Praka melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit yang pengap oleh aroma karbol, jemarinya terus memilin ujung kemeja yang sudah lusuh hingga kainnya tampak mengerut tajam. Ritual kecil itu adalah satu-satunya cara baginya untuk menahan gemetar yang merambat dari lutut hingga ke dada, sebuah tanda bahwa benteng halusinasinya mulai retak diterjang kenyataan pahit. Di ujung koridor yang remang, sebuah pintu kayu jati berdiri kokoh, seolah menjadi gerbang menuju masa lalu yang selama belasan tahun ini ia kunci rapat-rapat dalam peti delusi yang indah namun palsu.
Setiap derap langkahnya bergema pelan di atas lantai pualam yang dingin, memicu kilasan memori tentang tawa anak-anak dan aroma masakan istri yang ternyata hanyalah proyeksi dari kerinduan yang sakit. Dia bukan lagi pria perkasa yang memimpin keluarga harmonis di meja makan mewah, melainkan seorang pasien yang baru saja menyadari bahwa istana megahnya dibangun di atas puing-puing pengkhianatan. Praka berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam hingga dadanya terasa sesak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi sosok yang telah menghancurkan dunianya tanpa ampun.
Suara batinnya terus berteriak, mengingatkannya pada malam jahanam saat ia menemukan surat-surat gelap yang membongkar perselingkuhan istrinya dengan sahabat karibnya sendiri, sebuah fakta yang membuatnya kehilangan kewarasan dalam semalam.
Pikirannya sempat menolak realitas itu, menciptakan dunia paralel di mana ia tetap menjadi ayah yang dicintai, namun kini gelembung itu harus pecah demi sebuah penebusan. Dia tahu bahwa di balik pintu itu, masa lalu sudah menunggu untuk diselesaikan secara jantan, meskipun itu berarti dia harus menerima bahwa sebagian besar hidupnya hanyalah sebuah kebohongan yang tragis.
Tangannya yang kurus perlahan meraih kenop pintu dengan ragu, namun sorot matanya yang biasanya kosong kini memancarkan kilatan tekad yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun ia dirawat. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri ke dalam mimpi-mimpi indah yang menipu, karena rantai trauma ini harus diputus sekarang juga sebelum sisa usianya habis dimakan kesia-siaan. Praka tahu risiko yang ia hadapi adalah kehancuran mental yang lebih dalam, namun baginya, hidup dalam kebenaran yang menyakitkan jauh lebih mulia daripada mati dalam kebahagiaan yang dipenuhi oleh kepalsuan belaka.
Saat pintu itu akhirnya terbuka dengan derit pelan yang menyayat keheningan, cahaya lampu dari dalam ruangan menyilaukan pandangannya untuk beberapa saat, memaksanya untuk memicingkan mata dengan waspada. Di sana, duduk dua wanita dewasa yang wajahnya sangat familiar namun terasa asing, menatapnya dengan campuran rasa bersalah dan kerinduan yang teramat dalam hingga membuat napas Praka tercekat.
Mereka adalah putri-putrinya yang dulu ia lupakan karena tenggelam dalam kegilaan, kini kembali untuk menagih janji seorang ayah yang sempat hilang ditelan bayang-bayang kelam masa lalu yang sangat mengerikan.
Praka tidak langsung bicara, ia hanya berdiri mematung sambil memperhatikan detail wajah kedua putrinya yang kini telah tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan tegar di hadapannya. Getaran di tangannya mulai mereda, digantikan oleh rasa hangat yang merayap perlahan ke dalam relung hatinya yang selama ini beku dan mati rasa akibat trauma yang berkepanjangan.
Ini adalah momen yang paling ia takuti sekaligus ia nantikan, sebuah kesempatan terakhir untuk memperbaiki pecahan kaca yang telah hancur berkeping-keping akibat badai pengkhianatan yang pernah meluluhlantakkan seluruh pondasi hidup dan harga dirinya.
Dengan suara serak yang hampir tak terdengar, ia membisikkan sebuah nama yang sudah lama tidak pernah ia ucapkan dengan sadar, seolah memanggil kembali bagian dari jiwanya yang sempat tercerabut paksa. Kedua wanita itu bangkit dari kursi mereka, melangkah mendekat dengan air mata yang mulai membasahi pipi, menciptakan suasana haru yang memecah dinginnya dinding rumah sakit jiwa tersebut.
Praka memejamkan mata, membiarkan kenyataan pahit itu memeluknya erat-erat, karena ia sadar bahwa perjalanan menuju kesembuhan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari sebuah pengakuan jujur di sore yang mendung ini.
Buku jari Praka memutih, menekan kemudi kulit sintetis mobil sewaan itu hingga urat-urat tangannya menonjol tegang. Aroma pembersih interior yang tajam menusuk hidungnya, namun tak mampu mengalihkan fokusnya dari aspal yang membentang di depan. Setiap putaran roda seolah menyeretnya kembali ke dekade yang seharusnya sudah terkubur di bawah tumpukan diagnosa medis dan dinding putih rumah sakit jiwa.
Jalanan pinggiran kota yang berdebu ini terasa seperti lorong waktu yang menyesakkan, di mana bayangan pohon-pohon peneduh jatuh dengan sudut yang salah di matanya. Sinar matahari sore yang kuning pucat memantul di kaca depan, menciptakan kilatan-kilatan yang memicu denyut nyeri di pelipisnya. Dia terus merapalkan urutan angka di dalam hati, sebuah ritual lama untuk memastikan bahwa dunia di sekitarnya bukanlah sekadar proyeksi dari pikirannya yang retak.
"Ayah yakin mau melakukan ini sendiri? Kita bisa berbalik sekarang kalau Ayah merasa tidak nyaman," tanya Maya dengan nada suara yang bergetar karena kecemasan yang nyata. Gadis itu duduk di kursi penumpang, jemarinya terus memilin ujung kemejanya sendiri sambil sesekali melirik profil wajah ayahnya yang kaku. Maya mencari-cari tanda-tanda kegelisahan yang biasa muncul sebelum Praka kehilangan pijakan pada realitas yang ada.
Praka hanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun, seolah-olah jika dia memalingkan wajah, seluruh pemandangan ini akan menguap menjadi asap kelabu. Rahangnya mengatup rapat, menciptakan garis keras yang membuat wajah tuanya tampak jauh lebih mengancam daripada biasanya. Ada sesuatu di balik kabut ingatannya yang menuntut untuk diselesaikan, sebuah utang rasa sakit yang sudah terlalu lama tertunda pembayarannya.
Dia perlu mengakhiri ketakutan yang mencekik ini sebelum bayang-bayang masa lalu kembali mengambil alih kewarasannya yang baru saja pulih dengan susah payah. Di dalam saku jaketnya, sebuah kunci tua yang berkarat terasa sangat berat, seolah membawa beban seluruh dosa yang pernah terjadi di dalam rumah itu. Dia tahu bahwa di balik pintu kayu yang lapuk nanti, kebenaran pahit tentang pengkhianatan istrinya sedang menanti untuk diungkap.
Mobil itu melambat saat memasuki gerbang perumahan yang sudah tak terawat, di mana rumput liar tumbuh tinggi menutupi trotoar yang pecah-pecah. Suara mesin mobil yang halus terdengar begitu kontras dengan kesunyian mencekam yang menyelimuti lingkungan tersebut. Praka mematikan mesin, namun tangannya masih enggan melepaskan kemudi, seakan benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam delusi.
Angin sore berdesir masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan kayu lapuk yang sangat familiar bagi indra penciumannya. Kenangan tentang tawa anak-anak yang berlarian di halaman mulai berkelebat, namun kali ini Praka memaksanya tetap berada di tepian kesadaran. Dia tahu tawa itu mungkin hanya gema dari masa depan yang dicuri darinya oleh orang-orang yang paling dia percayai dahulu.
Maya menyentuh lengan ayahnya dengan lembut, sebuah gerakan kecil yang membuat Praka sedikit tersentak dari lamunannya yang gelap. Kontak fisik itu terasa seperti sengatan listrik yang mengingatkannya bahwa ada kehidupan nyata yang sedang berdiri di sampingnya saat ini. Namun, mata Praka tetap terpaku pada jendela lantai dua rumah di depannya, di mana sebuah tirai tampak bergerak seolah ada seseorang yang mengintai.
Semuanya tampak begitu nyata, tapi bukankah dulu juga terasa seperti ini sebelum semuanya hancur berantakan?
Praka keluar dari mobil dengan gerakan yang kaku, kakinya menginjak kerikil tajam yang berderit di bawah sepatu tuanya yang sudah mulai usang. Dia tidak menoleh ke arah Maya, melainkan terus melangkah menuju pintu utama dengan tekad yang nyaris terlihat seperti kemarahan yang tertahan. Setiap langkahnya adalah sebuah perlawanan terhadap bisikan-bisikan di kepalanya yang mengatakan bahwa dia sedang bermimpi lagi.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu yang dingin, sebuah kilas balik menghantamnya dengan kekuatan penuh: wajah istrinya yang tersenyum di balik punggung pria lain. Rasa mual mendadak naik ke kerongkongannya, namun dia menelannya kembali dengan paksa sambil memutar kunci yang berderit keras di dalam lubangnya. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan bau debu dan pengap yang sudah terperangkap selama bertahun-tahun di sana.
Di dalam ruang tamu yang gelap, perabotan masih tertutup kain putih yang kini tampak seperti hantu-hantu yang sedang duduk menunggu kepulangannya. Praka berjalan melewati sofa, jarinya menyentuh permukaan kain yang kasar dan penuh debu tebal yang menempel di ujung kuku. Dia berhenti di depan sebuah bingkai foto besar yang posisinya miring di dinding, menampakkan wajah keluarga yang tampak sangat bahagia dan tanpa cela.
Dia meraih bingkai itu dan membalikkannya, menemukan secarik kertas tua yang terselip di balik penutup kayu yang sudah mulai dimakan oleh rayap. Dengan tangan gemetar, dia membaca baris demi baris tulisan tangan yang sangat dia kenali sebagai tulisan istrinya sendiri yang ditujukan untuk orang lain. Realitas yang selama ini dia anggap sebagai kegilaan ternyata hanyalah sebuah kebenaran yang sengaja dikubur hidup-hidup oleh pengkhianat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah dapur yang gelap, membuat Praka seketika menegang dan menggenggam kertas itu hingga remuk di kepalan tangannya. Sosok yang muncul dari bayang-bayang bukanlah Maya, melainkan seorang pria tua dengan wajah yang sangat mirip dengan dirinya namun mengenakan seragam perawat rumah sakit. Praka menyadari dengan ngeri bahwa pintu yang tadi dia buka sebenarnya tidak pernah mengarah ke luar, melainkan kembali ke dalam selnya sendiri.
Bunyi derit besi tua yang berkarat menyambut kedatangan mereka dengan nada yang memilukan, seolah-olah gerbang itu sedang merintih kesakitan. Praka berdiri mematung di depan pintu masuk rumah lama yang kini tampak kusam dan terbengkalai, sangat kontras dengan gambaran istana emas yang selama ini bertahta di dalam halusinasinya. Jemarinya terus memilin ujung kemejanya secara ritmis, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali kecemasan mulai merayap naik ke tenggorokannya.
Laras mencoba membuka pintu mobil dengan gerakan ragu, hendak turun untuk merangkul bahu ayahnya yang tampak rapuh di bawah terik matahari. Namun, Praka segera mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat tegas agar putrinya tetap tinggal di dalam kendaraan. "Tetap di sana, Nak. Biar Bapak yang menyelesaikan urusan dengan bayangan ini sendirian," gumamnya dengan suara parau yang bergetar namun penuh dengan sisa-sisa otoritas masa lalu yang mulai pudar.
Langkah kaki Praka terasa sangat berat saat dia mulai menyusuri jalan setapak yang kini tertutup ilalang liar dan tumpukan daun kering. Kebenaran pahit harus dihadapi tanpa perisai delusi yang selama ini melindunginya dari kenyataan tentang pengkhianatan istrinya yang telah lama pergi. Dia melangkah masuk ke dalam teras yang retak, membiarkan debu masa lalu menempel di sepatunya yang bersih, seolah debu itu adalah dosa yang harus dia pikul kembali ke dalam ingatannya.
Di ambang pintu yang miring, Praka berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang mulai sesak oleh bau apek dan kenangan busuk yang menyeruak dari dalam rumah. Dia menatap lubang kunci yang sudah tertutup sarang laba-laba, menyadari bahwa kunci menuju kewarasan yang selama ini dia cari ternyata tersimpan di balik reruntuhan ini. Setiap langkah yang dia ambil kini bukan lagi tentang melarikan diri, melainkan tentang menghancurkan dinding fantasi yang selama ini memenjarakan jiwanya dalam kegelapan.
Tiba-tiba, suara tawa anak kecil yang samar terdengar di telinganya, sebuah gema dari masa lalu yang memaksanya untuk berhenti dan memejamkan mata dengan rapat. Dia tahu itu hanyalah sisa dari memorinya yang rusak, namun rasa sakitnya terasa begitu nyata hingga dia harus berpegangan pada pilar kayu yang sudah lapuk. Praka menarik napas panjang, menguatkan hatinya untuk membuka pintu utama dan menghadapi kenyataan bahwa kebahagiaan yang dia puja selama ini hanyalah sebuah kebohongan besar.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" Suara itu tajam, memotong kesunyian sore yang biasanya hanya diisi oleh desir angin di halaman panti. Sari berdiri tegak di sana, mengenakan pakaian sutra halus yang berkilau tertimpa cahaya matahari terbenam. Pakaian itu adalah salah satu barang mewah yang dulu dibeli dengan uang hasil jerih payah Praka, sisa-sisa kejayaan yang kini terasa seperti ejekan visual di depan matanya.
Wajah wanita itu sama sekali tidak menunjukkan gurat penyesalan, hanya ada kejengkelan yang kentara pada kerutan di dahinya yang dipoles bedak mahal. Praka berhenti tepat lima langkah darinya, jarak yang cukup untuk melihat pori-pori wajah wanita yang dulu ia puja. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dada dengan ritme yang tidak beraturan, namun jemarinya tetap terkendali, tidak gemetar sedikit pun.
Praka meraba saku kemeja lusuhnya, sebuah gestur otomatis yang selalu ia lakukan saat kecemasan mulai merayap naik ke tenggorokan. Ia menatap Sari dengan pandangan yang sulit diartikan, antara rindu yang tersisa dan luka yang sudah membusuk sejak lama. "Aku cuma mau lihat anak-anak, Sar. Apa itu terlalu banyak buat laki-laki yang sudah kasih segalanya?" suaranya rendah, serak karena bertahun-tahun jarang digunakan untuk berbincang.
Sari tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telinga Praka yang sensitif. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga aroma parfum mawar yang menyengat menusuk indra penciuman Praka, membangkitkan memori tentang pengkhianatan di malam hujan itu. "Anak-anak? Mereka sudah lupa punya ayah sepertimu, Praka. Jangan hancurkan hidup mereka yang sudah tenang dengan kehadiranmu yang berantakan ini."
Tanpa peringatan, Sari mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas mewahnya dan melemparkannya ke dada Praka hingga jatuh ke tanah. "Ambil ini dan pergi. Jangan pernah muncul lagi di depan rumah atau sekolah mereka jika kamu masih punya harga diri." Praka menatap amplop itu, menyadari bahwa di dalamnya mungkin hanya berisi uang tutup mulut, sebuah penghinaan terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya sore itu.
Praka berlutut, bukan untuk memohon, melainkan untuk mengambil amplop itu dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh penekanan. Saat jemarinya menyentuh permukaan kertas yang kasar, ia mendongak dan menatap mata Sari dengan sorot yang tiba-tiba kosong, seolah jiwanya baru saja meninggalkan raga. "Kamu pikir kertas ini bisa membayar waktu yang kamu curi dariku?" desisnya dengan nada yang membuat Sari seketika mundur selangkah karena ketakutan.
Ketegangan memuncak saat Praka perlahan merobek amplop itu menjadi serpihan kecil tanpa melepaskan pandangannya dari wajah pucat Sari. Angin sore membawa potongan-potongan kertas itu terbang, menyebarkannya di atas rumput yang mulai menguning. Sari hanya bisa terdiam mematung, menyadari bahwa pria di depannya bukan lagi Praka yang bisa ia kendalikan dengan kata-kata tajam atau lembaran uang, melainkan sosok yang sudah kehilangan segalanya.
Di kejauhan, dua gadis remaja berdiri di balik pilar gerbang, menyaksikan pemandangan itu dengan mata yang berkaca-kaca dan penuh tanda tanya. Mereka tidak mengenali pria tua yang tampak hancur itu, namun ada sesuatu dalam cara pria itu berdiri yang membuat dada mereka terasa sesak. Praka memalingkan wajah, menyadari kehadiran mereka, dan untuk pertama kalinya ia merasakan dorongan kuat untuk berlari menjauh sebelum seluruh delusinya runtuh sepenuhnya.
Matahari sore yang temaram menyinari wajah Praka yang kusam, namun sorot matanya tetap tajam menghujam pintu kayu jati di hadapannya. Jari-jemarinya yang kasar terus memilin ujung kemeja lusuhnya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia berusaha menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dada. Ia tidak lagi peduli pada tatapan tetangga yang mungkin menganggapnya sebagai orang asing yang tersesat di lingkungan mewah ini.
"Aku datang untuk mengambil apa yang tersisa dari harga diriku," ucap Praka lantang, suaranya parau namun bervolume cukup besar hingga memecah keheningan jalanan. Ia sengaja menekankan setiap kata dengan ritme yang teratur, seolah-olah sedang membaca naskah yang sudah ia susun selama bertahun-tahun di dalam kepalanya. Baginya, kata-kata adalah satu-satunya senjata yang masih ia miliki setelah dunia merampas segalanya dari tangannya.
Sari berdiri di ambang pintu dengan gaun sutra yang berkilau, kontras dengan penampilan Praka yang compang-camping dan berdebu. Ia tertawa sinis, sebuah tawa yang dulu terdengar seperti melodi indah bagi Praka, namun kini terasa bagai gesekan amplas kasar yang melukai pendengarannya. Sari tidak menunjukkan jejak penyesalan sedikit pun, justru tatapannya penuh dengan penghinaan yang seolah ingin menghapus keberadaan Praka dari muka bumi ini.
"Harga diri? Kamu bicara seolah-olah masih punya sesuatu yang berharga di dunia ini, Praka," sahut Sari dengan nada bicara yang meliuk-liuk meremehkan. Sari kemudian menoleh ke arah dalam rumah, memberikan kode dengan gerakan kepala yang angkuh agar seseorang segera menyusulnya ke depan. Praka merasakan firasat buruk menyergap ketika ia mendengar langkah kaki sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer yang dingin di dalam sana.
Sesosok pria muncul dari balik bayang-bayang ruang tamu yang luas, mengenakan setelan jas rapi yang tampak sangat mahal dan berkelas. Praka mengenali wajah itu seketika; dia adalah pengacara licik yang dulu pernah menjadi orang kepercayaan keluarga besarnya sebelum semuanya hancur berantakan. Pria inilah yang merancang konspirasi kegilaannya sepuluh tahun silam, memalsukan dokumen medis agar Praka bisa dibuang ke rumah sakit jiwa tanpa perlawanan.
Pengacara itu menyesuaikan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan, seolah menikmati penderitaan yang terpancar dari wajah Praka. "Masih berani menginjakkan kaki di sini setelah semua kekacauan yang kamu buat dulu?" tanyanya dengan suara tenang yang justru memicu keinginan Praka untuk menerjangnya. Praka mengepalkan tinjunya kuat-kuat, merasakan kuku-kukunya mulai menusuk telapak tangannya sendiri sebagai pengalih rasa sakit.
Ingatan tentang sel sempit yang dingin dan aroma obat-obatan yang menyengat tiba-tiba menyerbu pikiran Praka seperti banjir bandang yang tak terbendung. Selama satu dekade, ia dipaksa menelan pil-pil yang membuat pikirannya tumpul dan dunianya menjadi kabur, semua demi harta warisan yang kini dinikmati oleh mereka berdua. Ia merasa seperti sedang melihat pemandangan dari masa lalu yang terdistorsi, di mana kebenaran telah dikubur hidup-hidup di bawah tumpukan uang.
Praka melangkah maju satu tindak, membuat Sari sedikit tersentak ke belakang meski ia berusaha tetap terlihat tenang dan berwibawa. "Kalian pikir tembok tinggi dan pengacara mahal bisa menghapus fakta bahwa aku masih hidup dan bernapas?" tanya Praka dengan nada bicara yang semakin rendah dan berbahaya. Ia tidak lagi mencari simpati atau belas kasihan, melainkan sebuah pengakuan atas eksistensinya yang selama ini dianggap telah mati oleh hukum.
Pria berjas itu tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang tidak sampai ke mata, lalu mengeluarkan selembar kertas dari saku dalamnya dengan sangat tenang. "Secara hukum, kamu tidak pernah ada di sini, Praka, karena semua catatan menyatakan bahwa kamu adalah pasien yang tidak stabil dan berbahaya." Ancaman itu tersirat dengan sangat jelas, sebuah peringatan bahwa mereka bisa dengan mudah mengirimnya kembali ke tempat gelap itu jika ia tidak segera pergi.
Angin sore berhembus kencang, membawa aroma bunga sedap malam yang biasanya menenangkan, namun kali ini terasa menyesakkan bagi paru-paru Praka yang lelah. Ia melihat ke sekeliling halaman rumah yang dulu ia rawat dengan tangannya sendiri, kini semuanya tampak asing dan tidak lagi mencerminkan kehangatan keluarga. Keputusannya sudah bulat, ia tidak akan mundur lagi meskipun risiko yang harus ia hadapi adalah kembali kehilangan kebebasannya yang baru seumur jagung.
Sari tampak mulai tidak sabar dengan kehadiran Praka yang merusak pemandangan sore harinya yang sempurna di rumah mewah itu. "Pergilah sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar seperti sampah jalanan," ancam Sari dengan raut wajah yang membeku tanpa emosi. Kata-kata itu menusuk jantung Praka lebih dalam daripada pengkhianatan manapun, karena ia menyadari bahwa wanita yang dulu ia cintai kini benar-benar telah menjadi monster.