Notaris itu akhirnya menyerah, ia meletakkan dokumen itu di tengah meja dan menghela napas panjang seolah-olah beban berat baru saja diangkat dari bahunya. "Istri Anda... dia mengancam akan menghancurkan karier saya jika saya tidak membantu proses ini, Pak Praka," akunya dengan suara lirih yang hampir menyerupai tangisan. Praka hanya mengangguk pelan, ia tidak mencari permintaan maaf karena maaf tidak akan pernah bisa mengembalikan sepuluh tahun masa mudanya yang hilang di dalam sel isolasi yang dingin.
Praka mengambil dokumen asli tersebut dan memasukkannya ke dalam tas kulit miliknya yang sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, simbol dari kemiskinan yang ia peluk setelah kejatuhannya. Ia berdiri tanpa suara, gerakan tubuhnya masih menunjukkan sisa-sisa keanggunan seorang pria kelas atas yang pernah memimpin perusahaan besar. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan pintu, membelakangi notaris yang masih terduduk lemas di kursinya, seolah-olah ia sedang menimbang sesuatu yang sangat berat.
"Simpanlah sisa kejujuran Anda untuk persidangan nanti, karena saya tidak akan berhenti sampai semua orang yang terlibat merasakan dinginnya jeruji besi," ucap Praka tanpa menoleh sedikit pun. Ia melangkah keluar menuju lobi gedung yang megah, di mana kedua putrinya sudah menunggu dengan wajah cemas dan penuh harap. Di mata mereka, ia melihat pantulan pria yang pernah mereka kenal sebagai pahlawan, namun di dalam hati Praka, ia tahu bahwa perjalanan menuju penebusan ini baru saja dimulai.
Angin sore yang hangat menyambutnya saat ia keluar dari gedung pencakar langit itu, sangat kontras dengan hawa dingin yang baru saja ia tinggalkan di ruang notaris. Ia merangkul kedua putrinya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, merasakan kehangatan yang nyata, bukan lagi sekadar delusi yang sering menghantuinya di rumah sakit jiwa. Praka menutup matanya sejenak, menghirup aroma kota yang bising, dan menyadari bahwa meski ingatannya merupakan fragmen yang hancur, ia masih memiliki kekuatan untuk menyusunnya kembali menjadi sebuah kebenaran.
Langkah kaki mereka bergema di trotoar yang mulai ramai oleh orang-orang yang pulang kerja, namun bagi Praka, setiap langkah adalah kemenangan kecil melawan masa lalu yang kelam. Ia tahu bahwa pengkhianatan itu telah meninggalkan luka permanen di jiwanya, namun melihat wajah putri-putrinya yang kini telah tumbuh dewasa memberinya alasan untuk tetap berpijak pada kenyataan. Dengan surat kuasa palsu itu di tangannya, Praka siap menghadapi badai terakhir yang akan menentukan apakah ia akan berakhir dalam kedamaian atau kembali terjatuh ke dalam kegelapan.
Suara dering telepon rumah yang melengking membelah keheningan ruang tamu, memantul pada dinding-dinding putih yang terasa terlalu bersih. Praka yang sedang menyesap teh hangatnya terhenti, matanya terpaku pada gagang telepon kuno yang bergetar hebat di atas meja kayu jati. Getaran itu seolah-olah membawa pesan dari masa lalu yang belum tuntas, merambat naik ke ulu hatinya dengan rasa dingin yang tidak biasa.
Maya, putri sulungnya, bergegas mendekat dengan langkah yang sedikit terseret, seolah enggan menyentuh benda plastik hitam itu. Saat tangannya meraih gagang telepon, suasana di ruangan itu mendadak membeku, menyisakan suara detak jam dinding yang terdengar seperti palu godam. Praka memperhatikan setiap gerak-gerik putrinya, mencari celah di balik topeng ketenangan yang selalu Maya kenakan sejak kepulangannya ke rumah ini.
Hanya dalam hitungan detik, warna di wajah Maya memudar, meninggalkan rona pucat yang menyedihkan seperti kertas usang. Bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. Tanpa menunggu suara di seberang sana menyelesaikan kalimatnya, Maya membanting gagang telepon itu kembali ke tempatnya dengan tenaga yang berlebihan hingga menimbulkan suara dentuman keras.
"Siapa?" tanya Praka dengan suara serak, sebuah nada kecurigaan yang tajam menusuk udara di antara mereka. Dia meletakkan cangkir tehnya perlahan, memastikan denting porselen itu tidak menutupi kegugupan yang mulai merayap di punggungnya. Mata Praka menyipit, kebiasaan lamanya yang muncul setiap kali dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya di rumah yang katanya penuh kebahagiaan ini.
Maya menggeleng pelan, sebuah gerakan mekanis yang tidak meyakinkan, sementara jemarinya yang lentik mulai gemetar hebat di atas permukaan meja. Dia berusaha mengatur napas, namun dadanya naik turun dengan tidak beraturan, menunjukkan badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam sana. Matahari sore yang masuk melalui celah gorden seolah menelanjangi kebohongan yang hendak dia ucapkan kepada ayahnya yang mulai menua.
"Hanya orang iseng, Yah. Tidak perlu dipikirkan, mungkin salah sambung lagi seperti kemarin dulu," ucap Maya dengan nada bicara yang dipercepat, sebuah pola yang selalu dia gunakan saat sedang terdesak. Dia segera memalingkan wajah, menghindari kontak mata langsung dengan Praka yang masih menatapnya dengan tajam. Maya berpura-pura merapikan taplak meja, meski tangannya terus bergetar tanpa bisa dia kendalikan sama sekali.
Praka tahu itu bohong, sebuah kepalsuan yang terasa pahit di lidahnya seperti obat yang tidak larut. Dia bisa merasakan kehadiran Sari, sosok yang seharusnya sudah lama terkubur dalam lipatan memori kelamnya, kini seolah mengintai di balik bayang-bayang telepon itu. Nama itu tidak terucap, namun aromanya yang khas--perpaduan melati dan pengkhianatan--seolah memenuhi ruangan, mencoba mengacaukan ketenangan semu yang selama ini dia bangun.
Ingatannya mendadak berputar kembali ke malam hujan bertahun-tahun lalu, saat pintu rumah ini tertutup rapat dan dia ditinggalkan sendirian dalam kehancuran. Bayangan Sari yang tertawa di balik kemudi mobil pria lain melintas cepat, memicu denyut nyeri di pelipis Praka yang mulai berkeringat dingin. Dia mencengkeram pinggiran kursi rodanya, merasakan tekstur logam yang dingin sebagai pengingat bahwa realitasnya saat ini sangatlah rapuh.
Tiba-tiba, telepon itu kembali menjerit, kali ini suaranya terasa lebih menuntut dan penuh amarah yang tertahan. Maya terlonjak kaget, tangannya secara refleks menutup telinga seolah suara dering itu adalah teriakan yang menyakitkan. Praka bangkit sedikit dari duduknya, dorongan untuk merebut gagang telepon itu begitu kuat hingga otot-otot lengannya menegang, namun Maya dengan cepat memutus kabel telepon dari dinding dengan satu tarikan kasar.
"Kenapa kau lakukan itu, Maya? Jika itu hanya orang iseng, kau tidak akan ketakutan seperti melihat hantu," desis Praka dengan ritme bicara yang berat dan penuh penekanan. Dia tidak lagi melihat Maya sebagai putri kecilnya yang penurut, melainkan sebagai penjaga gerbang rahasia yang mulai retak di sana-sini. Ruangan itu kini terasa lebih sempit, seolah dinding-dindingnya mulai bergerak mendekat untuk menghimpit mereka berdua dalam kebenaran yang pahit.
Maya jatuh terduduk di lantai, air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang masih pucat pasi, namun dia tetap bungkam seribu bahasa. Dia memeluk lututnya erat-erat, sebuah gestur pertahanan diri yang sangat dikenal Praka sebagai tanda bahwa sesuatu yang besar baru saja meledak. Di luar sana, langit mendadak mendung, menelan sisa-sisa cahaya sore dan menggantinya dengan kegelapan yang merayap masuk ke dalam rumah melalui celah pintu.
Praka menatap kabel telepon yang tergeletak malang di lantai seperti ular mati, menyadari bahwa isolasi yang diciptakan anak-anaknya hanyalah penjara berlapis emas. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua perhatian berlebihan yang dia terima selama dirawat di rumah ini setelah keluar dari bangsal rumah sakit jiwa. Kehangatan sup setiap pagi dan senyum manis kedua putrinya kini terasa seperti bumbu yang digunakan untuk menutupi rasa busuk dari sebuah rencana lama.