Fragmen Memori Praka

Bilsyah Ifaq
Chapter #13

Penentuan di Ambang Batas (Bagian 2)

Di kejauhan, suara klakson mobil mulai berbunyi berulang kali, menyalak keras sebagai peringatan dari Maya bahwa mereka tidak sedang berada dalam ruang hampa yang privat. Putrinya itu seolah memberikan sinyal bahwa waktu bagi Praka untuk melarikan diri dari kenyataan pahit ini sudah hampir habis. Suara bising itu memantul di antara dinding-dinding rumah besar mereka, menciptakan simfoni kekacauan yang membuat kepala Praka mulai berdenyut hebat karena tekanan yang tak tertahankan.

Sari tidak memedulikan gangguan itu dan justru semakin mendekat, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari dada Praka yang naik turun dengan tidak teratur. "Jangan sok suci, Praka! Kamu tahu benar bahwa kebahagiaan yang kamu agung-agungkan itu hanyalah dongeng yang kamu ciptakan sendiri untuk menutupi kegagalanmu!" bentaknya dengan nada penuh kebencian. Kata-kata itu menghujam jantung Praka, merobek lapisan delusi yang selama ini ia bangun dengan sangat rapi dan penuh kehati-hatian.

Praka mencengkeram map itu lebih erat hingga kertas di dalamnya berderit, seolah-olah benda mati itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa baginya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pengkhianatan bisa terasa sedingin es sekaligus sepanas api yang membakar seluruh memorinya tentang keluarga yang harmonis. "Aku hanya ingin menjaga apa yang tersisa dari kita, Sari. Apakah itu sebuah kesalahan besar bagi seorang ayah yang mencintai keluarganya?" gumamnya sambil terus memutar cincin di jarinya.

Tiba-tiba, Sari tertawa meremehkan, sebuah tawa yang terdengar sangat ganjil dan menyakitkan di telinga Praka yang mulai berdenging kencang karena stres. "Keluarga? Kamu bahkan tidak sadar bahwa anak-anakmu sudah lama membencimu karena sifat obsesifmu yang gila itu, Praka!" teriaknya tanpa sisa rasa iba sedikit pun. Pernyataan itu seperti sebuah ledakan yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang masih coba dipertahankan oleh Praka di tengah kepungan orang-orang yang ingin menghancurkannya.

Situasi benar-benar meledak ketika pengacara itu mencoba menarik lengan Praka secara paksa, memicu reaksi defensif yang tidak terduga dari pria yang biasanya tenang itu. Praka mengibaskan tangan sang pengacara dengan kekuatan yang mengejutkan, membuat pria berjas itu terhuyung ke belakang dan menabrak pot bunga besar hingga pecah berkeping-keping. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu yang penuh dengan rencana busuk itu!" teriak Praka, suaranya kini menggelegar memenuhi seluruh sudut taman.

Maya keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah mereka, wajahnya pucat pasi melihat pertikaian fisik yang mulai terjadi di depan matanya sendiri. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat tatapan mata ayahnya yang kosong, seolah-olah Praka tidak lagi berada di tempat yang sama dengan mereka semua. "Ayah, tolong berhenti! Semuanya sudah berakhir, Ayah harus menerima kenyataan ini sekarang juga!" serunya dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipinya yang kemerahan.

Praka menoleh ke arah Maya, namun anehnya, ia justru melihat sosok Maya kecil yang sedang bermain boneka di teras rumah, bukan wanita dewasa yang sedang menangis. Bayangan masa lalu mulai tumpang tindih dengan realitas, menciptakan distorsi visual yang membuat Praka merasa seolah-olah ia sedang tenggelam di dasar lautan yang sangat dalam. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah hidup dalam ruang isolasi pikirannya sendiri, tempat di mana pengkhianatan Sari dan anak-anaknya tidak pernah terjadi.

Dengan tangan gemetar, ia akhirnya melepaskan map cokelat tersebut hingga terjatuh ke atas rumput yang basah oleh embun sore yang mulai turun perlahan. "Ambillah semuanya, Sari. Jika kertas ini adalah harga yang harus kubayar untuk mengakhiri sandiwara menyakitkan ini, maka ambillah tanpa sisa sedikit pun," ucapnya pelan. Ia berbalik membelakangi mereka, berjalan gontai menuju pintu rumah yang kini tampak seperti gerbang menuju kegelapan yang akan menelan seluruh sisa hidupnya dalam kesunyian.

Namun, sebelum langkahnya mencapai ambang pintu, ia berhenti sejenak dan menatap cincin di jarinya yang kini terasa sangat berat, seberat beban rahasia yang ia simpan. Ia menarik cincin itu dengan paksa hingga kulitnya lecet, lalu menjatuhkannya tepat di samping map cokelat yang kini sudah berada di tangan Sari dengan penuh kemenangan. Praka tidak menoleh lagi, membiarkan dunianya runtuh sepenuhnya saat ia melangkah masuk ke dalam rumah yang kini terasa lebih asing daripada penjara mana pun di dunia ini.

Praka meremas pinggiran dokumen kusam di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menciptakan bunyi gesekan kertas yang memekakkan telinga di tengah kesunyian beranda panti. Matanya yang cekung menatap tajam ke arah sosok wanita di hadapannya, seseorang yang dahulu ia puja namun kini tampak bagaikan orang asing yang memikul beban dosa yang teramat berat. Wanita itu tertunduk lesu, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan, memohon pengampunan atas pengkhianatan yang telah merenggut kewarasan Praka selama bertahun-tahun dalam isolasi delusi yang menyakitkan.

Pikiran Praka sempat melayang pada bayangan sel penjara yang dingin, sebuah tempat yang sangat layak bagi mereka yang telah memalsukan kematiannya demi harta warisan yang tak seberapa. Satu tanda tangan di atas laporan polisi ini akan cukup untuk menyeret mereka semua ke dalam lubang kehancuran yang sama dalamnya dengan apa yang ia rasakan di rumah sakit jiwa. Amarah yang membara di dadanya menuntut pembalasan yang setimpal, sebuah ledakan emosi yang selama ini ia tekan rapat-rapat di balik senyum palsu dalam imajinasi kebahagiaan keluarganya yang semu.

Namun, pandangannya kemudian teralih ke arah sebuah mobil sedan perak yang terparkir di bawah pohon kamboja, di mana dua orang gadis dewasa sedang menunggu dengan cemas. Mereka adalah darah dagingnya, putri-putri yang kini kembali mencarinya dengan mata yang menyimpan kerinduan sekaligus ketakutan akan penolakan dari ayah yang telah lama hilang. Melihat binar harapan di wajah mereka, Praka menyadari bahwa ego dan dendam pribadinya hanya akan menjadi racun baru yang akan merusak masa depan anak-anaknya yang baru saja ia temukan kembali.

Ia menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah yang menenangkan, sambil perlahan melonggarkan cengkeramannya pada kertas-kertas yang menyimpan bukti kejahatan masa lalu itu. Setiap detik yang ia habiskan untuk membenci adalah detik yang terbuang untuk mencintai kembali kehidupan yang sempat terenggut dari genggamannya secara paksa. Praka tahu bahwa mengejar kemenangan hukum mungkin akan memberinya kepuasan sesaat, namun itu tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka batin yang telah menganga lebar dan membusuk di dalam jiwanya selama ini.

Dengan gerakan yang pasti dan tanpa ragu, Praka merobek dokumen itu menjadi serpihan kecil yang berhamburan tertiup angin sore, membiarkan masa lalunya terbang bersama debu-debu jalanan. Ia tidak lagi membutuhkan pengakuan bersalah dari mulut orang-orang yang telah mengkhianatinya, karena baginya, keberadaan kedua putrinya adalah penebusan yang jauh lebih berharga dari apa pun. Ia melangkah pergi meninggalkan masa lalunya yang kelam, menuju pelukan hangat keluarganya yang nyata, mencari kedamaian sejati yang selama ini hanya ia temukan dalam mimpi-mimpi gila di balik jeruji besi.

Aroma cengkih menyengat dari sebatang rokok kretek yang tak kunjung disulut, terjepit di antara jemari Praka yang sedikit gemetar. Pria itu menarik napas panjang, membiarkan udara dingin sore hari mengisi paru-parunya yang terasa sesak oleh beban masa lalu. Di hadapannya, Sari berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, menatap amplop cokelat yang kini berpindah tangan ke genggaman Praka yang kokoh. Jari telunjuk Praka mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang kasar, sebuah gestur ritmis yang selalu ia lakukan saat amarahnya mulai mencapai titik didih yang senyap.

Mata Praka menyipit, menatap lurus ke dalam manik mata Sari seolah sedang membedah setiap lapisan kebohongan yang tersimpan di sana. Tangannya merogoh saku celana kainnya yang sudah mulai pudar warnanya, lalu menarik keluar sebuah korek api berbahan kuningan yang permukaannya sudah lecet termakan usia. Ia memutar roda pemantik dengan sekali gerakan jempol yang mantap, menciptakan percikan api kecil yang menari-nari ditiup angin sepoi-sepoi. Cahaya jingga dari api itu memantul di bola mata

Praka, memberikan kesan tajam dan tak tergoyahkan pada wajahnya yang sudah berkerut.

Tanpa ragu sedikit pun, Praka mendekatkan lidah api itu ke sudut dokumen yang selama ini menjadi senjata Sari untuk memeras kedamaian hidupnya. Kertas putih itu mulai menghitam, mengerut, lalu dengan cepat dilahap oleh api yang merambat dengan rakus ke bagian tengah dokumen. Sari mencoba melangkah maju, tangannya terjulur seolah ingin menyelamatkan tumpukan kertas berharga tersebut, namun tatapan dingin Praka menghentikan langkahnya seketika. "Satu langkah lagi, dan bukan cuma kertas ini yang habis," desis Praka dengan nada suara yang rendah namun sarat dengan ancaman yang nyata.

Asap tipis mulai membubung ke langit sore yang mulai menggelap, membawa serta serpihan abu hitam yang terbang tidak tentu arah di sekitar mereka. Praka membiarkan api itu menyentuh ujung jemarinya sebelum akhirnya ia menjatuhkan sisa kertas yang terbakar ke atas tanah yang lembap. Ia menginjak sisa-sisa abu tersebut dengan ujung sepatunya, memastikan tidak ada satu kata pun yang tersisa untuk bisa dibaca kembali. Baginya, setiap serpihan yang terbang melambangkan satu beban pengkhianatan yang akhirnya berhasil ia lepaskan dari pundaknya yang sudah terlalu lama memikul duka.

"Ini adalah harga untuk kebebasanku dari kalian semua yang sudah meracuni rumah ini," ujar Praka dengan intonasi yang datar namun setiap katanya terasa seperti hantaman palu. Ia tidak berteriak, karena baginya kemarahan yang paling mematikan adalah kemarahan yang tenang dan terperinci dalam setiap tindakannya.

Sari hanya bisa terisak tanpa suara, menyadari bahwa kartu as yang selama ini ia pegang telah musnah menjadi debu di bawah kaki pria yang dulu ia anggap mudah dikendalikan. Praka membetulkan letak kerah kemejanya, sebuah tanda bahwa negosiasi telah berakhir dan tidak ada ruang lagi untuk tawar-menawar.

Praka kemudian berbalik membelakangi wanita itu, menatap ke arah jendela rumah di mana bayangan kedua putrinya terlihat samar-samar sedang bermain di dalam. Suaranya kembali terdengar, kali ini lebih tajam dan penuh penekanan pada setiap suku katanya yang keluar dari bibirnya yang kering. "Jangan pernah muncul lagi di hadapan anak-anakku, atau kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam sekejap mata." Kalimat itu bukan sekadar gertakan, melainkan sebuah janji mutlak dari seorang ayah yang telah kehilangan kewarasannya demi melindungi sisa-sisa kebahagiaan yang ia miliki.

Angin sore berhembus lebih kencang, menyapu bersih sisa abu yang tertinggal di atas tanah, meninggalkan aroma sangit yang perlahan memudar ditelan udara terbuka. Praka merogoh sakunya sekali lagi, memastikan korek api kuningannya tersimpan dengan aman, seolah itu adalah jimat keberaniannya yang paling berharga.

Lihat selengkapnya