Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #3

Saat Subuh Benar-benar Datang

Suara azan subuh sayup-sayup terdengar. Selimut yang semalam hangat, kini terasa menusuk tulang. Aku tersentak. Terbangun dengan keringat dingin. Entah sejak kapan akhirnya aku bisa tertidur. Terakhir kali kuingat Nenek mulai mendongengkan satu cerita. Keningku mengerut dalam, mencoba menarik ingatan kala itu. Namun hasilnya nihil.

Aku menatap sekitar.

Tempat tidur yang berantakan.

Tak ada ornamen luar angkasa.

Segalanya putih polos.

“Aku masih di kamar Nenek,” gumamku. Atau setidaknya, kamar yang seharusnya.

“Punggung itu sudah nggak ada.”

Napasku naik turun. Kuedarkan pandangan pada sekitar. Tidak ada sajadah terhampar, kebiasaan Nenek yang selalu bangun jam tiga pagi untuk salat tahajud, kemudian membaca Al Quran sembari menanti azan subuh.

Dimana Nenek?

Pikiran buruk kembali berkelebat. Bayangan-bayangan kejadian di rumah sakit, satu per satu bermunculan, mengingatkanku pada perasaan yang sempat terlupakan.

“Nek?” panggilku perlahan seraya menajamkan pendengaran.

Tak ada tanda-tanda bunyi aktivitas di dalam maupun di luar kamar. Kuputuskan turun dari tempat tidur. Melipat sejenak selimut yang dingin itu, serta menarik sudut-sudut seprei yang sedikit bergeser karena pola tidur kami.

Masih tak ada jawaban. Keningku mengerut. Bersamaan dengan tarikan sudut terakhir, kuputuskan keluar kamar mencari keberadaan Nenek. Dapur masih begitu gelap, biasanya Nenek langsung menuju dapur sebentar setelah salat subuh.

“Nek?” panggilku lagi.

“Uhuk ... uhuk ...”

Suara batuk yang tak asing terdengar. Langkahku terhenti, mencoba mencari arah suara itu berasal.

“Uhuk ... uhuk ... uhuk ....”

Di sudut sebelah kamar mandi. Tempat wudu minimalis ala industrial, dengan tempat duduk sederhana. Aku masih ingat Bunda meminta untuk merenovasi rumah di bagian itu, agar memudahkan Nenek jika berwudu.

“Nek?” panggilku lagi.

Tak ada sahutan. Hanya suara batuk yang tak juga berhenti.

Suara batuk kering Nenek selalu membuatku ngilu. Kuurungkan langkah sejenak, beralih mendekati Nenek yang sedang mengambil air wudu. Nenek tampak duduk usai menyeka kakinya, perlahan kupijat punggungnya.

“Uhuk ... uhuk ... uhuk ... uhuk... uhuk ....”

Sekali lagi batuk keras terdengar setelah salah satu sisi punggung Nenek kutekan. Selalu saja sisi itu, hingga membuatku hapal. Namun kali ini batuk terdengar lebih panjang dari biasanya. Pijatanku berhenti sejenak, tanganku sedikit terangkat seolah tak berani menyentuh punggung kecil yang tampak semakin rapuh itu.

"Mau minum air hangat, Nek?" tawarku sedikit khawatir melihat ekspresi Nenek menahan sakit.

"Boleh," jawab Nenek, seraya mengangguk.

"Setelah itu kamu langsung mengambil air wudu ya, kita salat berjamaah."

Aku berlari kecil menuju pantry untuk menyeduh air hangat ke dalam gelas, lalu bergegas kembali pada Nenek. Wajah Nenek begitu pucat seperti kertas putih, tetapi dia memaksakan senyum menatapku yang masih setengah berlari kemudian menyodorkan segelas air hangat untuknya.

“Terimakasih,” ucap Nenek lirih.

Nenek menerima gelas itu dengan kedua tangan. Uap tipis mengepul, menyentuh wajahnya sebelum perlahan menghilang. Diseruputnya air hangat itu sedikit demi sedikit, napasnya masih terdengar berat, tetapi tidak lagi terputus-putus.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Hanya berdiri di sampingnya, memperhatikan gerak dadanya yang naik turun. Seolah baik-baik saja. Terlalu pelan untuk disebut tenang, terlalu teratur untuk disebut bahaya. Aku tidak tahu apakah ini seharusnya membuatku lega.

Lihat selengkapnya