Maya mengangguk mantap, membiarkan air matanya jatuh membasahi telapak tangan ayahnya yang kasar dan penuh luka lama. Ia tahu bahwa perjalanan menuju kesembuhan ayahnya masih sangat panjang dan mungkin tidak akan pernah sempurna sepenuhnya. Namun, berada di sini, di ruangan yang pengap ini, adalah keputusan paling berani yang pernah ia ambil dalam hidupnya.
Tiba-tiba, pintu kamar rawat itu terbuka dengan kasar, menampakkan sosok pria berseragam perawat yang membawa nampan obat-obatan rutin. Praka tersentak, matanya kembali membelalak liar seolah-olah bayangan masa lalu yang menakutkan kembali mengejarnya dari balik pintu. Ia mencengkeram lengan Maya dengan sangat kuat, sebuah reaksi defensif yang menunjukkan betapa rapuhnya benteng pertahanan mentalnya saat ini. "Jangan biarkan mereka membawaku kembali ke ruang gelap itu, tolong," pinta Praka dengan nada memelas yang menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya. Ia mulai meracau tentang janji-janji palsu dan bayangan orang-orang yang pernah mengkhianatinya di masa lalu. Ketakutan itu begitu nyata, seolah-olah waktu kembali berputar ke titik di mana ia pertama kali kehilangan segalanya.
Maya segera memeluk ayahnya erat-erat, mencoba meredam getaran hebat yang merambat dari tubuh Praka ke tubuhnya sendiri. Ia berbisik pelan di telinga ayahnya, menjanjikan keamanan yang selama ini tidak pernah didapatkan oleh pria tua itu. Di luar jendela, matahari mulai tenggelam, meninggalkan semburat warna jingga yang menyakitkan sekaligus indah bagi mereka yang baru saja menemukan kembali arti sebuah keluarga. Praka meremas pinggiran sprei putih yang sudah kusam dengan jemari gemetar, sebuah ritual kecil yang selalu dia lakukan setiap kali kecemasan mulai merayap naik ke tengkuknya. Matanya yang cekung menatap nanar ke arah jendela berjeruji, tempat cahaya matahari sore menyelinap masuk dan membentuk garis-garis panjang di lantai semen yang dingin. Aroma karbol yang tajam menusuk hidung, seolah terus mengingatkannya bahwa dinding-dinding ini bukanlah rumah, melainkan penjara bagi jiwanya yang sempat hancur berkeping-keping. "Bawa aku keluar dari tempat ini," pinta Praka dengan nada bicara yang kini jauh lebih stabil, meski ada getaran samar di ujung kalimatnya. Dia tidak lagi bicara tentang kerajaan imajiner atau pesta makan malam yang tidak pernah ada, melainkan sebuah permohonan tulus dari seorang pria yang baru saja terjaga dari mimpi buruk selama belasan tahun. Pikirannya yang biasanya riuh oleh suara-suara asing kini terasa sunyi, menyisakan ruang hampa yang menuntut untuk segera diisi dengan kebenaran yang nyata. Dia menatap kedua putrinya bergantian, mencoba mencari sisa-sisa kemiripan dengan dirinya pada gari-garis wajah wanita dewasa yang berdiri di hadapannya. Ada keraguan yang memicu bias keputusannya untuk tetap bertahan di sini, sebuah ketakutan bahwa dia hanya akan menjadi beban bagi masa depan mereka yang sudah terlanjur berantakan karena ulahnya. Namun, melihat binar air mata di mata anak-anaknya, Praka menyadari bahwa melarikan diri ke dalam kegilaan adalah sebuah pengkhianatan yang jauh lebih kejam daripada menghadapi pahitnya kenyataan.