Tiiit ...
Suara alat monitor detak jantung membuatku menegakkan diri. Suara itu datang lebih dulu, jauh sebelum aku menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang di kamar itu berlari kalang kabut. Ada yang mendekat ke arah tempat tidur, ada yang berlari menjauh keluar ruangan.
“Kenapa bunyinya jadi begitu?”
Suaraku keluar pelan, hampir tenggelam oleh kepanikan sendiri. Mendadak kepalaku kosong. Bahkan aku mempertanyakan informasi umum yang semua orang tahu. Tak ada yang menoleh. Rahangku mengeras. Nyeri merayap perlahan menguasai, seolah ruangan itu menyempit tanpa aba-aba.
Suara itu berdengung lama di kepalaku, lebih lama dari seharusnya. Seperti gema yang tak menemukan jalan keluar. Tak ada suara lain yang terdengar, selain dengingan nyaring itu. Sesak merayap diam-diam, sesuatu yang tak kasatmata. Aku ingin berkata sesuatu, apa saja, sekadar memecah sunyi yang tiba-tiba menebal, tetapi lidahku terasa kelu.
“Dok…?” teriak seseorang, entah siapa.
Tanganku masih menggenggam tangan Nenek. Dingin. Aku mengusap punggung tangannya perlahan, terlalu pelan untuk disebut membangunkan.
“Nek sebentar lagi dokter datang,” bisikku. Kalimat yang biasa kuucapkan setiap kali beliau tampak gelisah saat tidur di beberapa hari saat dirawat di rumah sakit.
Tak ada respons. Hanya bunyi alat yang terus berdengung, dan sunyi yang semakin berat.
Aku menatap sosok yang berbaring di atas tempat tidur. Tak ada yang berbeda dari biasanya. Dia tampak terlelap, tidur nyenyak, seperti hari-hari lainnya. Aku selalu di sampingnya. Bahkan saat ini.
“Nenek masih mendengarku, 'kan?” tanyaku menahan tangis.
Kugenggam dan mengusap beberapa kali tangan Nenek yang dingin. Mencoba memberi kehangatan.
“Nenek masih tidur?”
Seorang pria separuh baya dengan jas putih masuk ke ruangan. Tentu saja dengan stetoskop yang terkalung di lehernya. Semua menatap dokter senior itu dengan pandangan yang sama.
“Dok, to...long diperiksa.” Bunda tergagap.
“Ibu saya baik-baik saja, 'kan?” tanya Bunda lagi dengan raut wajah semakin pucat.
“Tentu Nenek baik-baik saja, beberapa detik yang lalu masih terdengar napasnya seperti biasa,” bisikku lebih pada diriku sendiri.
Semua orang berkumpul di sekitar tempat tidur Nenek. Namun untungnya masih memberi ruang kepada dokter agar leluasa mendekati Nenek yang sedang berbaring dan memeriksanya.
“Tadi terdengar tarikan napas yang begitu keras, apa mungkin ...” Bunda tidak melanjutkan kalimatnya. Beliau menggigit bibirnya cukup keras.
“I...itu memang kebiasaan Nenek saat tidur,” jelasku menahan rasa terhimpit yang tiba-tiba menyeruak.
“Nenek selalu membuang napas begitu keras saat tidur, bukankah itu karena kanker paru-parunya?”
Bunda menggeleng. “Nggak, kali ini berbeda. Suaranya jauh lebih keras dari biasanya.”
Aku menampik alasan Bunda. “Bunda nggak tahu, ‘kan Bunda nggak pernah tidur dengan Nenek,” ucapku lirih.
“Aku ... biasa di sampingnya,” suaraku terdengar asing oleh telingaku sendiri.
“Aku tahu kebiasaan Nenek.”
Suaraku cukup lirih. Entah tak ada yang mendengar, atau mereka membiarkanku meracau tak henti. Semuanya berfokus menatap Nenek yang masih berbaring tenang, seakan tidur begitu nyenyak dan tak terganggu sama sekali dengan kebisingan yang kami buat.