Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #6

Panggilan Pulang

“Apa kamu tahu gelar Sarjana Akuntansi tahun ini, bukan lagi S.Ak.?”

Mia kembali membuka percakapan di antara kami. Padahal pandangan matanya berkutat pada lembar-lembar jurnal yang baru saja dia cetak. Aku rasa dia pasti lupa janjinya untuk tidak berisik.

Tetapi ucapannya menarik perhatianku. “Lalu apa gelar Sarjana Akuntansi sekarang?”

Dia tersenyum kecut. “S.A,” jawabnya singkat.

Keningku mengerut. “S.A?” tanyaku mengulang jawabannya.

“Sarjana Agama?”

Sinar terik matahari mulai masuk secara bebas melalui kaca besar di samping kami. Memperjelas tatapan matanya yang membesar karena kesal dengan pertanyaanku.

“Sarjana Agama ‘kan S.Ag., Lily ....”

Aku sudah tahu itu. Namun entah kenapa bibirku menjawab asal hanya untuk menggodanya.

“Hari ini kamu hanya akan menunggu pak Dayat, atau ada kuliah juga?” tanya Mia.

Tanpa menatapnya, aku menjawab pertanyaan dengan sedikit bergumam, “Seharusnya ada kuliah perpajakan jam sepuluh nanti, tetapi dibatalkan karena dosennya sedang ada seminar di luar kota.”

“Jadi rencanamu hari ini adalah menunggu pak Dayat selama satu hari penuh?”

Tarikan napas dalam perlahan kuhembuskan. Bayangan Nenek yang jalan agak tertatih bersama batuknya yang tak henti berkelibat.

“Sepertinya nggak, aku ingin siang nanti sudah sampai rumah,” putusku seketika.

“Karena Nenekmu?”

Walaupun jarang menceritakan masalah keluarga kami masing-masing, namun kami sama-sama tahu satu garis besar kehidupan di luar kampus. Dia yang asli Sidoarjo, dan kos di Surabaya karena kuliah di Surabaya. Sedangkan aku yang memilih tinggal berdua bersama Nenek, agar lebih dekat dengan kampus.

“Iya.”

Mia kembali fokus pada jurnal di hadapannya, sedangkan aku kembali membaca buku Profesi Akuntan Publik, Kini dan Nanti. Sejujurnya isi buku ini tidak berkaitan dengan skripsi yang kutulis. Hanya saja kata ‘Nanti’ yang terpampang di judulnya cukup mengusikku.

Setelah membaca dua paragraf teratas, kututup buku itu kemudian beralih pada layar laptop. Jemariku mengetuk-ketuk meja, sedangkan bibirku sibuk bergerak merapalkan dengan lirih satu demi satu kata yang sudah kutulis di sana. Sedangkan otakku — kosong. Aku tidak dapat menyerap makna dari kata-kata yang kutulis sendiri.

Kali ini kututup laptop putih empat belas inchi, dan kembali membuka buku sebelumnya.

“Lily ....”

Panggilan Mia membuat tatapanku beralih perlahan, seakan masih berat untuk mengalihkan perhatian dari buku.

“Kenapa?” tanyanya ketika pandangan kami bertemu.

“Kamu terlihat ... gelisah?”

Perkataannya sedikit bergetar, terlihat kalau dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya.

“Dari tadi aku mengulang satu pertanyaan, tetapi kamu nggak menjawabnya,” jelas Mia masih dengan pandangan khawatir.

“Atau lebih tepatnya — nggak mendengarnya.”

Dia mendekatkan tubuhnya ke sisi meja, sedikit membungkuk agar dapat melihatku jelas.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya.

“Apa karena insomniamu semalam, kamu jadi nggak enak badan?”

Aku menggeleng, mencoba menetralkan wajahku.

“Aku baik-baik saja,” jawabku ringkas.

Lihat selengkapnya