Fragmen Memori Praka

Bilsyah Ifaq
Chapter #11

Luka yang Menganga Kembali (Bagian 2)

Rasa kecewa yang amat dalam menyengat dada Praka, menyebar seperti racun yang membakar pembuluh darahnya hingga ke ujung jari. Ia merasa seperti orang asing di tengah keluarganya sendiri, seorang pasien yang hanya diberi makan oleh kasih sayang palsu dan rahasia yang disembunyikan rapat-rapat. Mengapa kedua putrinya, yang ia anggap sebagai malaikat penyelamat dari masa tuanya yang kelam, justru memilih untuk memendam fakta bahwa ibu mereka masih menghantui setiap langkah mereka selama ini?

Laras terus berbicara di dalam dapur, suaranya kini dipenuhi dengan amarah yang tertahan dan rencana-rencana pelarian yang terdengar sangat terorganisir. "Kita tidak bisa membiarkan Ayah tahu, jiwanya terlalu rapuh untuk menghadapi kenyataan bahwa wanita itu masih hidup dan terus mengintai kita," bisiknya dengan nada yang merendahkan harga diri Praka sebagai seorang pria. Bagi mereka, Praka tetaplah si pesakitan yang harus dijaga dalam gelembung kebahagiaan buatan agar tidak kembali hancur berkeping-keping.

Praka menarik napas panjang, mencoba menekan dorongan untuk mendobrak pintu dan meneriakkan semua kemarahannya kepada dunia yang tidak adil ini. Namun, ia memilih untuk tetap diam dan mengamati, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap bayangannya sendiri di cermin lorong yang tampak seperti orang asing yang menyedihkan. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang disembuhkan, melainkan hanya sedang dikelola seperti sebuah barang pecah belah yang tidak boleh terkena getaran sedikit pun.

Ketegangan di dapur semakin memuncak saat Maya mulai terisak pelan, suara tangisnya yang tertahan membuat suasana rumah terasa semakin mencekam dan asing. "Sampai kapan kita harus lari, Kak? Ayah berhak tahu siapa yang sebenarnya mengirimkan bunga-bunga busuk itu ke depan rumah setiap malam Jumat!" teriak Maya dengan suara yang pecah. Praka tertegun, bunga busuk itu selama ini ia kira hanyalah bagian dari halusinasi penciumannya yang sering kali mengacaukan persepsinya tentang realitas di sekitarnya.

Keputusan besar mulai terbentuk di dalam benak Praka, sebuah dorongan yang lahir dari rasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri yang sangat ia cintai. Jika mereka menganggapnya sebagai orang gila yang tidak berdaya, maka ia akan menunjukkan bahwa ingatan yang mereka coba kubur itu sebenarnya masih menyala terang di kepalanya. Ia tidak akan lagi menjadi penonton pasif dalam drama pelarian ini, karena baginya, menghadapi Sari secara langsung jauh lebih baik daripada hidup dalam kepura-puraan yang menyesakkan.

Praka memutar tubuhnya, kembali menuju kursi goyang di ruang tengah dengan langkah yang kini terasa lebih berat namun penuh dengan determinasi yang baru. Ia mengambil cangkir tehnya yang sudah mendingin, menyesapnya sekali, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi denting yang tegas di atas meja. Matanya menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan gerbang rumah yang tertutup rapat, menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya mungkin sudah berdiri tepat di balik pagar itu, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkannya.

Di dalam dapur, suara Laras dan Maya perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian yang lebih mengerikan daripada pertengkaran mereka sebelumnya. Praka tahu bahwa sebentar lagi mereka akan keluar dengan senyum palsu di wajah mereka, mencoba berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja dan tidak ada rahasia yang terungkap. Ia bersiap untuk menyambut mereka dengan topeng yang sama, sambil menyusun rencana untuk menemukan Sari dan mengakhiri semua kegilaan ini sebelum anak-anaknya membawanya pergi ke tempat persembunyian yang baru.

Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu depan, membuat Laras dan Maya berlari keluar dari dapur dengan wajah yang penuh dengan ketakutan yang nyata. Praka hanya duduk diam, membiarkan jempol kanannya kembali mengetuk lengan kursi dengan ritme yang lambat dan penuh dengan ancaman yang tersembunyi. Ia tahu siapa yang berada di balik pintu itu, dan kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun melindunginya dari kenyataan pahit yang sudah lama ia rindukan untuk ia hancurkan sendiri.

Denting sendok yang beradu dengan piring porselen mendadak berhenti saat Praka muncul di ambang pintu dapur. Langkah kakinya yang menyeret menciptakan bunyi gesekan yang ganjil di atas lantai marmer yang dingin. Ia berdiri di sana, mengamati dua wanita dewasa yang selama ini ia panggil sebagai putri-putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tangan kanan Praka meraba saku piyamanya, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali pikirannya mulai berkabut atau saat ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia meremas selembar kertas obat yang sudah kumal di dalam sana. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Maya yang sedang memegang teko teh dengan tangan gemetar.

"Kalian membohongiku lagi, ya? Katakan, apakah dinding-dinding putih ini juga bagian dari sandiwara kalian?" Suara Praka terdengar parau, namun ada penekanan yang sangat kuat di setiap suku kata yang ia ucapkan. Ia tidak berteriak, tapi nada bicaranya mengandung otoritas yang menuntut kejujuran mutlak dari kedua putrinya.

Maya dan Laras terlonjak kaget hingga teko di tangan Maya nyaris terjatuh ke lantai. Mereka saling pandang sesaat, sebuah komunikasi tanpa kata yang penuh dengan kecemasan dan rasa bersalah. Ruangan itu mendadak terasa sempit, pengap oleh aroma teh melati yang kini justru terkesan menyesakkan bagi mereka semua yang ada di sana.

"Kami hanya ingin melindungimu, Yah. Dokter bilang kondisi Ayah belum stabil untuk mendengar semuanya sekarang," bela Maya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia mencoba mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat rahang ayahnya mengeras.

Ia tahu betul bahwa saat ini ayahnya sedang berada di ambang batas kesabarannya.

Praka tidak mundur, justru ia melangkah maju hingga bayangannya menutupi meja makan yang penuh dengan hidangan pagi. "Melindungi atau menganggapku masih gila? Aku bukan anak kecil yang bisa kalian suapi dengan dongeng kebahagiaan palsu setiap pagi!" ucapnya sambil menunjuk ke arah jendela yang menampakkan taman rumah sakit jiwa.

Tiba-tiba, Praka memukul pintu lemari es dengan kepalan tangannya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan. "Aku butuh kebenaran, bukan belas kasihan yang dibungkus dusta! Katakan padaku, di mana ibumu yang sebenarnya? Kenapa dia tidak pernah datang menjengukku ke tempat terkutuk ini?"

Laras, yang sejak tadi terdiam, akhirnya tersedu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ibu sudah pergi sejak sepuluh tahun lalu, Yah. Dia tidak pernah memaafkan apa yang Ayah lakukan dulu sebelum Ayah dibawa ke sini," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan keheningan yang mencekam setelah ledakan kemarahan Praka.

Praka tertegun, tangannya yang masih menempel di pintu lemari es perlahan merosot jatuh ke samping tubuhnya. Ingatan-ingatan yang selama ini terkunci rapat mulai merembes masuk seperti air bah yang menghancurkan bendungan. Ia melihat bayangan dirinya sendiri yang sedang mengamuk, menghancurkan perabotan rumah, dan tangisan wanita yang ia cintai.

Ia kembali meremas kertas di sakunya, ritme napasnya menjadi tidak beraturan seiring dengan denyut di pelipisnya yang semakin kencang. "Jadi selama ini... kalian menyewa rumah ini hanya agar aku merasa pulang? Kalian membayar orang untuk berakting sebagai tetangga yang ramah setiap kali aku diizinkan keluar dari bangsal?"

Maya hanya bisa mengangguk pelan sambil memegang lengan Laras untuk saling menguatkan. "Kami hanya ingin Ayah merasakan sisa hidup yang tenang, tanpa bayang-bayang penyesalan yang menghancurkan jiwa Ayah setiap malam. Kami mencintai Ayah, meski luka yang Ayah torehkan pada Ibu tak akan pernah bisa benar-benar sembuh."

Senyum getir tersungging di bibir Praka, sebuah ekspresi yang lebih menyakitkan daripada kemarahan yang ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyadari bahwa kasih sayang putri-putrinya justru adalah penjara paling kejam yang pernah ia tempati. Mereka memberinya surga buatan di tengah neraka yang ia ciptakan sendiri bertahun-tahun yang lalu.

Praka kemudian berbalik memunggungi mereka, menatap lurus ke arah cermin besar di ruang tengah yang memantulkan sosok pria tua yang rapuh. Ia menyadari bahwa setiap tawa yang ia dengar selama ini hanyalah gema dari delusinya sendiri yang dipelihara oleh kebohongan demi kebohongan. "Bawa aku kembali ke bangsal sekarang juga," perintahnya dingin.

Matahari sore menembus celah ventilasi bangsal, membentuk garis-garis cahaya yang menari di atas lantai semen yang dingin. Laras duduk di hadapan Praka, jemarinya terus memilin ujung hijabnya yang berwarna pastel, tanda kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan lagi dari tatapan tajam sang ayah.

Udara di ruangan itu mendadak terasa berat dan pengap, seolah dinding-dinding putih di sekeliling mereka mulai menghimpit ruang gerak. Praka memperhatikan getaran halus di bibir putrinya, sebuah pemandangan yang memicu naluri pelindungnya sekaligus membangkitkan rasa cemas yang sudah lama dia kubur dalam-dalam.

Lihat selengkapnya