Sebuah map cokelat kusam tergeletak pasrah di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas. Di dalamnya, lembaran kertas kusam menyembul, memamerkan judul besar tentang akta perceraian dan laporan kepolisian yang sangat mendetail mengenai kasus penggelapan aset perusahaan secara sistematis. Praka menatap deretan huruf hitam itu dengan mata yang memerah, seolah setiap kata adalah duri yang menusuk pupil matanya tanpa ampun.
Tangan Praka mulai gemetar, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali dunianya mulai terasa retak di pinggiran. Dia meraih pinggiran meja, mencengkeramnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan pada realitas yang selama ini dia hindari. Suara napasnya terdengar berat, beradu dengan detak jam dinding yang seolah mengejek kesunyian di dalam ruang perawatan yang serba putih dan dingin tersebut.
Maya, putri sulungnya, berdiri di samping tempat tidur dengan bahu yang merosot karena beban emosi yang tak tertahankan. Suaranya pecah saat dia mulai membacakan isi laporan itu, kata demi kata yang meruntuhkan benteng imajinasi indah yang selama puluhan tahun dibangun Praka di dalam kepalanya. "Dia mengambil semuanya, Yah. Bukan cuma uang atau rumah kita, tapi dia juga mencuri kewarasanmu dengan kebohongan yang sangat kejam," isaknya.
Praka memalingkan wajah, menatap ke arah jendela di mana bayangan istri dan anak-anak kecilnya yang sempurna biasanya menari-nari dalam delusinya. Dia terbiasa bergumam kecil, sebuah pola bicara cepat yang tidak jelas ujung pangkalnya, seolah sedang bernegosiasi dengan hantu masa lalu agar tidak pergi meninggalkannya sendirian. "Semua itu rapi, Maya. Semuanya terasa sangat hangat dan nyata di sini," bisiknya sambil menunjuk pelipisnya sendiri.
Namun, Maya tidak membiarkan ayahnya tenggelam kembali ke dalam lautan ingatan palsu yang menyesatkan itu tanpa perlawanan yang berarti. Dia meletakkan telapak tangannya di atas tangan Praka yang masih gemetar hebat, memaksa sang ayah untuk kembali menatap kenyataan pahit yang tertulis di atas kertas. "Kita harus melawan ingatan palsu itu sekarang juga, atau Ayah akan selamanya terjebak di tempat ini tanpa pernah tahu siapa kami yang sebenarnya."
Keputusan Praka biasanya selalu condong pada pelarian, sebuah bias yang membuatnya lebih memilih kenyamanan dalam kegilaan daripada penderitaan dalam kejernihan pikiran. Namun, melihat air mata yang mengalir di pipi putrinya, ada sesuatu yang bergeser di dalam dadanya, sebuah retakan yang lebih dalam dari sekadar delusi. Dia menarik napas panjang, aroma obat-obatan rumah sakit yang menyengat kini terasa lebih nyata daripada wangi parfum imajiner istrinya.
Hening mencekam menyelimuti ruangan itu saat Praka perlahan meraih map cokelat tersebut dengan gerakan yang sangat ragu namun pasti. Dia tahu bahwa melangkah keluar dari bayang-bayang ini berarti menghancurkan satu-satunya kebahagiaan yang dia miliki, meski itu hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh rasa sakit. Dengan satu tarikan napas yang gemetar, dia mulai membaca baris pertama laporan pengkhianatan yang telah merenggut seluruh hidupnya bertahun-tahun yang lalu.
Cahaya oranye yang pekat merayap di dinding selasar rumah sakit jiwa, menciptakan bayangan panjang dari terali besi yang tampak seperti jemari hitam mencengkeram lantai. Praka berdiri mematung di depan jendela, kuku-kukunya yang sedikit kotor mengetuk bingkai kayu dengan ritme cepat yang tak beraturan. Matanya menyipit, memfokuskan pandangan pada sesosok wanita berbaju putih yang berdiri di dekat gerbang parkiran, melambaikan tangan dengan senyum yang begitu jernih.
"Sari sudah jemput, dia tidak mungkin terlambat untuk makan malam," gumam Praka pelan, suaranya serak seolah tenggorokannya dipenuhi pasir. Ia menyeka sudut matanya yang kering dengan ujung lengan baju pasien yang sudah memudar warnanya. Baginya, aroma parfum melati milik istrinya itu tercium sangat nyata, menembus bau karbol yang menyengat di ruangan tersebut. Ia yakin, jika ia bisa melompat melewati jeruji ini, ia akan mendarat di pelukan hangat keluarganya yang sempurna.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang kokoh namun gemetar mendarat di bahu Praka, memutuskan aliran halusinasinya seperti kaca yang pecah dihantam batu. Maya berdiri di sana dengan mata sembap, napasnya memburu seolah baru saja berlari menaiki ribuan anak tangga. Ia menarik pundak ayahnya dengan paksa, memutar tubuh pria tua itu agar tidak lagi menatap ke arah halaman parkir yang sebenarnya kosong melompong tanpa ada siapapun di sana.
"Jangan lihat ke sana lagi, Yah! Berhenti memanggil nama perempuan itu seolah dia adalah malaikat penolongmu," teriak Maya dengan suara yang pecah oleh amarah sekaligus kesedihan. Ia mencengkeram kedua lengan Praka, memaksa mata pria itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkaca-kaca. Di belakangnya, adiknya menyandar pada pintu dengan wajah yang pucat, menyaksikan kehancuran mental ayah mereka yang terus-menerus memuja bayangan masa lalu.
Praka menggelengkan kepala dengan keras, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman putrinya sambil terus menunjuk ke arah jendela dengan jari yang gemetar hebat. "Kamu tidak mengerti, Sari bilang dia membelikan aku kemeja baru untuk pesta ulang tahunmu nanti malam," ucapnya dengan nada defensif yang tinggi. Baginya, kenyataan yang dibawa Maya terasa seperti racun yang mencoba membunuh kebahagiaan yang telah ia bangun dengan susah payah di dalam kepalanya.
"Lihat aku, Yah! Aku dan Rina adalah satu-satunya yang nyata di sini, bukan bayangan kosong yang Ayah ciptakan untuk melarikan diri!" Maya mengguncang tubuh Praka hingga pria itu terhuyung ke belakang. Napas Maya tersengal, dadanya naik turun menahan ledakan emosi yang sudah dipendamnya selama bertahun-tahun sejak mereka ditinggalkan. Ia tidak tahan lagi melihat ayahnya terjebak dalam delusi tentang wanita yang telah menghancurkan hidup mereka semua.
Suasana di koridor itu mendadak menjadi sangat mencekam, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berat dan isak tangis tertahan dari Rina di ambang pintu. Praka terdiam, namun matanya masih liar mencari celah untuk kembali melihat ke luar jendela, seolah-olah keselamatan jiwanya bergantung pada penglihatan itu. Ia tidak ingin percaya bahwa dunia yang begitu indah dan harmonis di dalam kepalanya hanyalah sebuah benteng rapuh yang terbuat dari kebohongan.
"Sari yang Ayah puja-puja itu, perempuan yang Ayah sebut istri setia itu, adalah orang yang menandatangani surat penyerahan Ayah ke tempat terkutuk ini!" Kalimat itu meluncur dari bibir Maya seperti belati yang tajam. Ia mengeluarkan sebuah kertas kusam dari tasnya, menunjukkan tanda tangan yang sudah sangat dikenal oleh Praka. Pengkhianatan itu terpampang nyata di depan mata, merobek lapisan delusi yang selama ini melindungi kewarasan pria tua tersebut.
Praka terkesiap, dadanya terasa sesak seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak hilang ditelan bumi. Ia menatap tanda tangan itu, lalu menatap wajah Maya yang penuh dengan luka batin yang mendalam, mencoba mencari jejak kebohongan di sana namun gagal. Kenyataan pahit mulai merembes masuk, menghancurkan imajinasi tentang makan malam keluarga yang hangat dan menggantinya dengan memori dingin saat ia diseret paksa oleh petugas medis.
Rina melangkah maju, memegang tangan ayahnya yang dingin dan kaku seperti es, mencoba memberikan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidup mereka. "Kami mencarimu selama sepuluh tahun, Yah, sementara dia pergi dengan pria itu dan membawa semua sisa uang kita," bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Pengakuan itu menjadi hantaman terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan mental Praka, membuatnya jatuh terduduk di lantai semen yang dingin.
Dunia di sekitar Praka mulai berputar, warna-warna cerah dari halusinasinya memudar menjadi abu-abu yang kelam dan menyesakkan. Ia melihat tangannya sendiri, menyadari betapa kurus dan rapuhnya dirinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Rasa malu dan penyesalan yang luar biasa besar mulai menghujam jantungnya, menyadari bahwa ia telah membuang waktu untuk merindukan sosok yang justru membuangnya seperti sampah.
Ia menatap kedua putrinya, menyadari bahwa mereka bukan lagi anak-anak kecil yang ia ingat dalam mimpinya, melainkan wanita dewasa yang membawa beban penderitaan akibat ulahnya. Kesadaran itu lebih menyakitkan daripada jeruji besi atau dinding putih rumah sakit yang mengepungnya setiap hari. Praka ingin bicara, ingin meminta maaf, namun lidahnya terasa kelu seolah-olah kata-kata telah kehilangan maknanya di hadapan kenyataan yang begitu brutal.
Di luar, matahari benar-benar telah tenggelam, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu neon selasar yang berkedip-kedip tidak stabil. Bayangan Sari di tempat parkir telah lenyap sepenuhnya, menyisakan kekosongan yang hampa dan dingin di hati Praka yang kini hancur berkeping-keping. Ia kini harus menghadapi kenyataan bahwa penebusan dosanya baru saja dimulai, di tempat yang sama di mana ia kehilangan segalanya sepuluh tahun yang lalu.
Maya berlutut di depan ayahnya, menyeka air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipi keriput pria itu dengan jemarinya yang lembut. "Kita akan pulang, tapi bukan ke rumah yang Ayah bayangkan, melainkan ke rumah di mana kebenaran tidak akan lagi menyakitimu," ucap Maya tegas. Namun, saat mereka bersiap untuk pergi, Praka melihat sebuah bayangan lain di ujung lorong yang membuatnya terkesiap dan mencengkeram baju Maya dengan sangat kuat.