Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #7

Langkah yang Tertahan

Panggilan terputus. Tanganku bergetar. Bukan karena suhu pendingin ruangan yang semakin rendah, tetapi keringat dingin perlahan mengalir.

“Aku harus pulang sekarang!” putusku segera membereskan segala peralatan di atas meja, kemudian beranjak pergi.

Derap kakiku sedikit membahana di ruang baca. Padahal yang kugunakan hanya sepasang sneakers berwarna putih. Aku melirik sedikit pada jam yang bergantung di dinding dekat pintu keluar.

“Padahal dua puluh menit lagi sudah jam sembilan,” bisikku sedikit ragu dengan keputusanku.

Tetapi suara Bunda yang begitu tegas, cukup mengusik pikiranku.

“Kok sudah selesai?” sapa bu Rita yang ternyata sedang duduk di dekat pintu keluar.

“Apa kamu ada kelas sebentar lagi?”

Senyuman ramah kupaksakan keluar di tengah kalutnya pikiranku.

“Eh, oh, ndak, Bu,” jawabku sedikit tergagap.

“Saya ada urusan mendadak soalnya.”

Bu Rita masih menatapku dengan pandangan serius. “Kamu mahasiswa semester akhir, ‘kan?” tanyanya tiba-tiba.

“Sudah skripsi tentunya?”

“Iya.”

Bibirku menjawab lirih, namun ujung jari kakiku terus bergerak mengetuk-ketuk lantai. Berharap Bu Rita tidak mengajakku ngobrol lebih lama lagi. Pikiranku terlalu kacau saat ini, hanya untuk sekedar mengobrol basa-basi.

“Kamu harus fokus dengan skripsimu, jangan sampai terlambat lulusnya,” ucap beliau dengan perlahan karena harus mengatur napasnya.

“Jangan terlalu perfeksionis, atau malah menyepelekan skripsi.”

Bu Rita bersedekap. “Apalagi kalau masih ada mata kuliah yang masih kamu ambil. Kalau bisa semester ini kamu sudah fokus hanya dengan skripsimu.”

Aku tak mengeluarkan satu patah kata pun. Membiarkan Bu Rita mengeluarkan uneg-unegnya. Entah mahasiswanya yang mana, yang membuatnya tampak sedikit kesal.

“Iya, Bu,” ucapku pelan.

“Kalau begitu saya pamit dulu, Bu. Ada keperluan yang harus saya selesaikan.”

Bu Rita hanya mengangguk, sedangkan aku melemparkan senyuman sopan, berjalan cepat menuju loker penyimpanan untuk mengambil tas dan jaket, kemudian bergegas pergi keluar ruangan. Sedikit berlari menuju lift, menekan tombol panah ke bawah. Aku sedikit cemas melihat angka di papan monitor lift masih menunjukkan angka satu cukup lama.

“Ada apa sebenarnya?” gumamku.

Suara Bunda menggema di kepala.

“Apa sebaiknya kutelepon lagi?”

“Uhuk ... uhuk ....”

Suara batuk kembali terdengar, aku menoleh menatap pintu kaca yang saat ini berjarak hampir satu meter di belakangku. Bu Rita sibuk membaca buku dengan kacamata ditambah kaca pembesar, sambil sesekali menoleh pada perempuan yang duduk di sebelahnya.

“Apa aku salah dengar?”

Udara dingin menusuk kembali terasa. Aku mengenakan jaket berwarna merah, tak lupa tutup kepalanya menutup jilbabku. Tubuhku menggigil, bersamaan dengan pintu lift terbuka. Aku melangkah menyamping, mempersilakan orang-orang di dalam lift keluar terlebih dulu. Sesaat memasuki lift, aku menoleh cepat ke sekitar lalu menunduk. Tak ada yang kukenal di sini. Mungkin karena mahasiswa baru lebih dominan di kampus saat ini.

Aku menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselku. Sesekali melihat angka di sisi atas lift. Tepat pintu terbuka di lantai satu. Kumasukkan ponsel ke dalam saku, dengan langkah tegap — sedikit tergesa berjalan melewati lobby menuju parkir sepeda motor.

“Kamu sudah mau balik, Ly?”

Suara yang tak asing menghentikan langkahku tepat sebelum menyeberang ke tempat parkir. Mia mendekat, kali ini wajahnya tampak begitu cerah. Mungkin karena akhirnya tubuhnya mendapatkan asupan pagi.

“Iya, aku harus segera pulang,” jawabku jujur dan tergesa.

“Kok tiba-tiba?” tanyanya, tidak menyadari sinyal buru-buru dari diriku.

Lihat selengkapnya