Jarum jam menunjukkan tujuh tepat ketika aku berhasil memarkirkan sepeda motor dengan posisi rapi. Halaman parkir sepeda motor bertingkat tiga ini, masih cukup lengang. Bahkan jumlah motor yang terparkir masih bisa dihitung tidak sampai lima menit. Udara pagi masih tersisa. Aku segera berlari menuju kampus. Beruntung hanya segelintir mahasiswa yang ada di dalamnya. Tentunya karena banyak yang memilih memulai kuliah mereka di jam sepuluh pagi daripada jam tujuh.
“Apa pak Dayat masih ada di ruangannya?”
Bukan kata sapa. Kalimat itu langsung kulontarkan sesaat melihat sosok yang kukenal itu sedang duduk di depan ruang dosen. Mia menggeleng lemah.
“Seandainya kamu datang sepuluh detik lebih awal, pasti kamu masih bisa menghadang beliau,” ucapnya dengan bahu turun.
“Eh, sepertinya nggak juga sih. Aku rasa pak Dayat pasti langsung menolakmu walaupun beliau belum sempat masuk ke kelas.”
Kuseret langkahku tanpa semangat.
“Mungkin lebih baik kamu menginap di kosku, biar gampang menemui pak Dayat pagi-pagi,” usul Mia asal.
Bagaimana tidak. Dia tinggal sekamar dengan teman seangkatan kami lainnya. Tentunya dengan aku ikut menginap di kamar kos mereka, ruang gerak mereka semakin sempit.
“Sepertinya insomiamu kambuh?” tanya Mia. Pandangannya tak lepas dari gerakanku hingga aku duduk di sampingnya.
Aku mengangguk pelan, lalu menggeleng.
“Kalau dibilang insomnia, rasanya kurang tepat,” jawabku lirih, seraya menggerakkan kepala ke arah berbeda beberapa kali karena leher terasa kaku.
“Semalam aku mimpi buruk, karena itu aku jadi insomnia.”
Mia menepuk pundakku.
“Mau melanjutkan tidur di kosku?” tawarnya.
Mungkin bagi sebagian orang, itu adalah bentuk perhatiannya. Namun bagiku tawarannya itu justru menunjukkan kalau dia bukanlah orang yang peka.
“Nggak, sepertinya aku mau ke ruang baca untuk mengerjakan skripsiku,” jawabku lemah.
“Apa kamu mau kembali ke kosmu?”
Aku sedikit heran dengan sosoknya yang sudah duduk tenang di kampus pagi-pagi begini. Berbeda denganku yang masih harus mengulang beberapa mata kuliah di semester tujuh, teman dekatku ini sudah lulus di sidang skripsinya pada saat itu.
“Apa kamu mau kutemani di ruang baca?”
Aneh. Biasanya dia akan memilih pulang jika tidak ada hal penting yang harus dilakukan di kampus.
“Aku bosan di kos,” ucapnya menjawab pertanyaan tak tersiratku.
“Semua teman-teman di kos sibuk ke kampus, bahkan ada yang belum kembali dari kampungnya karena seminggu ini mengambil jatah bolosnya.”
Seketika dia berdiri dengan semangat. “Aku nggak akan berisik dan mengganggu konsentrasimu mengerjakan skripsi,” janji Mia.
“Aku mau membaca beberapa jurnal tentang laporan keuangan perusahaan daerah, siapa tahu itu berguna ketika wawancara pekerjaan.”
Kami berjalan kembali ke lobby, mendekati lift yang ada di sana. Beberapa langkah sebelum mendekati lift, sebuah mobil sedan berwarna abu-abu berhenti tepat di lobby. Sosok perempuan tua sekitar usia 70 tahun, turun dengan posisi membungkuk dan tubuh sedikit bergetar.
“Bu Rita juga mengajar kuliah pagi?” tanyaku tanpa mengalihkan tatapan pada setiap gerakan dosen paling senior di kampus.
“Nggak tahu sih,” jawab Mia sedikit acuh.
“Tetapi setahuku beliau selalu datang pagi-pagi dan menghabiskan waktunya membaca jurnal-jurnal terbaru di ruang baca sebelum masuk ke kelas untuk mengajar.”
“Kenapa Bu Rita belum pensiun?” tanyaku heran.
“Usianya pasti sudah di atas tujuh puluh tahun.”