Fragmen Memori Praka

Bilsyah Ifaq
Chapter #7

Rekonsiliasi yang Getir (Bagian 2)

Jemari Praka meraba permukaan kemeja itu, merasakan serat kain yang sejuk di bawah kulitnya yang mulai keriput dan kasar. Pikirannya mendadak terseret kembali ke masa ketika ia meyakini bahwa istri dan anak-anaknya masih menunggunya di meja makan dengan tawa yang riang. Delusi itu dulu terasa begitu hangat, membungkus luka pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang paling ia percayai sebelum dunia benar-benar runtuh dan gelap.

Setiap kali ia mencoba mengingat detail masa lalu, denyut di pelipisnya akan mengencang, sebuah tanda bahwa memori aslinya sedang beradu dengan sisa-sisa imajinasi. Maya melangkah masuk, mendekati ayahnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut akan memecahkan ketenangan yang baru saja mereka bangun. Praka menarik napas panjang, mencoba mengusir aroma masa lalu yang kini terasa seperti racun yang mengendap di dasar jiwanya yang hancur.

"Kenapa kau kembali, Maya? Setelah semua kekacauan yang Ayah buat di kepala ini?" tanya Praka dengan suara parau, sebuah pertanyaan yang telah ia simpan selama berbulan-bulan. Dia tidak menatap anaknya, melainkan fokus pada kancing kemeja yang berkilau di bawah lampu kamar yang terang. Keputusannya untuk menerima kehadiran Maya adalah sebuah pertaruhan besar, karena ia tidak tahu apakah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit tanpa perlindungan delusi.

Maya tidak segera menjawab, dia hanya meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya dengan erat, memberikan kehangatan yang selama ini hanya ada dalam mimpi Praka. Praka merasakan dadanya sesak oleh rasa bersalah yang selama ini terkubur sangat dalam di bawah lapisan kegilaan yang tebal dan menyesakkan. Dia menyadari bahwa setiap tawa imajiner yang ia ciptakan di rumah sakit jiwa adalah bentuk pelarian dari luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Kenangan tentang pengkhianatan itu muncul kembali seperti kilatan petir; wajah istrinya yang dingin saat menandatangani surat penyerahan dirinya ke panti rehabilitasi. Praka memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menghalau bayangan itu dengan meremas kain kemeja barunya hingga kusut di dalam genggaman. Dia ingat betapa hancurnya dia saat menyadari bahwa kebahagiaan yang ia banggakan hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dirancang untuk menyingkirkannya.

Namun, di sini ia berdiri sekarang, di sebuah kamar yang tidak memiliki gerendel di sisi luar, ditemani oleh putri yang dulu ia sangka telah meninggalkannya selamanya. Maya menyeka air mata yang mulai mengalir di pipi ayahnya, sebuah tindakan sederhana yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosional yang dibangun Praka selama puluhan tahun. "Kita akan mulai lagi, Ayah, tanpa ada lagi rahasia atau dinding yang memisahkan kita berdua," bisik Maya penuh haru.

Praka menatap pantulan dirinya di cermin lemari, melihat seorang pria tua yang tampak asing dengan mata yang menyimpan ribuan fragmen luka yang belum sepenuhnya menyatu. Dia tahu bahwa perjalanan menuju penebusan tidak akan mudah, apalagi dengan bayang-bayang masa lalu yang masih sering berbisik di sudut-sudut pikirannya yang sunyi. Namun, kehadiran kemeja biru itu menjadi simbol kecil bahwa ada kehidupan yang menantinya di luar sana, di dunia yang nyata.

Tiba-tiba, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah koridor, membuat Praka secara refleks mundur satu langkah dan bersiap untuk bersembunyi di pojok ruangan. Itu adalah insting bertahan hidup yang ia pelajari di bangsal isolasi, sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan meski ia sudah dinyatakan stabil oleh dokter. Maya segera merangkul bahunya, memberikan jangkar emosional agar Praka tidak kembali tenggelam dalam ketakutan irasional yang sering menyerangnya.

Seorang wanita lain muncul di pintu, wajahnya sangat mirip dengan Maya namun dengan gurat kedewasaan yang lebih tegas dan mata yang terlihat sedikit lebih waspada. Itu adalah putri keduanya, yang selama ini memilih untuk menjauh karena luka lama yang masih basah dan sulit untuk dimaafkan begitu saja. Kehadirannya di sana membuat suasana kamar seketika menjadi tegang, seolah-olah ada muatan listrik yang siap meledak kapan saja di antara mereka bertiga.

Praka menatap putri keduanya itu dengan tatapan yang penuh keraguan, bibirnya gemetar ingin mengucapkan sebuah nama yang sudah lama tidak ia sebutkan dengan benar. Dia merasa seperti seorang penyusup di dalam kehidupannya sendiri, mencoba mencuri kembali momen-momen yang seharusnya ia miliki jika saja pengkhianatan itu tidak pernah terjadi. Ketegangan di ruangan itu memuncak saat putri keduanya melangkah maju tanpa melepaskan pandangan tajamnya dari wajah sang ayah.

Wanita itu berhenti tepat di depan Praka, lalu mengeluarkan sebuah amplop tua yang sudah menguning dari tasnya, sebuah benda yang tampak sangat kontras dengan kemewahan kemeja baru itu. "Ayah harus tahu kebenaran yang sebenarnya tentang apa yang terjadi malam itu, sebelum kita benar-benar bisa menjadi keluarga lagi," ucapnya dengan nada dingin. Praka merasakan jantungnya berdegup kencang, menyadari bahwa fragmen memori terakhir yang ia takuti akan segera terungkap dan mengubah segalanya sekali lagi.

Matahari sore menyusup melalui celah gorden yang kusam, menyinari debu-debu yang menari di udara ruang tengah panti rehabilitasi itu. Praka duduk di kursi kayu yang keras, jemarinya terus-menerus memutar kancing kemejanya yang sudah longgar, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali pikirannya mulai berkabut. Di hadapannya, dua sosok perempuan dewasa yang kini tampak asing namun memiliki gurat wajah yang sangat ia kenali, duduk dengan punggung tegak seolah menahan beban yang amat berat.

Suasana begitu hening hingga suara detak jam dinding tua terdengar seperti hantaman palu di kepala Praka yang mulai menua. Ia menatap lantai ubin yang dingin, mencoba mengumpulkan serpihan ingatan tentang tawa anak-anak yang dulu sering memenuhi rumahnya yang kini tinggal puing dalam memori. Kehadiran mereka di sini, setelah bertahun-tahun ia terkurung dalam delusi tentang keluarga yang sempurna, terasa seperti mimpi yang terlalu nyata untuk ia telan mentah-mentah.

"Kenapa kalian mencariku?" tanya Praka tiba-tiba, suaranya parau dan sedikit bergetar, memecah kesunyian yang mencekam. Ia tidak berani mengangkat wajah, ia lebih memilih memperhatikan pola retakan pada ubin di bawah kakinya yang hanya beralaskan sandal karet tipis. Pertanyaan itu menggantung di udara, menuntut jawaban dari dua orang yang selama ini ia kira hanya ada dalam bayang-bayang kerinduannya yang paling dalam dan menyakitkan.

Laras, putri sulungnya, berhenti melepas sepatu hak tingginya dan membiarkan benda itu tergeletak begitu saja di samping sofa yang sudah kempes. Wajahnya mengeras, memperlihatkan garis-garis ketegasan yang sangat mirip dengan mendiang kakeknya, sebuah pertahanan diri yang ia bangun selama bertahun-tahun tanpa sosok ayah. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak emosi yang tampak jelas dari bagaimana bahunya yang gemetar tertahan di balik blazer gelapnya.

"Karena kami tahu Ayah tidak gila. Ayah hanya dihancurkan oleh orang yang salah," jawab Laras dengan nada ketus yang menyembunyikan luka yang menganga lebar. Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran, menembus lapisan-lapisan kebohongan yang selama ini Praka bangun untuk melindungi dirinya sendiri. Praka tersentak, tangannya yang gemetar kini berhenti memutar kancing dan terkepal kuat di atas lututnya yang kurus.

Praka menunduk semakin dalam, merasakan perih yang menjalari dadanya saat menyadari bahwa pengkhianatan Sari, wanita yang dulu ia puja, bukanlah sekadar rahasia gelap miliknya sendiri. Kebencian yang terpancar dari mata anak-anaknya kepada ibu mereka sendiri ternyata sama besarnya dengan lubang kehampaan yang selama ini ia tanggung sendirian di balik jeruji besi putih ini. Ia menyadari bahwa selama ia mendekam dalam delusi kebahagiaan, anak-anaknya tumbuh besar dalam bayang-bayang kehancuran yang nyata.

Sari bukan hanya meninggalkannya dalam keadaan hancur secara mental, tetapi juga meninggalkan luka permanen pada jiwa anak-anak mereka yang tak berdosa. Laras dan adiknya, Maya, harus bertahan hidup dengan label anak dari seorang pasien gangguan jiwa, sementara ibu mereka melenggang pergi dengan pengkhianatan yang tak pernah termaafkan. Praka merasakan amarah yang sudah lama padam kini mulai memercik kembali, membakar sisa-sisa kewarasannya yang ia kumpulkan dengan susah payah.

Maya, yang sedari tadi hanya diam membisu, kini mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan ayahnya yang kasar dan dipenuhi urat-urat menonjol. Sentuhan itu terasa hangat, namun Praka justru menarik tangannya dengan refleks yang cepat, seolah takut kehangatan itu akan menguapkan dunia imajinasinya yang aman. Ia belum siap menghadapi kenyataan bahwa kasih sayang yang tulus masih ada untuknya setelah semua kekacauan yang ia lalui selama puluhan tahun ini.

"Kami sudah membereskan semuanya, Yah. Rumah lama itu... kami sudah mengambilnya kembali dari tangan mereka," bisik Maya dengan suara yang jauh lebih lembut namun penuh penekanan. Praka tertegun, ia membayangkan rumah dengan pagar putih dan pohon mangga di halaman depan yang selalu muncul dalam mimpinya setiap malam. Ternyata, anak-anaknya telah bertarung di dunia luar sementara ia hanya bisa bersembunyi di dalam tempurung pikirannya yang retak.

Kemarahan Laras tampak meledak dalam diamnya, ia berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap taman panti yang gersang dengan pandangan kosong yang penuh dendam. Ia tidak bisa melupakan bagaimana ibunya memanipulasi keadaan hingga sang ayah dianggap gila hanya demi harta dan pria lain yang kini entah di mana. Baginya, kunjungan ini bukan sekadar reuni keluarga, melainkan sebuah misi penebusan dosa atas waktu yang terbuang sia-sia dalam kesengsaraan.

Praka mulai terisak, suara tangisnya terdengar aneh seperti gesekan kayu tua yang dipaksakan bergerak, sebuah suara yang jarang ia keluarkan selama bertahun-tahun dirawat. Ia merasa sangat kecil di hadapan keberanian kedua putrinya yang telah melewati badai yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Pikirannya yang tadinya berkabut kini perlahan mulai menjernih, memperlihatkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk sebuah kebenaran yang tertunda sangat lama.

Lihat selengkapnya