorang pengantar surat bersepeda motor berhenti tepat di depan pagar kayu yang catnya mulai mengelupas. Langkah kaki si pengantar terdengar berat di atas kerikil, membawa sebuah amplop cokelat kusam yang tampak sangat asing di tengah kehidupan Praka yang kini serba teratur. Praka menerima surat itu dengan jemari yang sedikit gemetar, sebuah reaksi tubuh yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun wajahnya tetap terlihat datar.
Mata Praka menyipit saat melihat tulisan tangan di atas amplop tersebut, sebuah gaya penulisan miring yang sangat ia kenali dari masa lalu yang kelam. "Segala sesuatu punya harga, dan cicilanmu baru saja dimulai," gumamnya pelan dengan ritme bicara yang lambat dan berat, sebuah kebiasaan saat ia merasa terpojok. Ia tidak langsung membukanya, melainkan meletakkan surat itu di atas meja seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Pikirannya seketika terseret kembali pada lorong-lorong dingin rumah sakit jiwa, tempat di mana ia dulu sering berteriak memanggil nama istri yang mengkhianatinya. Bayangan tentang tawa palsu dan dokumen perceraian yang ditandatanganinya di bawah tekanan delusi kini muncul kembali dengan kejelasan yang menyakitkan. Surat ini bukan sekadar kertas, melainkan undangan untuk kembali ke dalam lubang hitam yang hampir saja berhasil ia tutup rapat-rapat.
Alih-alih membuang surat itu ke tempat sampah, Praka justru mengambil pisau lipat kecil dari saku celananya untuk menyobek segel amplop dengan sangat presisi. Ia selalu memiliki kecenderungan untuk menghadapi ancaman secara langsung daripada menghindarinya, meskipun ia tahu keputusan itu mungkin akan menghancurkan kewarasannya lagi. Di dalam amplop itu, terdapat sebuah foto lama yang memperlihatkan dirinya sedang menggendong dua anak perempuan kecil di sebuah taman.
Dua anak itu, yang kini telah tumbuh dewasa dan merawatnya dengan penuh kasih, ternyata memiliki rahasia yang tersembunyi di balik senyum tulus mereka selama ini. Di balik foto tersebut tertulis sebuah alamat panti asuhan dan tanggal yang tidak sesuai dengan ingatan Praka tentang kelahiran putri-putrinya sendiri. Realitas yang ia bangun dengan susah payah mulai bergoyang, memaksanya mempertanyakan apakah kasih sayang yang ia terima sekarang adalah penebusan atau sekadar sandiwara baru.
Praka berdiri dengan lutut yang terasa lemas, namun tatapannya mendadak menjadi sangat tajam saat ia melihat kedua putrinya berjalan mendekat dari arah dapur. Ia meremas foto itu di dalam genggamannya hingga kertasnya hancur, bersiap menanyakan sebuah kebenaran yang mungkin akan mengakhiri masa tuanya dalam kegelapan yang lebih pekat. Pertanyaan besar kini menggantung di udara, menanti untuk dilepaskan sebelum matahari benar-benar terbenam di ufuk barat.
Ketukan beruntun di kusen pintu kayu yang mulai melapuk itu mengejutkan Praka dari lamunan panjangnya. Laras berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, jemarinya yang lentik menggenggam sebuah amplop cokelat kusam yang tampak sudah berpindah tangan berkali-kali. "Ada kiriman paket buat Ayah, tadi ditaruh di depan pagar," ucap Laras singkat tanpa sedikit pun binar kehangatan di matanya yang dingin.
Praka mengulurkan tangan yang gemetar untuk menyentuh permukaan kertas yang kasar dan sedikit lembap tersebut. Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan sampulnya, sebuah getaran aneh seolah menyengat saraf-saraf di lengannya, memicu denyut kecemasan yang mendadak. Ia membolak-balik amplop itu dengan saksama, namun kolom nama pengirim tetap kosong melongpong tanpa jejak tinta sedikit pun.
Hidungnya yang sensitif menangkap semburat aroma parfum melati yang samar namun sangat tajam menusuk ingatan masa lalunya. Bau itu bukan sekadar wangi bunga biasa, melainkan aroma yang selalu identik dengan kebohongan manis yang pernah menghancurkan dunianya puluhan tahun silam. Jantung Praka mulai berdegup kencang, menciptakan dentuman di dada yang terasa seperti genderang perang yang menuntut jawaban segera.
Tanpa peringatan, Praka merobek paksa pinggiran amplop itu hingga kertasnya hancur berantakan di lantai kamar yang berdebu. Di dalamnya, ia menemukan selembar foto lama yang warnanya sudah menguning, menampilkan dirinya yang sedang tersenyum lebar di tengah pesta ulang tahun. Namun, wajah istri dan anak-anak di sampingnya dalam foto itu telah dicoret habis menggunakan tinta merah pekat hingga tak lagi bisa dikenali.
"Siapa yang berani mengirimkan sampah ini ke rumahku?" teriak Praka dengan suara serak yang memecah kesunyian koridor rumah sakit jiwa tersebut. Ia menoleh ke arah Laras, namun sosok putrinya itu kini tampak berbeda, bayangannya seolah memudar dan menyatu dengan kegelapan di sudut ruangan. Napasnya memburu saat ia menyadari bahwa tembok putih di sekelilingnya mulai retak, memperlihatkan ilusi yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Kemarahan yang meluap membuat Praka melemparkan kursi plastik di dekatnya hingga menghantam dinding dengan dentuman yang memekakkan telinga. Ia merasa dikhianati oleh ingatannya sendiri, menyadari bahwa kepulangan putri-putrinya mungkin hanyalah fragmen delusi yang sengaja diciptakan untuk menutupi luka yang lebih dalam. Dengan mata memerah, ia meremas foto itu hingga remuk, bersumpah akan mencari siapa pun yang berani membongkar paksa gerbang neraka masa lalunya.
Laras menggeser kursi kayu yang berderit nyaring, memecah kesunyian ruang tamu yang hanya diterangi lampu redup. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, sebuah campuran antara rasa iba dan tuntutan yang tertahan. Tangan Praka yang gemetar terus memainkan ujung amplop cokelat kusam itu, seolah benda tersebut adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja jika ia salah menyentuhnya.
"Buka saja, Yah. Jangan takut," desak Laras dengan suara rendah yang sedikit parau, sembari melabuhkan tubuhnya tepat di samping pria tua itu. Ia meletakkan telapak tangannya di atas bahu Praka, merasakan otot-otot ayahnya yang menegang kaku seperti kawat baja. Praka hanya terdiam, matanya yang mulai mengeruh terus terpaku pada segel lilin yang mengunci rapat rahasia di dalam bungkusan kertas tersebut.
Aroma lembap sisa hujan sore tadi merayap masuk melalui celah jendela, bercampur dengan bau obat-obatan yang selalu melekat pada pakaian Praka. Dengan gerakan yang tiba-tiba dan meledak-ledak, ia merobek segel itu dengan kasar hingga kertasnya koyak tak beraturan. Jemarinya yang kasar merogoh ke dalam, menarik keluar selembar benda tipis yang selama ini terkubur dalam lipatan memori yang ingin ia musnahkan selamanya.
Di tangannya kini tergenggam selembar foto lama yang tepiannya sudah menguning dan mulai rapuh dimakan usia. Cahaya lampu yang bergoyang membuat bayangan di atas foto itu seolah bergerak-gerak secara aneh. Foto itu menangkap momen pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, dengan dekorasi bunga melati yang putih bersih dan senyum merekah dari pasangan pengantin yang terlihat sangat serasi.
Namun, pemandangan itu berubah menjadi sesuatu yang mengerikan saat mata Praka menangkap coretan kasar di atas kertas tersebut. Wajah Sari, wanita yang pernah menjadi pusat dunianya, telah dicoret habis-habisan dengan tinta merah pekat yang tampak seperti darah kering. Coretan itu begitu dalam hingga merusak permukaan foto, menunjukkan kemarahan atau kebencian yang meluap-luap dari si pengirim misterius.