“Alhamdulillah, itu hanya mimpi,” bisikku ketika melihat Nenek masih tertidur lelap dengan napas teratur. Daster berwarna kuning muda dengan tokoh kucing di sudut bawah kain, terlihat naik turun bersamaan dengan laju napasnya yang tenang.
“Dada itu masih naik turun dengan teratur,” gumamku seraya melangkah mendekati tempat tidur Nenek.
Perasaan sesak yang sejak tadi menguasai perlahan berubah lega, seolah ada sesuatu yang dilepaskan tanpa suara.
Aku berdiri di sisi tempat tidur lebih lama dari yang seharusnya. Aku tidak tahu kenapa aku belum juga bergerak. Tidak ada yang salah, tetapi tubuhku bersikeras untuk diam. Tidak ada yang berubah. Selimutnya masih terlipat rapi di dada, lampu tidur menyala temaram, dan bayangan tubuhnya jatuh lembut di dinding. Terlalu tenang. Berbanding terbalik dengan seseorang berwajah pucat yang muncul di mimpiku.
Aku berbaring perlahan di samping Nenek.
Menatap Nenek dalam diam.
Menunggu.
Entah apa yang sebenarnya kutunggu. Mungkin gerakan kecil. Mungkin tarikan napas yang terdengar jelas. Atau sekadar tanda bahwa tidak ada yang salah dengan kondisi Nenek saat ini.
Udara dari mesin pendingin ruangan berhembus pelan, membuat ujung selimut bergerak hampir tak terlihat.
Aku mencoba meletakkan keningku pada punggung Nenek kemudian memejamkan mata, kebiasaan yang selalu kulakukan setiap sedang mendapatkan masalah ataupun terlalu lelah.
Hangat.
Seperti biasa.
Masih dengan posisi itu, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menyentuhnya tanpa memastikan lebih dulu.
“Jam berapa ini, Lily?” gumam Nenek lirih, hampir tenggelam di antara desis napasnya.
“Apa kamu baru menyelesaikan tugasmu?”
“Nggak, Nek. Aku tertidur,” jawabku singkat, masih menenangkan diri usai jantung yang tiba-tiba berdebar kencang karena mimpi itu.
“Kamu nggak harus menemani Nenek tidur di sini, kamu boleh tidur di kamarmu.”
Kali ini kalimat Nenek begitu lugas.
“Sekarang sudah jam berapa?” tanya Nenek masih dengan mata terpejam.
Aku melirik pada jam dinding. Detiknya bergerak pelan, tetapi suaranya terdengar terlalu keras. Seakan berdetak tepat di samping telingaku, bukan bergantung di dinding seberang. Aku kembali menatap Nenek, berharap suara itu ikut teredam bersama pejaman mataku.
“Jam dua pagi.”
Tak ada lagi jawaban dari Nenek, entah karena itu hanya igauan, atau Nenek sudah kembali terlelap dalam tidurnya. Aku tidak peduli. Yang terpenting Nenek masih ada di sampingku, dan tidur dengan nyenyak.
Perlahan kuulurkan tangan, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
Kenapa aku ragu?
Nenek sudah bicara pelan denganku. Lagipula aku sudah sering melakukannya. Datang lewat dari tengah malam, kemudian diam-diam berbaring di samping Nenek seraya memastikan Nenek tidur nyenyak. Tak ada bedanya dengan malam ini.
“Cuma mimpi.”
Kembali kuyakinkan diriku. Kali ini nyaris terdengar seperti perintah.
Kutarik tangan kembali, memasukkannya ke dalam saku piyama. Jari-jariku sedikit bergetar. Entah sejak kapan. Aku mengepalkannya, berharap sensasi itu berhenti.
Aku berbaring telentang memandang langit-langit kamar Nenek. Tak ada hiasan apapun di sana. Putih polos. Tetapi tidak dengan pikiranku. Aroma rumah sakit kembali tertangkap di indera penciumanku.
Aku menutup mata. Membiarkan setetes air mata tiba-tiba mengalir.
“Kenapa kamu belum tidur?”
Suara itu lirih. Begitu lirih hingga aku merasa terjebak antara mimpi atau kenyataan.
“Mungkin itu hanya suara di dalam mimpiku saja,” pikirku.
“Ini sudah jam sebelas malam, kenapa kamu belum tidur?” tanya Nenek mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan suara yang begitu jelas.
Sesaat membuka mata, aku langsung mengangkat kepala. Mengamati Nenek yang masih berbaring.
Tetap diam.
Tak langsung menjawab.
Mataku lurus memperhatikan wajah Nenek yang masih terpejam. Bibirnya terbuka sedikit. Aku mendekatkan diri, mencoba mendengarkan irama napasnya.
Benar. Napasnya seperti biasa. Cukup teratur, hanya sesekali Nenek membuang napas secara kasar usai menariknya panjang. Persis seperti mimpiku. Aku menghitungnya sekali, bersamaan dengan bunyi jam dinding yang tiba-tiba terdengar terlalu dekat. Ada jeda yang terlalu singkat untuk disebut berhenti, tetapi cukup lama untuk kembali bernapas.