Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #4

Kalimat yang Tertinggal

Suara Nenek mengalun pelan, mulai membaca surat Al Fatihah hingga selesai mengucapkan salam. Tak ada yang berbeda, semuanya begitu lancar. Bahkan suara batuk yang sedari tadi terdengar sudah tidak terdengar lagi.

"Assalamualaikum warrahmatullaah ...." ucap Nenek lalu menoleh ke kanan, setelah itu berbisik kalimat yang sama dan menoleh ke kiri.

Aku mengikutinya. Berbisik dengan kalimat yang sama dan melakukan gerakan yang sama. Sesaat kuulurkan tangan untuk mencium tangannya. Kerutan-kerutan tampak menghiasi kulit putihnya. Ya, kulit itu begitu putih bersih, tetapi terlalu tipis.

Nenek langsung kembali menunduk membacakan zikir pagi seperti yang biasa dilakukannya. Sedangkan aku membaca doa sejenak, lalu perlahan melepas mukena dan melipat sajadah. Kakiku berjingkat menuju lemari kayu untuk meletakkan alat salatku.

"Lily duduk sini dulu," ucap Nenek ketika aku sibuk menata mukena di dalam lemari.

"Kita bicara sebentar."

Kutarik napas panjang, mendekati Nenek dan duduk bersila di sampingnya.

"Bukankah hari ini kamu harus bertemu dosenmu?" tanya Nenek seraya melepas mukena putihnya.

Aku mengangguk malas. Ini akan menjadi percakapan yang panjang.

"Seingat Nenek seharusnya kamu juga ada kuliah hari rabu, bukankah ada mata kuliah yang masih kamu ulang?"

Wajah Nenek berubah serius. Aku terdiam mencoba memikirkan kalimat yang dapat terdengar enak tanpa membuat Nenek semakin marah.

"Hmm, kurang dua pertemuan lagi sebelum minggu tenang, Nek," jawabku pelan.

"Dan aku juga masih punya jatah bolos dua kali ... dan itu belum pernah kugunakan di semester ini."

Ah, aku tahu jawabanku sama sekali nggak memperbaiki keadaan. Tangan Nenek bersedekap. Kedua alisnya bertaut.

"Sebaiknya aku mengantar Nenek ke dokter pagi ini ..." rajukku.

"Jangan bolos, Lily!" Nenek mencubit kecil lenganku, kebiasaan beliau ketika tingkahku membuatnya gemas.

"Masa cucunya seorang guru suka bolos kuliah."

Kali ini mata mungil Nenek membulat. "Jangan lupa kalau kakekmu adalah mantan kepala sekolah, sedangkan nenekmu adalah pensiunan seorang guru. Masa cucunya jadi tukang bolos?"

Aku menarik napas panjang. "Kalau begitu aku telepon Bunda agar mengantarkan Nenek ke dokter?" tawarku.

Nenek kembali menggeleng. "Jangan, Bundamu pasti sedang sibuk. Jangan lupa kalau kamu punya tiga adik yang tinggal di rumahmu dan masih bersekolah. Tentu saja Bundamu masih repot mengurus mereka," tolak Nenek lagi.

Mukena dan sajadah di tangan Nenek sudah terlipat rapi. Sedikit susah, Nenek berusaha bangkit dari posisi duduknya. Tangannya bergetar menekan lantai, menopang badannya yang berusaha bangkit. Aku bergegas mendekat dan meraih tangan Nenek, tetapi beliau segera menampiknya.

"Nenek masih bisa berdiri sendiri!" tukasnya.

Sama seperti yang kulakukan, Nenek memasukkan mukena bersama sajadah ke dalam lemari tua yang sama. Kemudian beralih ke arah jendela, membuka tirainya tetapi tidak dengan kacanya. Jendela Nenek menghadap langsung ke sisi rumah tetangga, dengan jarak cukup dekat membuat minim udara dan terasa cukup lembap.

"Nek, setelah ini Nenek baca Al Quran di teras aja. Agar menghirup udara pagi yang masih sejuk," usulku namun dibalas dengan gelengan kepala.

"Nenek mau ke dapur untuk menyiapkan sarapan, bukankah kamu ingin berangkat pagi-pagi agar bisa bertemu dosenmu sebelum mengajar?"

Aku segera mendekat.

"Nenek mau masak apa?" tanyaku dengan semangat, menutupi kegelisahanku.

"Ayo kubantu."

Tetapi sebelum aku menggamit tangannya, Nenek mencubitku pelan.

"Bukankah kamu mau menunggu dosenmu pagi-pagi?" cetus Nenek.

"Lebih baik sekarang kamu bersiap-siap berangkat kuliah."

"Nggak apa-apa, Nek. Aku masih sempat kok," jawabku cepat.

Nenek mencubitku pelan.

"Kamu itu kalau mandi, lama banget, Ly ...." nasehat Nenek dengan wajah geram.

Lihat selengkapnya